Bab 2: Jejak di Balik Kesunyian
Angin berhembus lembut, mengibarkan helai rambut Aira yang terurai. Di hadapannya, Danial masih menunduk memeluk buku puisi itu erat-erat, seolah itu satu-satunya peninggalan berharga yang tersisa baginya.
"Aku... tidak bermaksud membuka luka lama kamu," ucap Aira lagi pelan, suaranya hampir tenggelam oleh bunyi daun yang bergesekan. "Kalau kamu tidak ingin membicarakannya, tidak apa-apa kok."
Danial menggeleng perlahan, lalu mendongak menatapnya. Tatapannya tidak lagi dingin seperti saat pertama kali masuk kelas tadi. "Bukan apa-apa. Jarang ada orang yang mau bertanya dengan tulus. Kebanyakan hanya penasaran, lalu pergi begitu saja."
Aira duduk perlahan di rumput, tidak terlalu dekat namun cukup untuk mendengarnya dengan jelas. "Aku mengerti rasanya. Sejak kecil, aku sering pindah mengikuti tugas ayah. Rasanya sulit menemukan teman yang benar-benar mau mendengar."
"Kamu juga?" Danial sedikit terkejut.
"Iya. Jadi aku tahu betapa sepinya kalau kita merasa asing di tempat baru," senyum Aira tulus. "Kakakmu... pasti orang yang sangat baik ya?"
Wajah Danial melembut. Jari-jarinya mengusap sampul buku lusuh itu perlahan. "Namanya Kak Dira. Dia suka sekali melukis langit dan menulis puisi tentang awan. Katanya, langit itu luas, bisa menampung semua kesedihan dan kebahagiaan manusia. Setiap kali aku sedih, dia selalu mengajakku duduk melihat langit."
"Kenangan yang indah sekali," bisik Aira.
"Dia pergi karena kecelakaan setahun lalu," lanjut Danial pelan. "Sejak itu, aku merasa seolah bagian dari diriku ikut hilang. Aku berhenti bicara banyak, berhenti tertawa... sampai hari ini."
Bel berbunyi nyaring memecah keheningan. Danial segera berdiri, menyembunyikan sedikit genangan air matanya. "Kita masuk ke kelas yuk. Pelajaran akan dimulai lagi."
Sepanjang jam pelajaran, Aira sesekali melirik ke arah sudut belakang. Danial kembali menatap ke luar jendela, namun kali ini ada sedikit perubahan di wajahnya—tidak lagi sepi seperti pagi tadi.
Saat jam sekolah berakhir, murid-murid berhamburan keluar gerbang. Aira yang sedang merapikan buku di mejanya, mendengar suara langkah kaki mendekat.
"Aira..."
Itu suara Danial. Pemuda itu berdiri di dekat mejanya, sedikit ragu-ragu.
"Ya?" Aira mendongak.
Danial mengulurkan selembar kertas kecil yang dilipat rapi. "Ini... puisi yang pernah ditulis Kak Dira. Aku ingin memberikannya padamu. Sebagai tanda terima kasih, karena kamu tidak memandangku aneh."
Aira menerima kertas itu dengan hati-hati. "Terima kasih banyak, Danial. Aku akan menyimpannya dengan baik."
"Sampai jumpa besok," Danial tersenyum tipis—senyum pertama yang dilihat Aira darinya—lalu berjalan pergi meninggalkan kelas.
Di balik jendela, matahari mulai terbenam, melukis langit dengan warna jingga keemasan. Aira membuka lipatan kertas itu, terbaca baris kalimat yang indah:
"Langit tak pernah berubah, hanya awannya yang berpindah. Hati yang tulus, akan selalu menemukan jalan pulang."
Aira tersenyum lembut memandang langit sore itu. Entah mengapa, ia merasa persahabatan yang baru saja dimulai ini, akan membawa cerita yang tak terlupakan bagi mereka berdua.