Bab 1: Pertemuan yang Tak Direncanakan
Hujan turun rintik-rintik sejak pagi, membasahi halaman SMA Seri Mutiara yang dipenuhi pohon angsana. Aira menyeka kaca jendela kelas dengan ujung lengan bajunya, mencoba melihat ke luar meskipun kabut tipis masih menyelimuti pemandangan itu. Hari ini adalah hari pertamanya di kelas XI IPA 2, namun hatinya terasa seberat langit yang kelabu.
"Kenapa termenung saja, Aira?" sapa Lina, teman sebangkunya yang baru dikenalnya dua hari lalu. Gadis itu meletakkan buku catatan di meja, senyumnya manis seperti matahari yang baru muncul.
Aira tersenyum tipis, lalu membalas perlahan, "Tidak apa-apa. Hanya saja... rasanya belum terbiasa. Pindah sekolah di pertengahan semester memang tidak mudah."
"Itu pasti. Tapi jangan khawatir, di sini semua orang ramah. Nanti aku perkenalkan dengan teman-teman yang lain ya," ujar Lina penuh semangat.
Bel berbunyi nyaring, memecah keheningan kelas. Guru Bahasa Melayu, Cikgu Hamzah, melangkah masuk dengan senyum ramah. Namun, di belakangnya terlihat sosok pemuda yang berjalan pelan, wajahnya datar seolah tak peduli pada sekelilingnya.
"Anak-anak, hari ini kita kedatangan satu lagi murid pindahan," kata Cikgu Hamzah sambil menunjuk pemuda itu. "Namanya Danial. Silakan perkenalkan dirimu, Danial."
Danial mengangkat wajah sekilas, suaranya rendah namun jelas terdengar, "Aku Danial. Itu saja."
Tanpa menunggu lebih lama, ia berjalan menuju bangku kosong di sudut belakang—tepat di sebelah jendela yang berseberangan dengan tempat duduk Aira. Sepanjang jam pelajaran berlangsung, ia tak pernah sekalipun mengangkat kepala untuk mencatat atau bertanya. Matanya hanya terpaku ke luar jendela, seolah ada sesuatu yang sangat berharga di sana.
Saat jam istirahat tiba, suasana kelas menjadi riuh. Aira berjalan ke halaman sekolah untuk mencari udara segar. Di bawah pohon rindang, ia melihat Danial duduk sendirian, memegang sebuah buku tua yang sampulnya sudah lusuh. Tanpa sengaja Aira melangkah mendekat, dan saat itulah ia melihat tulisan di sampul buku itu: Kumpulan Puisi Langit.
"Itu buku puisi?" tanya Aira tanpa sadar.
Danial menutup buku itu dengan cepat, menatap Aira dengan tatapan yang sulit dimengerti—sedikit terkejut, namun juga seolah ada kesedihan yang tersembunyi. "Kau mengintip?" suaranya sedikit tajam.
"Maaf... aku tidak bermaksud begitu. Hanya saja aku juga suka puisi," jawab Aira dengan lembut, tak ingin membuatnya tersinggung.
Danial terdiam sejenak, lalu perlahan ucapannya melunak. "Buku ini milik kakakku. Dia sangat menyukai langit dan puisi."
"Apakah kakakmu bersekolah di sini juga?" tanya Aira lagi.
Pemuda itu menunduk dalam, tangannya meremas pinggiran buku. "Dia sudah tiada. Setahun yang lalu..."
Aira terdiam seribu bahasa. Rasa bersalah menyelimuti hatinya karena telah menanyakan hal yang menyakitkan. "Maafkan aku... aku tidak tahu."
"Tidak apa-apa," ucap Danial pelan, lalu menatap langit yang mulai cerah sedikit demi sedikit. "Dia selalu bilang, setiap awan yang bergerak membawa pesan dari orang yang kita cintai."
Saat itu, seolah ada benang halus yang menghubungkan hati mereka berdua. Aira merasa ada cerita mendalam di balik kesunyian pemuda itu—dan entah mengapa, ia ingin mengetahuinya lebih jauh.