Hujan turun pelan ketika Arga pulang dari sekolah. Langit kelabu membuat jalanan terlihat sepi. Saat melewati halte tua yang sudah lama tidak digunakan, ia melihat seorang gadis duduk sendirian sambil membaca buku.
Rambutnya hitam panjang, matanya berwarna keemasan, dan senyumnya begitu hangat.
"Apa kamu menunggu seseorang?" tanya Arga.
Gadis itu menutup bukunya lalu tersenyum.
"Mungkin... atau mungkin aku hanya menunggu waktu."
Jawaban itu terdengar aneh, tetapi Arga tidak ingin bertanya lebih jauh. Sejak hari itu mereka selalu bertemu di halte yang sama. Mereka berbagi cerita, bercanda, bahkan saling bertukar impian.
Namanya adalah Livia.
Livia ingin melihat lautan yang luas.
Arga ingin menjadi penulis terkenal.
Mereka berjanji suatu hari nanti akan mewujudkan impian masing-masing.
Namun, ada satu hal yang selalu membuat Arga penasaran.
Livia selalu pergi sebelum matahari terbit.
"Aku tidak boleh berada di sini saat fajar datang," katanya.
Arga menganggap itu hanya alasan aneh.
Hingga suatu malam, ia memutuskan untuk diam-diam mengikuti Livia.
Saat cahaya pertama matahari menyentuh tubuh gadis itu, sosoknya perlahan berubah menjadi butiran cahaya.
Arga terpaku.
"Livia...!"
Livia menoleh sambil tersenyum.
"Aku bukan manusia."
Air mata Arga menetes.
"Aku adalah penjaga waktu yang tersesat di dunia ini. Setiap malam aku bisa bertemu denganmu, tetapi setiap fajar aku harus kembali."
"Kalau begitu jangan pergi!"
"Aku ingin tetap di sisimu... tapi waktu tidak pernah berhenti."
Tubuh Livia semakin transparan.
"Arga... tolong jadilah penulis. Tuliskan kisah kita agar aku tidak pernah benar-benar dilupakan."
Dalam sekejap, Livia menghilang bersama cahaya matahari.
Hari-hari berlalu.
Halte tua itu kini kosong.
Tak ada lagi gadis yang membaca buku.
Tak ada lagi senyum hangat yang menyambut Arga.
Bertahun-tahun kemudian, Arga menjadi seorang penulis terkenal. Buku pertamanya berjudul Aku dan Gadis yang Menghilang Saat Fajar.
Saat acara peluncuran buku, seorang gadis kecil menghampirinya.
"Om, ceritanya sedih, tapi indah."
Arga tersenyum.
"Karena itu kisah seseorang yang benar-benar pernah ada."
Ketika ia menatap langit pagi, embusan angin lembut menyentuh wajahnya.
Entah mengapa, ia merasa mendengar suara yang sangat dikenalnya.
"Terima kasih... Arga."
Ia tersenyum sambil menahan air mata.
Mungkin, beberapa pertemuan memang tidak ditakdirkan untuk selamanya.
Namun, selama masih ada seseorang yang mengingat, sebuah perpisahan tidak akan pernah benar-benar menjadi akhir.
Tamat