Elvano selalu suka aroma laut saat sore. Namun, tidak dengan badai yang tiba-tiba mengamuk sore itu di jembatan melengkung Pantai Ancol. Hujan deras mulai menghantam papan-papan kayu dermaga dengan kasar. Di tengah kepungan air, seorang gadis bergaun putih yang sudah basah kuyup berlari pelan ke arah restoran bertenda putih tempat Elvano berteduh.
Gadis itu menangis sesenggukan. Bukan karena takut petir, melainkan karena hatinya baru saja hancur; ditinggal pergi begitu saja oleh kekasihnya di tempat ini. Nama gadis itu Freya. Meski matanya sembap dan rambutnya berantakan diterpa angin laut, kecantikan alaminya sama sekali tidak pudar. Ada aura anggun yang membuat siapapun yang melihatnya akan langsung terpaku.
Melihat Freya yang begitu rapuh dan kalut oleh badai di hatinya, Elvano—yang sehari-hari bekerja sebagai fotografer lokal—menyodorkan jaket denimnya tanpa banyak bicara. Wajahnya yang cool tetap tenang, mencoba tidak mengusik privasi gadis itu.
Sejak sore yang basah itu, Elvano merawat segenap sepi yang Freya bawa. Selama berbulan-bulan, ia selalu ada menemani malam-malam Freya yang patah. Elvano menjadi pendengar yang baik untuk segala keluh kesah Freya, perlahan-lahan menuntun gadis itu keluar dari traumanya.
Suatu malam di kedai kopi dekat pantai, Gibran, sahabat karib Elvano, menatapnya dengan cemas sambil mengaduk kopi hitamnya yang mulai dingin.
"El, gue perhatiin lo makin dalam masuk ke hidup Freya. Jangan sampai lo lupa batas," tegur Gibran. Suaranya terdengar serius di antara bising angin malam.
Elvano hanya menatap lurus ke arah ombak. Wajahnya tidak menunjukkan emosi sedikit pun.
"Gue cuma bantu dia sembuh, Bran. Enggak lebih."
"Masalahnya, dia itu cuma cari tempat berlindung dari badai masa lalunya," sahut Gibran sambil menepuk pundak sahabatnya itu. "Dermaga itu gunanya buat kapal bersandar pas cuaca buruk, El. Begitu cuacanya cerah lagi, kapal itu bakal berlayar pulang. Jangan sampai lo yang hancur sendirian pas dia pergi."
Elvano terdiam sejenak. Ia menyesap kopinya perlahan sebelum akhirnya menjawab dengan nada datar namun sarat akan kepasrahan. "Gue tahu risikonya, Bran. Tapi kalau takdir dermaga memang harus ditinggalkan setelah badai reda, gue enggak peduli. Seenggaknya, gue pernah jadi tempat dia merasa aman."
Peringatan Gibran akhirnya benar-benar menjadi kenyataan.
Waktu berlalu, hingga luka di hati Freya benar-benar surut. Sore itu, di bawah langit Ancol yang cerah, pelangi di wajah Freya kembali tertawa. Namun, senyum itu bukan untuk Elvano. Freya datang menemui Elvano di ujung jembatan dermaga dengan langkah yang mantap. Tidak ada lagi keraguan di matanya.
Di tangannya, Freya membawa sebuah tas jinjing berisi jaket denim milik Elvano—jaket yang sama yang dipinjamkannya saat malam badai itu. Freya mengeluarkannya dan menyodorkannya kepada Elvano dengan senyum tulus yang amat manis.
"El, makasih banyak untuk semuanya. Jaket ini... aku balikin ya," ucap Freya lembut. "Dan ini... aku harap kamu bisa datang."
Freya menyelipkan sebuah undangan pernikahan berwarna putih gading di atas lipatan jaket itu. Di sana, tertera nama emas yang sangat rapi: Freya Clarissa & Raka Arkhananta. Mantan kekasihnya telah kembali, meminta maaf, dan Freya memilih untuk melangkah pulang ke pelukan masa lalunya.
Elvano menerima jaket dan undangan itu dengan tangan yang sedikit kaku. Tatapannya kosong, menatap kain denim yang kini tercium aroma parfum Freya, bukan lagi aroma hujan. Elvano hanya bisa berdiri terpaku di jembatan melengkung itu, menyadari kebenaran kata-kata Gibran. Ia tidak pernah menjadi rumah bagi Freya, melainkan sekadar tempat singgah sementara saat badai datang.
Kini dia tersadar; dia merawat sepi Freya, menemani malam-malamnya yang patah, hanya untuk ditinggalkan bersama kesunyian yang utuh begitu gadis itu sembuh.
— TAMAT —