— How can we rewrite the stars? Say that the world can be ours, tonight.
---
Malam itu suasananya sunyi. Di langit malam yang indah, bintang-bintang berhamburan. Indah banget.
Seolah-olah mereka nunjukin kalau gelap itu bakal kelihatan indah kalau nemu cahaya yang bener-bener sesuai sama gelapnya.
Seperti bintang dan bulan...
Mereka ada di sana menerangi gelapnya langit. Sejujurnya, sedari tadi di bawah langit yang indah itu, ada jiwa yang tengah duduk di hamparan rumput yang bergoyang ngikutin ritme angin yang jahat.
Angin itu nggak bawa hangat atau dingin. Ia justru bawa pedih yang paling kejam.
Jiwa itu hanya diam, tapi netranya menatap ke atas. Indah, ucapnya di kepala.
Ia termenung sambil sesekali mengusap buliran bening yang turun dari kelopak matanya. Bahunya gemetar, bukan karena dingin. Tapi karena dia terlalu takut.
Ia bukan takut karena gelap. Tapi takut pada takdir yang kejam.
---
Ia begitu takut. Seperti jika ia mengikuti takdir itu, ia akan hilang selamanya tanpa jejak.
Karena— takut yang sebenarnya adalah takut jika ia tenggelam dalam gelapnya takdir itu sendiri. Bukan takut karena pedihnya dunia.
Dan, jahat yang paling jahat itu— adalah tatapan. Ia seolah memberi harapan tanpa kepastian yang sejujurnya.
---
Jiwa itu masih setia di sana. Ia bahkan tak bergeming sedikit pun. Dadanya sesak. Bukan sesak karena penyakit. Tapi sesak karena selama ini ia harus berpura-pura dalam takdir yang tak pernah ia inginkan.
Bukan apa-apa. Ia hanya bersiap. Karena tak ada yang tahu... ia takut.
Ia mencintai sesosok jiwa lain, yang juga mencintainya. Namun, terkadang takdir bisa berbalik sangat jahat.
----
Tapi kenyataan yang paling sesak adalah, ia dan sosok jiwa itu. Saling mencintai...
Tapi, hubungan mereka dianggap mustahil atau tidak ditakdirkan untuk bersatu oleh norma sosial yang berlaku.
----
Original by mee... Thankss!!!
(Dont copyy! Ini murni cerita yang tiba tiba terlintas di benak author eheh)
Awal ketik (20.34) selesai ketik (21.29)