Halo, ini aku.
Aku yang selalu menatapmu dari balik layar yang dingin, dari jarak yang tidak bisa kutempuh dengan kaki.
Aku mencintaimu sejak pertama kali suaramu masuk ke kamarku lewat sepasang earphone murahan. Sejak itu, hatiku belajar satu nama yang tidak akan pernah kumiliki.
Aku bukan siapa-siapa di dunia ini. Aku tidak punya sorotan lampu, tidak punya tepuk tangan, tidak punya nama yang akan disebut dalam wawancaramu. Aku hanya seorang biasa yang hidupnya berjalan pelan di sudut yang tidak akan pernah kamu lihat.
Kamu ada di poster, di layar, di kata-kata orang. Aku ada di kamar sempit, di antara bantal yang kupeluk setiap malam. Cintaku tumbuh diam-diam, seperti lumut di dinding yang tidak pernah disentuh matahari.
Aku tidak pernah bertemu denganmu. Dan mungkin itu yang membuat cintaku tetap utuh. Karena yang tidak pernah disentuh tidak akan pernah patah oleh kenyataan.
Aku menghafal cara kamu tersenyum miring saat kamera menyorotmu. Aku mengingat nada suaramu ketika kamu lelah, ketika kamu bercanda, ketika kamu diam. Aku menyimpan semua itu di dadaku, rapat, seakan itu harta yang tidak boleh hilang.
Setiap kali kamu muncul di berita, jantungku berlari lebih cepat dari seharusnya. Aku membaca setiap huruf tentangmu dengan hati-hati, takut melewatkan satu kata yang mungkin bisa kujadikan alasan untuk tetap mencintaimu hari ini.
Aku tahu aku tidak penting. Aku tahu di antara jutaan orang yang memanggil namamu, suaraku adalah gema yang tidak pernah sampai. Aku tidak marah. Aku hanya sedih, pelan, tanpa suara.
Aku mencintaimu tanpa izin. Tanpa persetujuanmu. Tanpa kamu perlu tahu. Cinta ini liar, tidak sopan, tidak meminta tempat. Ia hanya tinggal, dan aku membiarkannya.
Ada malam-malam di mana aku membayangkan kamu menoleh ke arahku. Hanya sedetik. Hanya cukup untuk membuatku percaya bahwa aku ada. Lalu pagi datang, dan aku kembali menjadi penonton.
Aku menulis surat-surat yang tidak akan pernah kukirim. Aku menulis namamu di ujung pena, lalu menghapusnya karena takut semesta menertawakanku. Aku menuliskan rinduku dalam puisi yang tidak pernah selesai, karena akhir selalu terasa salah.
Aku mencintaimu di hari kamu bahagia. Aku mencintaimu di hari kamu jatuh. Aku mencintaimu di hari kamu tidak tahu aku sedang patah. Cintaku tidak bersyarat, dan itu luka yang paling jujur yang pernah kurasakan.
Orang bilang mencintai orang jauh itu bodoh. Mungkin benar. Tapi bagaimana aku bisa berhenti mencintai sesuatu yang membuatku tetap hidup? Kamu adalah alasan aku menata rambut, alasan aku belajar tersenyum di cermin, alasan aku percaya bahwa indah itu ada.
Aku tidak pernah menuntutmu datang. Aku tidak pernah meminta kamu memilihku. Aku hanya ingin kamu tetap bersinar, meski cahayamu tidak pernah menyentuhku. Itu cukup. Itu sekaligus tidak cukup.
Ada rasa yang tumbuh setiap kali aku melihatmu menggenggam tangan orang lain. Dadaku sesak, tapi bibirku tetap tersenyum. Aku mengucap selamat dalam hati, lalu menangis pelan ketika lampu kamarku padam.
Aku belajar hidup dengan jarak. Aku belajar mencintai tanpa jawaban. Aku belajar bahwa ada cinta yang tidak butuh balasan, hanya butuh tempat untuk disimpan.
Kadang aku membayangkan andai kita pernah bertemu di lampu merah, di toko buku, di hujan yang sama. Tapi aku cepat-cepat menutup bayangan itu. Karena aku tahu, kenyataan akan lebih sakit dari kerinduan.
Aku menjaga cintaku seperti menjaga luka yang tidak boleh sembuh. Aku tidak mengobatinya. Aku menjaganya tetap menganga, karena jika ia sembuh, aku tidak akan punya alasan untuk mengingatmu lagi.
Tahun berganti. Kamu berubah, kamu tumbuh, kamu menjadi lebih jauh lagi. Aku pun berubah. Aku menjadi orang yang lebih tua, dengan mata yang lebih lelah, tapi dengan cinta yang tidak ikut menua. Ia tetap muda, tetap bodoh, dan menolak untuk selesai.
Aku masih menontonmu. Masih mendengarkanmu. Masih menyimpanmu di bagian paling dalam dari dadaku, di tempat yang tidak bisa dijangkau siapa pun.
Aku tidak pernah meminta dunia memberiku kamu. Aku hanya meminta waktu untuk tetap mencintaimu tanpa harus melepaskannya.
Dan waktu mengabulkan. Ia memberiku hari-hari panjang untuk merindukanmu tanpa gangguan. Ia memberiku malam-malam sunyi untuk memeluk rinduku sendiri.
Aku tidak menyesal. Aku tidak akan menukar cinta ini dengan cinta yang bisa kugenggam. Karena cinta ini murni, karena ia tidak pernah kotor oleh kecewa yang nyata.
Kamu tidak akan pernah tahu ada manusia di sudut tempat yang hidupnya menjadi lebih lembut karena kamu. Kamu tidak akan pernah tahu ada doa yang kamu tidak minta, tapi tetap dipanjatkan untukmu.
Aku bukan bagian penting dalam duniamu. Aku tahu itu sejak awal. Aku hanya baris kecil di catatan yang tidak pernah kamu buka.
Tapi di duniaku, kamu adalah seluruh bab. Kamu adalah pembuka, isi, dan sesuatu yang tidak pernah kutemukan penutupnya.
Aku mencintaimu dengan cara yang paling sepi. Aku mencintaimu dengan cara yang paling utuh.
Jika suatu hari kamu membaca ini, jangan cari aku. Aku tidak ada di mana-mana. Aku hanya ada di antara kata-kata yang tidak pernah kamu dengar.
Jika suatu hari kamu melupakan wajahku yang bahkan tidak pernah kamu lihat, aku tidak akan marah. Karena untuk tidak mengingatnya adalah hakmu.
Aku akan tetap di sini. Menjadi gema yang tidak bersuara. Menjadi bayangan yang tidak menuntut bentuk.
Aku mencintaimu hari ini. Aku akan mencintaimu besok. Aku akan mencintaimu sampai hatiku lelah menyebut namamu.
Halo, ini aku.
Yang tidak pernah dapat meraihmu.
Dan itu saja.