01.Sisa Makanan di Meja Makan
Aroma semur daging sapi buatan Ibu memenuhi seluruh penjuru rumah. Elin menelan ludah. Perutnya sudah berbunyi sejak pulang sekolah tadi. Namun, ia tahu diri. Ia tidak boleh menyentuh makanan itu sebelum kakaknya, Arya, dan Ayah pulang.
Tepat jam tujuh malam, pintu depan terbuka. Suara tawa Arya langsung memecah keheningan. Arya baru saja memenangkan lomba basket tingkat provinsi. Ayah merangkul bahu Arya dengan bangga, sementara Ibu langsung menyambut mereka dengan senyuman paling cerah yang jarang sekali Elin lihat.
"Anak Ayah hebat sekali! Malam ini kita merayakan kemenanganmu," kata Ayah sambil menepuk-nepuk dada Arya.
Mereka bertiga duduk di meja makan. Elin perlahan mendekat, lalu duduk di kursi paling ujung. Sunyi. Kedatangan Elin tidak mengubah atmosfer kebahagiaan di sana. Ibu sibuk menyendokkan nasi ke piring Ayah dan Arya. Sementara piring Elin tetap kosong.
"Bu, Elin boleh minta dagingnya?" tanya Elin pelan, hampir berbisik.
Ibu menoleh, tatapannya mendadak dingin. "Dagingnya cuma cukup untuk Ayah dan Kakakmu. Mereka butuh energi. Kamu makan tahu dan tempe saja di lemari makan. Jangan serakah, Elin."
Elin tertegun. Ia melihat potongan daging di mangkuk yang sebenarnya masih sangat banyak. Dada Elin terasa sesak, seperti dihantam batu besar. Ia memandang Ayah, berharap ada pembelaan. Namun, Ayah bahkan tidak mengalihkan pandangan dari ponselnya.
"Kenapa selalu Kak Arya, Bu?" Kalimat itu lolos begitu saja dari bibir Elin. Suaranya bergetar. "Elin hari ini juga dapat nilai seratus di ujian matematika. Elin juga anak Ibu dan Ayah. Aku juga anakmu..."
Meja makan mendadak hening. Ayah meletakkan ponselnya dengan kasar. "Elin! Jaga sopan santunmu. Jangan merusak suasana malam ini dengan rengekanmu yang tidak penting!"
Air mata yang sejak tadi ditahan Elin akhirnya jatuh. Ia berdiri dari kursi, meninggalkan meja makan tanpa menyentuh makanan sama sekali. Di dalam kamar yang gelap, ia menangis dalam diam. Pertanyaan yang sama selalu berputar di kepalanya: Kalau aku memang anak kandung mereka, mengapa rasanya aku seperti orang asing di rumah ini?
------------------------------
Berikut adalah Bab 2 yang sudah diperbarui dengan menggunakan nama Elin sebagai tokoh utama agar alur cerita novelmu tetap selaras dan konsisten:
## Aku Juga Anakmu## Bab 2: Piagam yang Tak Berarti
Pagi berikutnya, rumah sudah kembali sepi saat Elin terbangun. Ayah sudah berangkat kerja, Ibu mengantar Arya untuk sesi latihan basket pagi, dan di meja makan hanya tersisa selembar uang sepuluh ribu rupiah dengan catatan pendek dari Ibu: Beli sarapan sendiri.
Elin menghela napas panjang. Ia meremas uang itu. Bukan nominalnya yang ia sesali, melainkan rasa abai yang terus-menerus ia terima. Namun, hari ini Elin bertekad tidak mau larut dalam kesedihan. Hari ini adalah pengumuman hasil Lomba Karya Ilmiah Remaja tingkat kota, dan Elin tahu ia telah memberikan yang terbaik.
"Aku pasti bisa membuat Ayah dan Ibu bangga," bisik Elin pada dirinya sendiri di depan cermin.
------------------------------
Sore harinya, Elin pulang dengan langkah kaki yang ringan. Di tangannya, ia mendekap erat sebuah map batik besar. Di dalamnya ada piagam penghargaan dan medali perak. Elin berhasil meraih juara kedua.
Saat melangkah masuk ke rumah, ia melihat Ayah dan Ibu sedang duduk di ruang keluarga. Mereka sedang asyik menonton video pertandingan basket Arya di televisi.
"Ayah, Ibu..." panggil Elin dengan suara yang sengaja diceriakan.
Ibu menoleh sekilas. "Oh, sudah pulang. Taruh tasmu, lalu bantu Ibu bersihkan halaman belakang."
Elin tidak beranjak. Ia justru berjalan mendekat ke sofa dan menyodorkan map batik serta medalinya ke hadapan Ayah. "Ayah, lihat ini. Elin juara dua lomba karya ilmiah se-kota. Elin dapat piala dan beasiswa uang saku untuk enam bulan ke depan."
Ayah mengambil map itu, membukanya selama tiga detik, lalu meletakkannya begitu saja di atas meja kopi.
"Baguslah," kata Ayah datar. "Tapi lain kali, fokus pada pelajaran sekolah yang benar. Jangan sibuk ikut lomba-lomba begini kalau ujung-ujungnya cuma juara dua. Kakakmu selalu bawa pulang juara satu."
Ibu menimpali tanpa melihat ke arah Elin. "Iya, lagian uang sakunya tidak seberapa kan? Masih harus dipotong biaya pendaftaran kemarin? Jangan membuat Ayah dan Ibu repot."
Kata-kata itu bagai petir di siang bolong bagi Elin. Medali perak yang diraihnya dengan begadang berminggu-minggu, tidak lebih berharga dari sekedar video latihan Arya di mata mereka. Rasa hangat yang sempat terbit di dadanya seketika membeku menjadi rasa sakit yang teramat sangat.
Elin mengambil kembali map dan medalinya. Ia menatap kedua orang tuanya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Bagi Ayah dan Ibu, apa pun yang Elin lakukan memang tidak pernah ada gunanya ya?" suara Elin bergetar, menahan tangis yang siap meledak.
Ayah mengerutkan kening, mulai merasa terganggu. "Elin, jangan mulai lagi—"
"Aku cuma mau dianggap, Yah!" potong Elin, suaranya meninggi karena luka yang sudah terlalu lama dipendam. "Aku belajar sampai subuh, aku hemat uang jajan untuk beli bahan penelitian, semuanya supaya Ayah dan Ibu senyum ke Elin seperti Ayah senyum ke Kak Arya! Apa sesulit itu untuk bilang 'kerja bagus, Elin'? Aku juga anak kandung kalian!"
Ibu berdiri dari sofa, wajahnya menegang. Sebelum Ibu sempat melontarkan kata-kata amarahnya, Elin sudah berbalik dan berlari kencang keluar dari rumah, mengabaikan panggilan namanya yang sayup-sayup terdengar. Elin terus berlari menembus jalanan sore, tanpa tahu ke mana ia harus pergi.
-----------------------------