Hujan deras malam itu membuat jalanan kota tampak berkilau oleh lampu-lampu mobil. Aria berdiri di depan gedung tinggi milik perusahaan besar—tempat di mana hidupnya akan berubah.
Ia hanya seorang karyawan magang biasa. Tapi malam ini, ia dipanggil langsung oleh CEO yang bahkan belum pernah ia lihat secara dekat.
Pintu lift terbuka.
Seorang pria tinggi, berjas hitam, berdiri dengan tatapan dingin. Semua orang di perusahaan takut padanya.
“Jadi kamu Aria?” suaranya datar, tanpa emosi.
“I-iya, Pak…” jawab Aria gugup.
CEO itu menatapnya lama, seperti sedang membaca sesuatu yang tersembunyi di dirinya.
“Mulai hari ini, kamu akan bekerja langsung di bawah pengawasan saya.”
Aria terkejut. “Saya? Kenapa saya?”
Pria itu membuang pandangan ke arah jendela besar gedung.
“Karena kamu satu-satunya orang yang tidak takut pada saya.”
Hari-hari berikutnya, Aria mulai mengenal sisi lain CEO itu. Di kantor, ia dingin dan menakutkan. Tapi setiap malam, ia selalu terlihat duduk sendiri, menatap foto lama yang tidak pernah ia jelaskan.
Sampai suatu malam…
Aria tidak sengaja melihat foto itu. Seorang wanita tersenyum di dalamnya.
“Siapa dia?” tanya Aria pelan.
Ruangan menjadi sunyi.
Wajah CEO itu berubah untuk pertama kalinya—bukan dingin, tapi penuh luka.
“Itu satu-satunya orang yang membuat saya berhenti percaya pada cinta.”
Aria terdiam.
Namun tanpa ia sadari, hatinya mulai terlibat lebih dalam dari yang seharusnya.