Langit bulan Juni seharusnya teduh. Musim telah lama mengeringkan dedaunan, dan angin berembus pelan membawa aroma tanah yang menanti hujan berikutnya. Namun, pagi itu, rintik-rintik jatuh tanpa aba-aba. Seolah langit sedang menyampaikan rahasia yang hanya dimengerti oleh hati-hati yang pernah kehilangan.
Aku berdiri di bawah beranda tua, membiarkan pandangan hanyut bersama tirai hujan. Setiap tetesnya bagai aksara yang ditulis langit di atas bumi, lalu lenyap sebelum sempat kubaca hingga usai.
Hujan bulan Juni memang selalu pandai menyimpan sesuatu. Ia tak datang dengan gemuruh yang menakutkan, melainkan dengan kelembutan yang diam-diam mengoyak dada. Seperti rindu yang tak pernah meminta untuk dipahami, tetapi terus hidup dalam diam.
Di tempat yang sama, aku pernah melihatnya tersenyum. Senyumnya sederhana, tetapi mampu membuat dunia terasa lebih ramah. Ia berkata bahwa hujan adalah cara langit memeluk bumi yang terlalu lama menahan haus.
Sejak hari itu, setiap kali hujan turun pada bulan Juni, aku selalu percaya bahwa langit sedang mengenang seseorang.
Musim berganti tanpa meminta izin. Pohon-pohon kembali merimbun, bunga-bunga belajar mekar, dan waktu melangkah tanpa pernah menoleh ke belakang. Hanya aku yang masih sesekali berhenti, memungut serpihan kenangan yang tertinggal di sudut ingatan.
Konon, kenangan adalah hujan yang tak pernah benar-benar selesai. Ia hanya berpindah dari langit menuju hati, lalu menetap menjadi genangan yang tak terlihat.
Aku pernah berusaha melupakan. Namun, melupakan seseorang yang pernah menjadi rumah bukanlah perkara semudah memejamkan mata. Sebab, yang paling sulit dilepaskan bukan kehadirannya, melainkan kebiasaan mengingatnya.
Rintik-rintik itu semakin rapat. Daun-daun menunduk, seakan ikut memikul beban yang sama. Angin membawa harum tanah basah, sementara langit tetap setia menumpahkan air mata yang tak pernah ditanyakan sebabnya.
Barangkali begitulah cinta.
Ia tidak selalu datang untuk dimiliki. Kadang ia hanya singgah, mengajarkan cara mencintai dengan tulus, lalu pergi meninggalkan hati yang harus belajar menerima.
Aku mengangkat wajah ke langit. Setetes hujan jatuh tepat di pelupuk mata. Entah air hujan atau air mata, keduanya sama-sama lahir dari awan yang terlalu penuh untuk terus menyimpan luka.
Di ujung senja, hujan akhirnya reda. Matahari muncul malu-malu di balik cakrawala, menghadiahkan cahaya keemasan yang memeluk bumi dengan hangat. Saat itulah aku mengerti bahwa setiap hujan selalu memiliki akhir, sebagaimana setiap kesedihan perlahan akan menemukan damainya.
Aku tersenyum kecil.
Bukan karena telah melupakan, melainkan karena telah belajar menerima. Sebab, ada rindu yang tak harus dipertemukan, ada cinta yang tak harus memiliki, dan ada hujan bulan Juni yang ditakdirkan hanya untuk mengajarkan bahwa keikhlasan sering kali turun tanpa suara.
Sejak hari itu, setiap kali Juni kembali membawa hujan, aku tak lagi memintanya menghadirkan seseorang yang telah pergi. Aku hanya meminta agar setiap tetesnya mampu menyirami hati yang pernah retak, hingga kelak tumbuh menjadi taman yang dipenuhi bunga-bunga keikhlasan.
Karena pada akhirnya, hujan bukan sekadar air yang jatuh dari langit. Ia adalah doa yang memilih diam, kenangan yang enggan pulang, dan cinta yang tetap hidup meski tak lagi memiliki nama.