Tidak ada yang tahu sejak kapan tuan muda Arvian mulai memperhatikan gadis itu.
Ia anak tunggal keluarga terpandang—tenang, sopan, berprestasi. Senyumnya selalu tepat, sikapnya selalu terkendali. Tidak pernah marah di depan orang. Tidak pernah salah langkah.
Dan justru itu yang membuat orang-orang tidak menyadari satu hal:
Arvian mengamati terlalu detail.
Gadis itu—yang hanya ingin hidup normal—tidak sadar bahwa jadwalnya sudah dihafal:
Jam berangkat.
Kursi favorit.
Kebiasaan menunduk saat gugup.
Cara jarinya bergetar saat sedang berpikir.
Arvian tidak pernah mendekat.
Ia hanya mengawasi dari jauh, seolah dunia adalah papan catur dan gadis itu bidak yang paling berharga.
Setiap perubahan kecil tak pernah luput: Hari itu gadis itu duduk di tempat berbeda.
Hari itu ia terlihat lebih diam.
Hari itu ia pulang lebih cepat.
Arvian menuliskannya rapi dalam buku hitamnya.
Bukan sebagai catatan cinta.
Melainkan kontrol.
Suatu hari, gadis itu merasa aneh.
Barang-barangnya selalu kembali ke tempat semula meski ia yakin tidak menaruhnya begitu. Pintu yang ia ingat terkunci, tiba-tiba terbuka. Pesan anonim muncul di ponselnya—bukan ancaman, hanya kalimat sederhana:
“Kamu seharusnya tidak pulang sendiri hari ini.”
Dan benar saja—hari itu hujan deras dan jalanan kacau.
Seolah seseorang sudah tahu lebih dulu.
Saat gadis itu mulai curiga, Arvian akhirnya berbicara.
Nada suaranya lembut. Tatapannya datar. Tidak ada senyum.
“Aku hanya memastikan kamu tetap aman. Dunia terlalu kacau untuk orang sepertimu.”
Gadis itu mundur perlahan.
Ia sadar—ini bukan perhatian.
Ini bukan kepedulian.
Ini adalah obsesi yang menyamar sebagai perlindungan.
Arvian tidak marah saat ia ditolak.
Ia hanya menunduk, lalu berkata pelan:
“Kalau begitu… aku akan memastikan tak ada siapa pun yang mendekatimu. Selain aku.”
Dan sejak hari itu, orang-orang di sekitar gadis itu satu per satu menjauh. Bukan karena kebencian—melainkan ketakutan yang tidak bisa mereka jelaskan.
Karena tuan muda Arvian tidak mencintai.
Ia memiliki.
Dan sesuatu yang sudah dianggap milik…
tidak pernah benar-benar dilepaskan.