Dulu, banyak tamu yang bilang Hotel Laksana di Padang itu nyaman. Tapi sejak renovasi lama, desas-desus aneh mulai muncul…
Di suatu malam hujan deras, Rizal, mahasiswa perantau dari Medan, datang check-in sendirian. Resepsionis memberinya kamar di lantai 4, dengan catatan ramah seolah tahu sesuatu yang tak ia ungkapkan.
Begitu masuk kamar, ia merasa dingin sekali — padahal AC dimatikan. Lampu redup berkelip waktu ia letakkan tas. Rizal mencoba tidur, tapi suara ketukan pelan dari dalam lemari membuatnya bangun.
Ia agak takut, tapi berusaha menenangkan diri.
“Ah, mungkin cuma ranting pohon kena angin di luar,” pikirnya.
Tapi suara ketukan itu makin keras. Bahkan kadang terdengar seperti tangan mengetuk dari dalam lemari, membuat perasaan Rizal seperti diawasi.
Ia memberanikan diri buka lemari…
Tak ada siapa-siapa. Tapi udara di dalam lemari jauh lebih dingin — membuat napasnya berembun.
Rizal akhirnya tidur setengah sadar. Sekitar pukul 3 pagi, terdengar suara bisikan pelan dari dinding kamar:
“Kau termasuk tamu… sampai kapan?”
Rizal membuka mata. Suara itu datang seperti dari balik tembok. Ia gemetar dan nyaris pingsan.
Tiba-tiba TV di sudut kamar menyala sendiri. Layar hitam tiba-tiba menampilkan sosok samar seorang wanita berbaju putih kusam, tanpa wajah yang jelas, hanya bayangan senyum. Suaranya memecah sunyi:
“Ingin keluar? Kunci jeruji… milikmu…”
Rizal panik dan mencoba bangun — tapi tubuhnya terasa berat. Ia tak bisa bergerak.
Begitu sosok itu semakin mendekat, lampu padam seketika. Hanya terdengar suara napas berat.
Paginya, petugas hotel menemukan kamar kosong. Tapi... tas Rizal masih tertinggal. Tidak ada jejak orang lain. Hanya sebuah note di meja:
“Jangan simpan kunci itu terlalu lama.”
Sejak itu, beberapa tamu mengaku merasakan hal serupa — suara ketukan dalam lemari, bisikan malam, dan bayangan wanita putih di lorong lantai 4.
Dan katanya, jika kamu mendengar ketukan tiga kali di malam gelap di hotel itu… jangan jawab.