Di bangku paling belakang kelas, Qesya selalu duduk di samping Rizky. Awalnya mereka hanya teman yang sering saling meminjam pulpen, lalu berubah menjadi dua orang yang tak pernah melewatkan hari tanpa bercerita."Aku harap kita tetap begini sampai lulus," kata Qesya suatu sore. Rizky tersenyum. "Bukan cuma sampai lulus. Kalau bisa, selamanya."
Kalimat itu membuat Qesya percaya bahwa ada seseorang yang akan selalu memilihnya.
Hari-hari mereka dipenuhi tawa, hujan sepulang sekolah, dan mimpi-mimpi sederhana. Mereka saling menyemangati saat nilai jelek, saling menghibur saat keluarga sedang tidak baik-baik saja. Hingga akhirnya Rizky menyatakan perasaannya.
"Qesya, mau nggak kamu jadi rumah buat aku?"
Qesya mengangguk sambil menangis bahagia.
Mereka menjalani hubungan yang sederhana namun hangat. Tidak pernah ada hadiah mahal, hanya perhatian kecil yang membuat semuanya terasa istimewa.
Namun, hidup tidak selalu berpihak.
Suatu hari Rizky mendapat kabar bahwa ia harus pindah ke luar kota karena pekerjaan ayahnya. Mereka berjanji akan mempertahankan hubungan itu.
"Aku bakal balik. Tunggu aku ya."
"Aku bakal nunggu."
Berbulan-bulan berlalu. Chat mulai berkurang. Telepon semakin jarang. Kesibukan membuat jarak terasa semakin jauh.
Sampai suatu malam, Qesya menerima pesan singkat.
"Maaf. Aku nggak bisa nepatin janji buat pulang. Kamu pantas bahagia sama orang yang bisa selalu ada buat kamu."
Pesan itu menjadi percakapan terakhir mereka.
Beberapa minggu kemudian, Qesya baru mengetahui alasan sebenarnya.
Rizky ternyata mengidap penyakit yang sudah lama disembunyikan. Ia memilih menjauh agar Qesya tidak melihatnya perlahan kehilangan harapan.
Sebelum mengembuskan napas terakhir, Qesya menitipkan sebuah surat.
"Kalau nanti kamu baca surat ini, berarti aku sudah pergi. Maaf karena memilih menjauh tanpa penjelasan. Aku cuma nggak mau orang yang paling aku sayang mengingatku dalam keadaan lemah. Jangan berhenti jatuh cinta hanya karena kehilangan aku. Kalau suatu hari hujan turun, anggap saja itu caraku pulang untuk melihat kamu tersenyum."
Qesya membaca surat itu sambil menangis tanpa suara.
Sejak hari itu, setiap hujan turun, ia selalu berdiri di depan jendela, berharap sosok yang pernah berjanji akan kembali itu benar-benar pulang.
Namun, yang datang hanya rintik hujan... bukan Rizky.