Di sebuah kedai kopi kecil di sudut Jakarta, ada satu menu yang tidak pernah tertulis di papan: *Kopi Kenangan yang Hilang*.
Pemiliknya, seorang pria tua bernama Pak Seno, hanya akan menyajikannya kepada pengunjung yang datang dengan tatapan mata paling kosong.
Sore itu, Kirana duduk di pojok dekat jendela. Sudah tiga bulan sejak kecelakaan yang merenggut tunangannya, Leo. Kirana tidak bisa menangis. Dunianya membeku. Rasa sedihnya begitu pekat hingga berubah menjadi mati rasa.
Pak Seno datang membawa secangkir kopi hitam dengan asap yang mengepul tipis, membentuk pola-pola aneh di udara.
"Saya tidak memesan ini, Pak," ujar Kirana lirih.
"Ini gratis, Nona. Khusus untuk mereka yang ingin melupakan," kata Pak Seno lembut. "Minum sekali teguk, dan memori paling menyakitkan dalam hidupmu akan menguap bersama asapnya."
Kirana menatap cairan hitam itu. Melupakan Leo? Melupakan rasa sakit ini? Kedengarannya seperti keajaiban. Dia sudah lelah terjebak dalam ruang hampa di kepalanya. Tanpa ragu, Kirana mengangkat cangkir dan meminumnya sampai habis.
### Ruang Kosong
Seketika, dunia di sekitar Kirana berputar. Rasa sesak di dadanya lenyap. Plong. Dia tersenyum, sebuah perasaan ringan yang sudah lama tidak dia rasakan.
Namun, saat dia melihat cincin perak di jari manisnya, dahinya berkerut. *Cincin siapa ini?*
Dia mencoba mengingat rumahnya, tapi yang muncul hanya dinding putih. Dia mencoba mengingat alasan mengapa dia menangis semenjak tadi pagi, tapi otaknya bersih tanpa noda.
"Bagaimana rasanya?" tanya Pak Seno.
"Ringan," jawab Kirana, namun ada nada panik yang mulai menyelinap di suaranya. "Tapi... Pak, kenapa saya merasa seperti selembar kertas kosong? Saya tahu saya pernah bahagia, tapi saya tidak ingat bagaimana rasanya ditertawakan sampai perut saya sakit. Saya tahu saya pernah mencintai, tapi saya tidak ingat wajah orang itu."
Pak Seno menghela napas, menatap cangkir yang sudah kosong.
> "Manusia sering mengira mereka hanya ingin membuang rasa sakitnya," ucap Pak Seno tenang. "Tapi mereka lupa bahwa jalinan kenangan itu seperti benang wol pada rajutan sweter. Jika kamu menarik satu ujung benang yang rusak, seluruh sweter itu akan terurai."
>
### Harga Sebuah Rasa
Kirana menyadari sesuatu yang mengerikan: untuk melupakan kesedihan akibat kehilangan Leo, kopi itu juga menghapus seluruh tawa, janji manis, dan kehangatan yang pernah Leo berikan. Kirana tidak lagi berduka, tetapi dia juga tidak lagi menjadi *dirinya*.
"Kembalikan, Pak," bisik Kirana, air mata tiba-tiba meleleh di pipinya—bukan karena rindu, tapi karena takut kehilangan dirinya sendiri. "Saya lebih baik hidup terluka daripada hidup sebagai orang asing bagi masa lalu saya."
Pak Seno tersenyum tipis. Beliau menyodorkan secangkir air putih hangat. "Kopi tadi hanya bertahan jika kamu menolak rasa sakitmu. Air putih ini akan membatalkannya, jika kamu siap menerima bahwa terluka adalah bagian dari mencintai."
Kirana menyambar cangkir itu dan meminumnya.
*Wusss.*
Seketika, bayangan wajah Leo kembali. Senyum lesung pipitnya, suaranya saat memanggil nama Kirana, hingga malam kecelakaan yang mengerikan itu—semuanya menghantam Kirana seperti ombak besar. Rasa sakit itu kembali, menghujam dadanya dengan begitu hebat hingga dia terisak di atas meja.
Namun di sela-sela tangisnya, Kirana tersenyum. Rasa sakit itu nyata. Cinta itu nyata. Dia kembali utuh.
Saat Kirana mengangkat wajahnya untuk berterima kasih, Pak Seno sudah kembali ke balik meja barista, berpura-pura sibuk mengelap gelas, membiarkan Kirana merayakan kembali kesedihannya yang berharga.