Hari ini adalah hari perpisahan SMA.
Setelah tiga tahun belajar di sekolah itu, akhirnya aku dan teman-teman seangkatanku lulus.
Aku mengenakan jilbab hitam, kemeja putih, dan rok hitam sesuai ketentuan sekolah. Setelah semuanya siap, aku berangkat bersama ayah dengan sepeda motor.
Karena wali murid diundang, hari itu ayah ikut menghadiri acara perpisahan.
Sepanjang perjalanan aku lebih banyak diam.
Entah kenapa aku merasa sedih.
Bukan karena aku tidak senang lulus.
Aku senang.
Hanya saja, setelah hari ini semuanya akan berubah.
Aku tidak akan lagi datang ke sekolah itu setiap pagi.
Tidak akan lagi bertemu teman-temanku.
Dan...
Aku tidak akan lagi melihat Heru.
Memikirkan itu membuatku menghela napas pelan.
---
Begitu sampai di sekolah, aku langsung melihatnya.
Heru.
Anak kelas XII IPS 2.
Dia sedang berjalan bersama ibunya menuju gedung serbaguna.
Seperti biasa, dia terlihat tenang.
Aku buru-buru mengalihkan pandangan sebelum dia menyadari aku sedang memperhatikannya.
Padahal selama tiga tahun ini mungkin dia bahkan tidak tahu siapa aku.
Aku mulai memperhatikannya sejak masa orientasi siswa.
Awalnya karena alasan yang sangat sederhana.
Dia mirip dengan aktor favoritku, Hafiz Rizky.
Saat pertama kali melihatnya, aku bahkan sempat berpikir, "Kok mirip, ya?"
Sejak saat itu aku jadi sering memperhatikannya.
Namun lama-kelamaan alasannya berubah.
Aku masih ingat suatu sore saat pulang sekolah.
Motorku terjebak di antara banyak motor lain di parkiran.
Aku kesulitan mengeluarkannya.
Saat itulah Heru datang dan membantuku.
Dia tidak banyak bicara.
Hanya membantu menggeser beberapa motor lalu mengeluarkan motorku.
Aku mengucapkan terima kasih.
Dia mengangguk lalu pergi.
Sesederhana itu.
Beberapa minggu kemudian, aku kembali bertemu dengannya di parkiran.
Kali ini motorku tidak mau menyala.
Aku sudah mencoba berkali-kali tetapi gagal.
Entah dari mana, Heru muncul lagi.
Dia membantuku menyalakan motor itu sampai akhirnya berhasil.
Setelah itu dia kembali pergi.
Tidak ada percakapan panjang.
Tidak ada perkenalan.
Bahkan mungkin dia langsung melupakan kejadian itu.
Tapi aku tidak.
Sejak saat itu, Heru bukan lagi sekadar seseorang yang mirip aktor favoritku.
---
Aku dan ayah berjalan menuju gedung serbaguna.
Ayah duduk di barisan wali murid.
Sedangkan aku duduk bersama teman-teman dari kelas XII IPA 3.
Acara perpisahan dimulai.
MC membuka acara.
Kemudian dilanjutkan dengan sambutan kepala sekolah dan beberapa guru.
Aku berusaha memperhatikan.
Sungguh.
Tapi sesekali mataku tetap mencari seseorang.
Heru.
Kadang aku melihatnya sedang mendengarkan sambutan.
Kadang sedang berbicara pelan dengan teman di sebelahnya.
Kadang hanya duduk diam.
Dan setiap kali melihatnya, aku selalu memikirkan hal yang sama.
Ini terakhir kalinya.
---
Aku mendengar kabar bahwa Heru akan melanjutkan kuliah di universitas swasta di kota sebelah.
Sedangkan aku tidak.
Karena keterbatasan biaya, aku tidak akan kuliah.
Mungkin aku akan bekerja setelah lulus.
Jalan hidup kami akan berbeda.
Dan kemungkinan besar kami tidak akan pernah bertemu lagi.
Memikirkannya membuatku sedih.
Namun aku juga tahu bahwa hidup memang seperti itu.
Tidak semua orang yang kita temui akan berjalan bersama kita selamanya.
---
Acara perpisahan akhirnya selesai.
Satu per satu siswa mulai meninggalkan gedung.
Aku berdiri dari kursiku.
Lalu tanpa sadar mencari Heru untuk terakhir kalinya.
Aku menemukannya.
Dia sedang berjalan bersama ibunya menuju halaman sekolah.
Aku memperhatikannya beberapa detik.
Lalu tersenyum kecil.
Aku tidak pernah mengobrol dengannya.
Kami tidak pernah sekelas.
Tidak pernah berteman.
Tidak pernah menjadi apa-apa.
Bahkan mungkin dia tidak tahu namaku.
Namun ketika suatu hari nanti aku mengenang masa SMA, aku tahu aku akan mengingatnya.
Bukan karena dia cinta pertamaku.
Bukan karena kami pernah memiliki hubungan.
Melainkan karena selama tiga tahun, tanpa sadar dia menjadi bagian kecil yang membuat hari-hari sekolahku terasa lebih berwarna.
Aku menatap punggungnya yang semakin jauh.
Lalu berkata pelan di dalam hati.
"Terima kasih, ya."
Setelah itu aku berbalik dan berjalan menuju parkiran bersama ayah.
Meninggalkan sekolah itu.
Meninggalkan masa SMA.
Dan meninggalkan seseorang yang akan selalu menjadi bagian dari kenanganku.