Seorang laki-laki berdiri di teras, menatap rumah dengan dada yang terasa hampa. Rumah yang dulu ia tinggalkan dalam keadaan marah dan luka, kini cat dindingnya memudar, dan pagar besinya berdecit pelan saat tersentuh angin malam. Tidak ada lampu teras yang menyala. Gelapnya seperti menolak kedatangannya. Seolah berkata, 'kamu sudah terlalu lama pergi.'
Lintang menelan ludah. Matanya memerah. Ia rindu. Rindu yang selama ini ia sembunyikan di balik keberanian palsu. Dengan tangan gemetar, ia mengetuk pintu.
“Ibu,” panggilnya pelan.
Tidak ada jawaban.
Ia mengetuk lagi. Kali ini lebih kuat. Pintu terbuka. Ibu berdiri di sana, wajahnya pucat, sorot matanya kosong. Lintang tersenyum kecil, senyum yang sudah lama ia siapkan.
“Bu, Lintang pulang.”
Ibu menatapnya sekilas, lalu memalingkan wajah seolah tak melihatnya. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan melangkah masuk ke dalam rumah. Tidak ada pelukan, tidak ada pertanyaan, dan tidak ada sambutan yang bisa ia rasakan.
Semua sikap ibunya itu membuat dada Lintang semakin sesak. Mungkin Ibu masih marah, pikirnya. Mungkin luka itu belum kering.
Lintang melangkah masuk walau tidak dipersilakan. Pintu dibiarkan terbuka. Rumah itu terasa asing. Ruang tengah yang dulu penuh suara kini sepi. Sudah tidak ada fotonya di dinding, sekecewa itu ibunya pada dirinya?
Di sinilah dulu pertengkaran terakhir terjadi. Ibu berdiri dengan tangan gemetar, melarang. Lintang membalas dengan suara tinggi, mengatakan bahwa hidupnya bukan milik siapa pun. Malam itu ia pergi dengan tas kecil dan hati yang keras. Ia memilih bernyanyi di jalanan kota, dari kafe ke kafe, dari panggung kecil ke panggung yang sedikit lebih besar.
Lintang menatap ruang tengah itu dengan mata basah. Seandainya ia bisa memutar waktu. Seandainya ia tidak pergi dengan kata-kata setajam itu.
Langkah kaki terdengar dari arah belakang. Seorang gadis muda masuk ke ruang tengah. Rambutnya terikat seadanya. Wajahnya terkejut melihat Ibu berdiri di sana, memandangi pintu terbuka.
“Bu, kenapa keluar. Sudah malam,” ucap gadis itu. Adik Lintang. Suaranya lembut, seperti dulu.
Lintang memandangi adiknya dengan perasaan rindu. Sudah lama ia tidak bercanda dengannya, sudah lama ia tidak menjahili adik satu-satunya itu.
"Lina ...," panggil Lintang. Namun, tak ada yang peduli. Keduanya sibuk saling menatap.
“Ibu dengar suara Lintang,” kata ibunya lirih. “Dia pulang. Ibu dengar dia manggil.”
Lintang terdiam. Ia melangkah mendekat. “Ibu, aku di sini,” katanya, hampir berbisik.
Adiknya mematung. Wajahnya berubah pucat. Ia menatap pintu, lalu menatap Ibunya kembali. Napasnya tercekat.
“Bu.” Suaranya bergetar. “Kak Lintang sudah tidak ada.”
Ibu menggeleng pelan. “Enggak, Ibu dengar suaranya tadi. Jelas.”
Adiknya menunduk. Air mata jatuh satu per satu. “Bu ... sudah, Bu. Kak Lintang sudah tenang di sana."
Ibu masih menggeleng. "Tapi Lintang sudah berjanji akan pulang, Lin. Lintang janji."
Lintang merasa dunia berhenti. Kata-kata itu berputar di udara, menembus tubuhnya, lalu lenyap tanpa bekas. Ia menatap Ibunya. Perempuan itu berdiri kaku, seperti patung yang lupa cara bernapas.
Sekejap, Lintang mengingat kejadian seminggu yang lalu ketika dirinya menelpon ibunya untuk mengabari bahwa dirinya akan pulang, tapi baru saja ibunya hendak menjawab tabrakan itu terjadi.
“Bu ...,” panggil adiknya lagi, mendekat dan memeluk Ibunya erat. “Kak Lintang sudah pergi.”
Ibu tidak langsung menangis. Ia hanya berdiri, matanya kosong, bibirnya bergetar. Lalu perlahan, tubuhnya melemah. Isaknya pecah, keras dan dalam, seperti sesuatu yang akhirnya runtuh setelah terlalu lama ditahan.
“Ibu belum minta maaf,” katanya di sela tangis. “Ibu belum bilang kalau Ibu bangga.”
Lintang berdiri di hadapan mereka, tak mampu menyentuh apa pun. Dadanya perih. Ia ingin berteriak bahwa ia sudah memaafkan. Bahwa semua itu tidak apa-apa. Tapi suaranya tidak lagi punya tempat.
Di ruang tengah yang sunyi itu, hanya ada tangis yang terlambat. Penyesalan yang datang ketika pintu sudah tertutup rapat.
Lintang memandang rumah itu untuk terakhir kalinya. Rumah yang akhirnya ia pulangi, tapi sudah kehilangan dirinya sendiri.