Gerimis di luar jendela seolah mewakili hati Kirana yang hancur berkeping-keping malam itu. Di tangannya, sebuah ponsel pintar menyala, menampilkan deretan pesan singkat yang menghancurkan seluruh dunianya dalam sekejap.
Pesan-pesan itu bukan untuknya, melainkan untuk suaminya, Rendy.
"Terima kasih untuk makan malamnya yang indah ya, Sayang. Sampai ketemu besok."
Kalimat manis itu dikirim oleh sebuah nomor tanpa nama, namun dilengkapi dengan foto kemesraan Rendy bersama seorang wanita muda di sebuah restoran mewah. Restoran yang sama dengan tempat Rendy melamar Kirana lima tahun lalu.
Kirana terduduk lemas di lantai kamar. Dadanya sesak, napasnya memburu, dan air mata mengalir deras tanpa bisa dibendung. Selama ini, ia selalu mempercayai Rendy sepenuhnya. Ia rela melepaskan kariernya demi menjadi ibu rumah tangga yang mengurus segala keperluan suaminya, memastikan Rendy pulang ke rumah yang hangat dan rapi. Namun, semua pengorbanan itu dibalas dengan pengkhianatan yang begitu keji.
Suara pintu depan terbuka mengejutkan Kirana. Itu Rendy.
"Kirana, aku pulang. Kok rumah gelap sekali?" suara Rendy terdengar dari ruang tengah, terdengar santai tanpa beban dosa sedikit pun.
Kirana bangkit berdiri. Dengan sisa-sisa kekuatan yang ia miliki, ia melangkah keluar kamar. Di ruang tengah, Rendy sedang melepas dasinya, tampak lelah namun tersenyum tipis—senyuman yang kini terlihat sangat memuaskan di mata Kirana.
"Kenapa belum tidur?" tanya Rendy saat melihat istrinya berdiri mematung.
Tanpa sepatah kata pun, Kirana mengangkat ponsel Rendy yang sejak tadi dipegangnya, lalu memutar layarnya ke hadapan sang suami. Seketika itu juga, senyuman di wajah Rendy lenyap. Wajahnya memucat, matanya membelalak panik.
"Ki... Kirana, ini tidak seperti yang kamu bayangkan. Aku bisa jelaskan—" Rendy mencoba mendekat, tangannya terulur ingin menggapai Kirana.
"Jangan sentuh aku!" jerit Kirana, suaranya bergetar hebat menahan amarah dan kepedihan yang teramat sangat. "Jelaskan apa, Rendy? Jelaskan bagaimana kamu membagi hatimu? Jelaskan bagaimana kamu membohongiku setiap kali kamu bilang ada rapat lembur?!"
Rendy tertunduk, tidak berani menatap mata istrinya yang menyala penuh luka. Keheningan malam itu mencekam, hanya menyisakan suara isak tangis Kirana yang begitu menyayat hati.
Kirana menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai dirinya. Ia menyadari satu hal: air matanya terlalu berharga untuk pria yang tidak tahu cara menghargai sebuah kesetiaan. Dengan tangan bergetar namun pasti, Kirana melepaskan cincin pernikahan dari jari manisnya, lalu meletakkannya di atas meja.
"Besok, urus surat perceraian kita. Aku tidak akan bertahan di dalam rumah yang fondasinya dibangun dari kebohongan," ucap Kirana dengan nada dingin namun tegas.
Malam itu, di bawah rintik gerimis, Kirana mengemas kopernya. Ia melangkah keluar dari rumah itu dengan kepala tegak. Meski hatinya hancur karena perselingkuhan, ia tahu bahwa mempertahankan harga dirinya jauh lebih penting daripada bertahan dengan seseorang yang telah merusak kepercayaannya.