Di sebuah kota seribu kabut, hiduplah sepasang suami istri bernama Galih dan Arumni. Mereka menikah dalam kesederhanaan, tetapi hati mereka dipenuhi mimpi yang sama; membangun rumah sederhana, membesarkan anak-anak mereka kelak, dan menua bersama.
Suatu sore, sebelum keberangkatannya merantau, Galih menggenggam kedua tangan Arumni.
"Aku pergi bukan karena ingin meninggalkanmu. Aku pergi untuk masa depan kita. Tunggulah aku. Aku akan jemput kamu setelah aku sukses dan punya rumah di sana."
Arumni mengangguk sambil menahan air mata. "Aku akan menunggumu, Mas. Seberapa pun lamanya."
Dengan janji itu, Galih berangkat.
Di rantau, hidup ternyata jauh lebih keras daripada yang ia bayangkan. Kesepian, tekanan pekerjaan, dan lingkungan baru yang perlahan mengubahnya. Di sanalah dia mengenal seorang perempuan berkulit putih bernama Amrita atau dia biasa memanggil Mita.
Awalnya hanya teman, lalu menjadi tempat berbagi cerita, hingga akhirnya hubungan mereka melampaui batas.
Saat Mita mengatakan dirinya hamil, dunia Galih seketika runtuh. Ia tahu dirinya telah menghancurkan janji yang pernah ia ucapkan kepada Arumni. Namun ia juga tidak sanggup meninggalkan perempuan yang sedang mengandung anaknya.
Akhirnya, dengan hati penuh rasa bersalah, Galih menikahi Mita.
Tadinya kabar itu tak pernah sampai ke telingga Arumni, namun saat dirinya diam-diam menyusul Galih, ia melihat wanita berkulit putih itu tengah memegangi perutnya yang kian membesar. Saat itulah Arumni sadar, suaminya benar-benar telah memilih jalan hidup yang lain.
Untuk beberapa waktu, Arumni masih bertahan. Ia bahkan tak pernah menceritakannya kepada kedua orang tuanya dan juga kepada orang tua Galih. Bukan karena ia tidak merasa terluka, melainkan karena ia berharap semua itu hanya mimpi.
Harapan itu pupus ketika anak Mita lahir.
Arumni tersenyum pahit. "Anak itu tidak bersalah, tapi aku juga tidak bisa terus hidup dalam luka."
Ia mengajukan gugatan cerai, awalnya Galih menolak namun ia sadar bahwa dirinya memang tidak pantas meminta Arumni bertahan.
Hari perceraian itu menjadi hari paling sunyi dalam hidup mereka, tidak ada pertengkaran, tidak ada saling menyalahkan, hanya ada dua orang yang pernah saling mencitai, lalu berpisah karena satu pengkhianatan yang tak bisa diperbaiki.
Galih kemudian hidup bersama Mita dan anak mereka, semula ia berpikir semuanya akan kembali baik-baik saja. Ternyata tidak, dia dipecat dari pekerjaannya, tekanan kebutuhan begitu banyak, hingga rumahnya terjual. Rumah tangga mereka dipenuhi pertengkaran. Galih sulit dapat pekerjaan, lalu Mita yang bekerja demi memenuhi kebutuhan.
Galih dihantui rasa bersalah dan penyesalan setiap malam. Setiap kali melihat anaknya tertidur, ia teringat pada kebahagiaan kecil ini dibangun di atas air mata perempuan yang pernah mencintainya sepenuh hati.
Suatu hari, Galih meminta izin pada Mita bahwa dirinya akan pulang ke kampung halaman untuk meperbaiki hubungannya dengan Arumni, dan Mita memberinya izin begitu saja.
Namun sesampainya di kota seribu kabut itu, ternyata Arumni sedang melangsungkan ijab kabul, bahkan sahabat dekat dan juga kedua orang tuannya menjadi saksi janji suci itu, pipinya langsung basah entah karena embun yang menetes dari atap rumah, atau air matanya sendiri yang jatuh ke pipi.
Pemandangan itu menghantam hati Galih lebih keras dari apa pun. Ternyata kesempatan ke dua tidak selalu datang kepada orang yang terlambat menyadari arti kesetiaan.