Bagi Kirana, toko buku tua di sudut Jalan Braga selalu punya aroma yang magis—campuran kertas usang, kopi bubuk, dan rintik hujan yang menguap dari jalanan aspal. Sore itu, hujan turun deras tanpa peringatan. Kirana terjebak di dalam toko, berdiri di depan rak fiksi nomor dua, berpura-pura sibuk membaca sinopsis sebuah novel terjemahan demi membunuh waktu.
Sebenarnya, dia tidak benar-benar membaca. Fokusnya terbagi sejak lima belas menit lalu, tepat ketika seorang pria dengan jaket denim yang agak basah berdiri di sebelahnya. Pria itu beraroma angin malam dan daun teh.
Tanpa sengaja, jemari mereka bersentuhan saat sama-sama ingin meraih buku yang sama: The Sun and Her Flowers.
"Oh, maaf. Silakan duluan," ucap pria itu lirih, menarik tangannya dengan cepat. Ia memiliki sepasang mata yang teduh dengan senyum canggung yang entah mengapa membuat jantung Kirana berdegup sedikit lebih cepat.
"Gak apa-apa, ambil aja. Aku cuma lagi liat-liat kok," jawab Kirana agak gugup, buru-buru mengembalikan buku yang dipegangnya ke rak. Namun, karena terlalu tergesa-gesa, buku itu justru terselip salah posisi dan membuat tiga buku di sampingnya jatuh berserakan ke lantai.
Bugh.
Kirana memejamkan mata, merutuki kecerobohannya. Namun, sebelum dia sempat berjongkok, pria itu sudah lebih dulu berlutut di lantai, memunguti buku-buku tersebut dengan tenang.
"Kadang buku-buku di rak ini emang suka cari perhatian kalau ada pengunjung yang menarik," seloroh pria itu sambil mendongak, menyerahkan buku-buku yang jatuh ke tangan Kirana.
Kirana merona. "Alasan yang bagus untuk menyelamatkan muka aku yang ceroboh ini."
Pria itu berdiri, mengulurkan tangannya yang hangat. "Aku Arka."
"Kirana."
Hujan di luar semakin lebat, seolah-olah semesta sengaja mengunci mereka di dalam ruang kedap waktu itu. Alih-alih kembali sibuk sendiri, Arka justru mulai membuka obrolan. Mereka berbicara tentang banyak hal—mulai dari penulis favorit, lagu-lagu indie yang sering diputar di kafe sebelah, hingga alasan mengapa mereka berdua sama-sama menyukai aroma hujan.
Kirana menemukan kenyamanan yang aneh pada diri Arka. Pria ini mendengarkan dengan seluruh perhatiannya, seolah setiap kata yang keluar dari mulut Kirana adalah bab penting dalam sebuah cerita.
Dua jam berlalu seperti kedipan mata. Hujan mulai mereda, menyisakan suara kecipak air dari kendaraan yang lewat di luar.
"Ah, hujannya udah reda," gumam Kirana, ada secercah rasa kecewa yang tak mampu ia sembunyikan dalam suaranya.
Arka menatap ke luar jendela, lalu kembali menatap Kirana. "Iya, ya. Padahal aku baru mau bilang kalau aku suka banget sama bab ini."
"Bab apa?" tanya Kirana bingung.
"Bab di mana aku ketemu kamu di depan rak nomor dua," jawab Arka lurus, matanya mengunci pandangan Kirana dengan ketulusan yang membuat pipi Kirana kembali menghangat. "Kirana, kalau setelah ini kita lanjut mengobrol di kedai seberang jalan... apakah aku boleh menulis kelanjutan babnya?"
Kirana tertegun sejenak, sebelum akhirnya sebuah senyuman manis terukir di wajahnya. Dia mengangguk pelan.
"Boleh. Tapi dengan satu syarat."
"Apa?"
"Aku yang pilih menunya," canda Kirana.
Arka tertawa lepas, suara tawa yang malam itu menjadi melodi favorit baru di telinga Kirana. Mereka berjalan keluar toko buku bersama. Di bawah langit pasca-hujan yang mulai memamerkan jajaran lampu kota, sebuah cerita baru baru saja dimulai.