Aku pernah berpikir menjadi guru adalah pekerjaan yang sederhana. Mengajar murid, membuat soal, memeriksa tugas, lalu pulang.
Setidaknya itulah yang kubayangkan sebelum bekerja di sekolah ini.
Namaku Nely. Aku guru kelas empat di sebuah sekolah dasar negeri. Dari luar, aku terlihat seperti guru pada umumnya. Aku memakai seragam, berdiri di depan kelas, dan mengajarkan materi kepada murid-muridku.
Namun, setelah beberapa bulan bekerja di sini, aku mulai curiga.
Mungkin sebenarnya aku bukan guru.
Mungkin aku adalah dayang.
Tentu saja tidak ada jabatan bernama dayang di sekolah. Namun, aku tidak menemukan kata lain yang lebih tepat untuk menggambarkan pekerjaanku.
"Nely, speaker-nya tolong diangkat dulu."
"Nely, perpustakaannya ditata buat rapat nanti."
"Nely, taplak mejanya belum dipasang."
"Nely, kursinya dirapikan lagi."
Aku mengangguk dan mengerjakan semuanya.
Awalnya aku tidak keberatan.
Aku masih muda.
Aku guru baru.
Aku pikir membantu pekerjaan seperti itu adalah bagian dari belajar.
Ternyata aku salah.
Karena semakin lama aku bekerja, semakin aku sadar bahwa pekerjaan-pekerjaan itu hampir selalu diberikan kepada orang yang sama.
Aku dan Indah.
Indah adalah guru agama di sekolah ini. Usianya tidak jauh berbeda denganku. Jika aku seorang dayang, maka dia adalah sesama dayang yang senasib.
Bahkan terkadang nasibnya lebih buruk.
Saat Bu Eti menghadiri rapat operator sekolah, Indah yang menggantikan mengajar.
Saat ada kegiatan pembiasaan, Indah yang mendampingi.
Saat ada lomba keagamaan tingkat kecamatan, Indah yang mengurus sebagian besar persiapannya.
Aku masih ingat bagaimana wajahnya setelah lomba itu selesai.
Pucat.
Lelah.
Dan akhirnya jatuh sakit.
Yang membuatku heran, guru-guru senior sering mengatakan bahwa kami harus banyak belajar.
Namun yang mereka berikan bukan bimbingan.
Bukan arahan.
Bukan ilmu.
Melainkan pekerjaan tambahan.
Saat ada pertemuan di perpustakaan, aku dan Indah yang menata ruangan.
Meja-meja disusun.
Kursi-kursi dirapikan.
Taplak dipasang.
Speaker diangkat.
Saat acara selesai, kami pula yang membereskannya kembali.
Hal yang sama terjadi setiap ada kegiatan besar sekolah.
Setelah peringatan Maulid Nabi, aku dan Indah yang membereskan.
Setelah Isra Miraj, aku dan Indah yang membereskan.
Setelah acara perpisahan, aku dan Indah yang membereskan.
Sementara guru-guru senior biasanya sudah kembali ke kantor. Jika membawa sesuatu, yang dibawa hanyalah barang milik mereka sendiri.
Aku tidak pernah mempermasalahkan pekerjaan berat.
Yang membuatku lelah adalah kenyataan bahwa pekerjaan itu hampir selalu jatuh kepada orang yang sama.
Seolah-olah menjadi muda berarti memiliki tenaga yang tidak akan habis.
Seolah-olah menjadi muda berarti harus selalu siap disuruh.
Di antara semua guru senior, ada satu orang yang paling sering membuatku dan Indah mengepalkan tangan diam-diam.
Bu Disti.
Menurut Bu Disti, hidupku belum lengkap karena aku belum menikah.
Awalnya aku masih bisa tertawa.
"Saya masih nunggu pacar pulang dari Korea, Bu."
Padahal pacar saja tidak ada.
Sayangnya, candaan tidak pernah menghentikan Bu Disti.
Suatu hari, Bu Santi sedang bercerita tentang mertuanya yang kurang menyukainya.
Seperti biasa, Bu Disti langsung menoleh kepadaku.
"Nely, dengar itu. Makanya belajar masak. Siapa tahu nanti dapat mertua seperti itu."
Entah kenapa, hari itu kesabaranku habis.
Mungkin karena lelah.
Mungkin karena jenuh.
Atau mungkin karena aku sudah terlalu sering mendengar kalimat yang sama.
"Ya kalau saya punya mertua, Bu."
Bu Disti tampak sedikit bingung.
Aku melanjutkan.
"Ya kalau saya menikah."
Beliau menatapku beberapa saat, seolah tidak menyangka aku akan menjawab seperti itu.
Aku menarik napas pendek.
"Kalau saya meninggal duluan bagaimana?"
Beberapa detik ruangan menjadi hening.
Aku pikir pertanyaanku akan mengakhiri pembicaraan.
Ternyata tidak.
Bu Disti tetap melanjutkan nasihatnya seolah tidak terjadi apa-apa.
Saat itu aku hanya tersenyum tipis.
Percuma.
Ada orang-orang yang tidak benar-benar ingin mendengar jawaban. Mereka hanya ingin berbicara.
Yang membuatku semakin sedih, ternyata tidak semua sekolah seperti ini.
Aku pernah mendengar cerita dari teman-teman yang mengajar di sekolah lain.
Di sana, guru muda dan guru senior saling membantu.
Mereka bekerja bersama saat ada acara.
Mereka membereskan bersama saat acara selesai.
Mereka saling menghargai.
Tidak ada yang merasa terlalu senior untuk mengangkat barang.
Tidak ada yang merasa terlalu penting untuk ikut bekerja.
Saat itulah aku sadar.
Masalahnya bukan karena aku guru muda.
Masalahnya bukan karena semua guru senior sama.
Masalahnya adalah lingkungan tempatku bekerja.
Berkali-kali aku ingin pindah sekolah.
Berkali-kali aku merasa salah tempat.
Namun aku tidak bisa pergi begitu saja.
Jadi untuk saat ini aku tetap berada di sini.
Menjadi guru.
Menjadi dayang.
Sambil berharap suatu hari nanti aku tidak lagi mendengar kalimat:
"Nely, tolong ini."
"Nely, tolong itu."
"Nely, nanti sekalian ya."
Atau jika harapan itu terlalu tinggi, setidaknya semoga para guru senior di sekolah ini mendapat sedikit hidayah.
Dan jika itu juga terlalu tinggi, semoga aku atau mereka yang lebih dulu pindah sekolah.