Pernikahan itu tidak pernah dimulai dengan cinta.
Rei Vardhan tidak punya pilihan. Begitu juga Aluna Seraphine.
Ayah Rei menganggap pernikahan ini sebagai bagian dari kesepakatan bisnis keluarga. Dan Aluna… hanyalah nama yang diserahkan seperti sesuatu yang sudah ditentukan sejak awal. Sejak kecil, Aluna memang diajarkan untuk patuh. Tidak membantah. Tidak bertanya. Hanya menerima.
Hari pertama mereka menikah, Rei bahkan tidak menatapnya lama. Di matanya, hanya ada satu orang yang selalu ia pikirkan—Mira Valen, sahabat masa kecilnya. Seseorang yang ia anggap “rumah”, meski tidak pernah benar-benar ia miliki.
Aluna mencoba.
Setiap pagi ia menyiapkan sarapan, menunggu di meja makan. Setiap malam ia menanyakan hal-hal kecil tentang hari Rei. Setiap kali Rei pulang, Aluna selalu berdiri di pintu, berharap ada sedikit ruang untuk dirinya.
Tapi yang ia dapat hanya diam.
Atau kadang tatapan dingin.
“Tidak perlu bersikap seperti itu,” kata Rei suatu malam. “Aku tidak akan jatuh cinta padamu.”
Kalimat itu tidak pernah berubah.
Sementara itu, Mira selalu hadir di antara mereka—tertawa di telepon, datang tanpa tahu batas, dan mengambil ruang yang seharusnya bukan miliknya.
Aluna melihat semuanya, tapi tidak pernah berkata apa-apa.
Lalu Aluna mulai berhenti mengejar.
Ia tidak lagi menunggu di pintu. Tidak lagi memasak. Tidak lagi bertanya.
Rumah itu menjadi lebih sunyi, tapi juga lebih ringan.
Anehnya, justru saat itu Rei mulai merasa ada yang hilang.
“Aluna,” panggilnya suatu malam, saat rumah terlalu sepi untuk pertama kalinya. “Kamu kenapa?”
Aluna hanya tersenyum tipis. “Tidak apa-apa.”
Tapi sebenarnya ada yang tidak ia katakan.
Ia sakit.
Sejak lama tubuhnya menyimpan sesuatu yang perlahan menggerogoti hidupnya. Tapi Aluna memilih diam. Ia tidak ingin menjadi beban. Tidak ingin membuat Rei khawatir. Tidak ingin mengganggu hidup pria yang bahkan tidak pernah benar-benar menganggapnya ada.
Sampai pada suatu titik, Aluna memutuskan sesuatu yang lebih pahit dari diam.
Ia berpura-pura selingkuh.
Ia tahu Rei akan membencinya. Dan mungkin itu lebih mudah daripada terus mencintai seseorang yang tidak pernah menoleh.
Dan benar saja.
“Jadi ini alasanmu berubah?” suara Rei bergetar, matanya tajam seperti luka yang baru terbuka.
Aluna hanya diam.
Tidak membantah.
Tidak menjelaskan.
Hari itu Aluna pergi.
Waktu berjalan.
Dan rumah itu akhirnya benar-benar kosong.
Sampai suatu hari, kabar itu datang.
Aluna sudah tiada.
Tidak ada penjelasan panjang. Hanya keheningan yang tidak bisa Rei pahami.
Dan untuk pertama kalinya, Rei merasa dunia kehilangan suara.
Ia mulai mengingat hal-hal kecil yang dulu ia abaikan.
Sarapan yang selalu hangat.
Obat yang diam-diam diletakkan di meja.
Cara Aluna menatapnya, meski tidak pernah dibalas.
Dan kebohongan itu…
Semua terasa salah.
Terlambat.
Terlalu terlambat.
Rei mulai kehilangan dirinya sendiri.
Ia berbicara pada ruangan kosong. Melihat bayangan Aluna di dapur. Mendengar suara langkah yang tidak pernah ada.
“Aluna… kamu di sini kan?”
Tidak ada jawaban.
Hanya sunyi.
Dan sunyi itu perlahan menggerogoti kewarasannya.
Karena ternyata, yang paling menyakitkan bukan ditinggalkan.
Tapi menyadari bahwa seseorang yang kita abaikan… ternyata adalah satu-satunya yang benar-benar mencintai kita.