Pagi itu, Sari berdiri di depan rumah kontrakannya yang sederhana. Di tangannya ada beberapa bungkus gorengan yang baru matang. Uap hangat masih mengepul dari plastik bening yang ia pegang.
"Bu, aku berangkat sekolah dulu," kata Rani, putrinya yang duduk di kelas lima SD.
Sari tersenyum. "Hati-hati ya, Nak. Jangan lupa makan bekal."
Rani mengangguk lalu berjalan menuju sekolah dengan langkah kecil namun penuh semangat.
Sejak suaminya meninggal dua tahun lalu karena sakit, Sari harus bekerja sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Setiap pagi ia membuat gorengan dan menitipkannya ke warung-warung sekitar kampung.
Penghasilannya tidak banyak. Kadang cukup, kadang tidak. Namun Sari selalu berusaha terlihat kuat di depan anaknya.
Suatu sore, saat menghitung uang hasil jualan, Sari terdiam. Uang yang terkumpul bahkan belum cukup untuk membayar uang kegiatan sekolah Rani.
Ia menarik napas panjang.
"Apa yang harus Ibu lakukan?" bisiknya.
Tanpa sengaja, Rani yang baru pulang menguping dari balik pintu.
Malam harinya, Rani duduk di samping ibunya.
"Bu, kalau uang sekolahku belum ada, tidak apa-apa. Rani bisa bilang ke guru."
Sari menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca.
"Tidak, Nak. Sekolahmu penting."
"Tapi Ibu jangan sedih."
Keesokan harinya, Rani membawa beberapa gelang rajut hasil buatannya ke sekolah. Saat jam istirahat, teman-temannya tertarik membeli gelang tersebut.
Tak disangka, dalam beberapa hari gelang buatan Rani semakin banyak peminatnya.
Saat mengetahui hal itu, Sari merasa haru.
"Kamu membuat ini semua sendiri?"
Rani mengangguk malu-malu.
"Aku cuma ingin membantu Ibu."
Sari memeluk putrinya erat.
Beberapa minggu kemudian, usaha gorengan Sari juga mulai berkembang. Salah satu pelanggan mengunggah videonya ke media sosial dan banyak orang mulai memesan.
Pelan-pelan kehidupan mereka membaik.
Suatu malam, saat duduk di teras rumah menikmati angin sejuk, Rani berkata,
"Bu, nanti kalau aku sudah besar, aku ingin jadi orang sukses."
Sari tersenyum.
"Untuk apa?"
"Agar Ibu tidak perlu bekerja terlalu keras lagi."
Air mata Sari jatuh tanpa bisa ditahan. Namun kali ini bukan karena kesedihan.
Melainkan karena ia sadar, meski hidup mereka sederhana, ia telah memiliki harta paling berharga di dunia: seorang anak yang berhati baik.
Dan di ujung gang kecil tempat mereka tinggal, senyum itu akhirnya kembali hadir. ❤️