Hari pertama pelajaran setelah masa pengenalan sekolah akhirnya tiba.
Seperti biasa, aku berdiri di depan kelas dua sambil memandangi sepuluh murid yang duduk rapi di kursinya masing-masing.
"Anak-anak, hari ini kita kenalan lagi, ya. Nanti maju satu per satu."
Mereka mengangguk.
Beberapa terlihat bersemangat. Beberapa lainnya menunduk malu.
Saat itulah seorang anak mengangkat tangan.
"Bu, kenapa meja dan kursi yang di belakang itu nggak dipakai?"
Aku menoleh.
Di sudut kelas, sebuah meja dan kursi masih berdiri rapi.
Kosong.
Sudah bertahun-tahun kosong.
"Tidak apa-apa," jawabku sambil tersenyum. "Biarkan saja."
Anak itu mengangguk meski wajahnya masih bingung.
Aku tidak menjelaskan apa pun.
Bagaimana mungkin aku menjelaskan bahwa meja dan kursi itu mengingatkanku pada seorang murid yang pernah duduk di sana?
Seorang anak perempuan yang sangat pendiam.
Sangat pemalu.
Tapi selalu tersenyum.
Namanya Nisa.
Dulu aku sering dibuat gemas olehnya.
Setiap kali kutanya sesuatu, dia hanya tersenyum.
Saat kuberi pertanyaan, dia tersenyum.
Saat kutegur dengan lembut, dia juga tersenyum.
Sampai suatu hari aku berkata,
"Ngomong dong, Mbak. Ibu nggak bisa menerjemahkan senyumanmu."
Dan sejak saat itu, perlahan-lahan dia mulai berbicara.
Sedikit demi sedikit.
Meski tetap malu.
Meski tetap pelan.
Aku tidak pernah tahu di mana dia sekarang.
Yang pasti, dia pasti sudah tumbuh dewasa.
---
Siang harinya, setelah seluruh murid pulang, aku masih berada di kelas sambil merapikan buku.
Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu.
"Bu Nia... good afternoon."
Aku menoleh.
Seorang gadis muda berdiri di ambang pintu.
Usianya mungkin sekitar dua puluh tahunan.
Aku merasa wajahnya tidak asing.
Tapi aku tidak bisa langsung mengenalinya.
"Maaf, siapa ya?"
Gadis itu tersenyum.
Dan entah kenapa, senyum itu terasa sangat familiar.
"Ini saya, Bu. Nisa. Annisa Nur Fadhila."
Aku langsung berdiri.
"Ya ampun... Nisa?"
Dia tertawa kecil.
"Iya, Bu."
"Yang suka senyum itu?"
"Iya, Bu."
Kami sama-sama tertawa.
Rasanya seperti melihat waktu berputar kembali bertahun-tahun ke belakang.
---
"Ibu tahu?" katanya. "Ada satu kalimat yang selalu saya ingat sampai sekarang."
"Apa?"
Dia tersenyum.
"'Ngomong dong, Mbak. Ibu nggak bisa menerjemahkan senyumanmu.'"
Aku langsung tertawa.
"Ya ampun. Kamu masih ingat?"
"Tentu saja. Soalnya lucu."
"Lucu?"
"Iya. Soalnya waktu itu saya benar-benar cuma bisa senyum."
Aku menggeleng sambil tertawa.
"Ibu dulu gemas sekali sama kamu."
"Maaf ya, Bu."
"Nggak perlu minta maaf. Ibu paham kok."
Aku lalu bertanya tentang kehidupannya sekarang.
Dan aku terkejut saat mendengar jawabannya.
"Saya baru wisuda kemarin, Bu."
"Wisuda? Wah, selamat ya. Kamu kuliah jurusan apa?"
"Ilmu Komunikasi."
Aku menatapnya beberapa detik lalu tertawa kecil.
"Ilmu Komunikasi?"
"Iya, Bu."
"Dulu kamu jarang ngomong, sekarang malah kuliah di jurusan itu."
Nisa ikut tertawa.
"Soal jurusan itu sepertinya bisa bikin kerja di mana saja."
Aku mengangguk setuju.
Lalu pandangannya beralih ke arah belakang kelas.
"Oh iya, Bu." Nisa menunjuk ke sudut ruangan. "Tadi saya lihat ada meja dan kursi kosong di sana. Apa ada anak yang nggak masuk?"
"Nggak."
"Berarti memang nggak ada yang pakai?"
Aku mengangguk.
"Kenapa nggak dipindahkan ke gudang saja, Bu?"
Aku menoleh ke arah meja dan kursi itu.
Sudah bertahun-tahun benda itu berada di sana.
Entah kenapa aku tidak pernah benar-benar ingin memindahkannya.
"Itu kursimu dulu."
Nisa langsung menoleh ke arahku.
"Hah? Kursiku?"
Aku mengangguk.
"Iya. Kamu dulu duduk di sana."
Nisa menatap meja dan kursi itu bergantian.
Lalu kembali menatapku.
"Ya ampun, Bu. Saya bahkan sudah lupa."
"Tapi Ibu masih ingat."
"Kenapa sampai seperti itu, Bu?"
Aku tersenyum kecil.
"Karena setiap melihat kursi itu, Ibu jadi ingat kamu."
"Ingat saya?"
Aku mengangguk.
"Dulu setiap melihatmu, Ibu seperti melihat diri Ibu sendiri waktu sekolah. Sama-sama pendiam, sama-sama pemalu."
Nisa terdiam.
"Dan kamu juga murid yang paling berkesan buat Ibu."
Matanya langsung berkaca-kaca.
"Ya ampun, Bu..."
"Ibu juga masih ingat waktu kenaikan kelas tiga kamu kasih surat buat Ibu."
Nisa tertawa kecil di sela harunya.
"Karena Ibu adalah guru paling lucu yang pernah saya punya."
"Hahaha... masa sih?"
"Serius, Bu. Apalagi kalau Ibu mulai ngomong campur bahasa Inggris di kelas. Saya yang awalnya nggak tahu jadi tahu. Dan Ibu adalah salah satu guru yang paling menyenangkan selama saya sekolah."
Kini giliran aku yang terdiam.
Ternyata hal-hal kecil yang dulu kulakukan masih diingat olehnya.
"Terima kasih, Nisa."
Nisa menggeleng pelan.
"Justru saya yang harus berterima kasih, Bu."
Lalu ia menatap meja dan kursi itu sekali lagi.
"Tapi Ibu nggak perlu menyimpannya terus."
Aku menatapnya.
"Ibu boleh mengingat saya."
Ia tersenyum.
"Tapi cukup di kenangan saja."
Mataku langsung terasa hangat.
"Tidak perlu sampai menyimpan kursi saya selama bertahun-tahun."
---
Setelah Nisa pulang, aku berdiri lama di depan meja dan kursi itu.
Bertahun-tahun aku menyimpannya karena takut melupakan.
Padahal ternyata aku tidak pernah melupakannya.
Dan tidak akan pernah.
Aku tersenyum.
Lalu untuk pertama kalinya, aku mengangkat kursi itu dan membawanya ke gudang.
Bukan karena aku melupakan Nisa.
Tapi karena kenangan tentangnya sudah memiliki tempat yang lebih baik.
Di dalam hati.