Thea berlari secepat mungkin di koridor sekolah.
"Aduh! Pak guru jangan pergi dulu!"
Karena terlalu fokus, ia tidak melihat dua siswa laki-laki yang sedang berdiri sambil mengobrol di depan kelas.
BRUK!
Thea menabrak mereka bertiga sampai buku-buku berjatuhan.
"Aaah! Maaf! Maaf banget!" ucap Thea panik sambil buru-buru mengambil buku.
Namun setelah itu ia langsung lari lagi.
"Maaf ya! Aku buru-buru!"
Han menatap punggungnya dengan kesal.
"Cih. Nggak suka banget aku sama perempuan itu."
Maru mengangguk.
"Sama. Sangat menyebalkan."
Mereka berdua lalu berjalan pergi.
Tidak ada yang tahu kalau malam harinya sesuatu yang aneh terjadi.
---
Saat Han sedang tidur, sebuah jendela biru muncul di depannya.
[Selamat. Anda telah dipilih oleh Sistem.]
"Hah?"
[Kemampuan: Berbicara dengan hewan.]
[Kemampuan tambahan: Dapat membuat seseorang menyukai Anda.]
Han langsung bangun.
"Ini mimpi?"
Di tempat lain, Maru juga mendapatkan sistem.
[Kemampuan: Teleportasi.]
[Kemampuan tambahan: Dapat membuat seseorang jatuh cinta pada Anda.]
Maru menatap layar itu lama.
"Menarik."
Keesokan harinya mereka bertemu.
Setelah saling bercerita, mereka sama-sama terkejut.
"Kita berdua dapat sistem?" tanya Han.
Maru mengangguk.
Lalu entah kenapa mereka teringat pada satu orang.
Thea.
Perempuan yang menabrak mereka kemarin.
Han menyeringai.
"Gimana kalau kita coba kekuatan ini?"
Seminggu kemudian mereka menjalankan rencana.
Thea diajak ke perpustakaan dengan alasan membantu tugas.
Saat gadis itu datang, Han dan Maru saling memberi kode.
Mantra sistem aktif.
"Kami suka sama kamu."
Han tersenyum.
"Ayo kita date."
Aura aneh muncul.
Mata Thea membulat.
"...Eh?"
Beberapa detik kemudian ia tersenyum.
"Oke!"
Han dan Maru saling melirik.
Berhasil.
Atau setidaknya mereka mengira begitu.
---
Sejak hari itu Thea jadi sering berada di dekat mereka.
Saat istirahat?
Ada Thea.
Saat pulang sekolah?
Ada Thea.
Saat mereka sedang ngobrol?
Thea tiba-tiba datang membawa minuman.
"Kalian lagi ngapain?"
Han tertawa puas.
"Mantra kita ampuh."
Maru mengangguk.
"Sepertinya begitu."
Suatu hari mereka mencari Thea.
"Dia ke mana?"
Han bertanya pada teman dekat Thea.
Namanya Anna.
"Oh, Thea lagi di taman."
Mereka segera menuju taman.
Namun begitu melihat mereka...
Thea langsung berlari.
Han dan Maru tersenyum puas.
Tapi yang terjadi berikutnya membuat mereka membeku.
Thea melewati mereka.
Dan...
Memeluk Anna.
"ANNAAA!"
Han: "..."
Maru: "..."
Thea tersenyum cerah.
"Aku kangen banget sama kamu!"
Anna membalas pelukannya.
"Aku baru ketemu kamu tadi pagi."
Han dan Maru saling pandang.
Ada yang salah.
Harusnya Thea hanya fokus pada mereka.
Harusnya dia tidak terlalu peduli pada orang lain.
Namun kenyataannya...
Thea tetap sangat dekat dengan Anna.
Beberapa hari kemudian mereka mengajak Anna bertemu diam-diam.
Anna duduk santai di kursi taman.
"Jadi?"
Han langsung bertanya.
"Kenapa Thea bisa sedekat itu sama kamu?"
Anna berkedip.
"Hah?"
Maru ikut bicara.
"Kekuatan kami seharusnya membuat Thea hanya tertarik pada kami."
Anna terdiam.
Lalu tiba-tiba tertawa.
"Pfft."
Han mengernyit.
"Kenapa ketawa?"
Anna menatap mereka berdua.
"Kalian serius nggak tahu?"
"Apa?"
Anna tersenyum misterius.
"Kekuatan Thea kebal terhadap semua kekuatan."
"..."
"..."
Han dan Maru membeku.
"Hah?"
"Kebal?"
Anna mengangguk.
"Dari kecil dia memang begitu."
"Kalian pikir mantra kalian berhasil?"
Han mulai panik.
"Kalau bukan karena mantra..."
Anna tersenyum.
"Itu karena Thea memang mau berteman dengan kalian."
Mata Han membesar.
Maru juga terdiam.
Lalu mereka mengingat semuanya.
Thea yang selalu datang membawa minuman.
Thea yang menunggu mereka pulang.
Thea yang tertawa saat bersama mereka.
Semua itu...
Bukan karena kekuatan.
Han berdiri perlahan.
"Tunggu."
Maru juga ikut berdiri.
"Berarti dari awal..."
Anna mengangguk.
"Dari awal kekuatan kalian tidak pernah bekerja pada Thea."
Keheningan menyelimuti taman.
Han dan Maru langsung pergi tanpa berkata apa-apa lagi.
Mereka terlalu syok.
Malam itu mereka tidak bisa tidur.
Untuk pertama kalinya mereka menyadari sesuatu.
Perasaan yang tumbuh di hati mereka selama ini...
Bukan karena permainan sistem.
Bukan karena mantra.
Mereka benar-benar menyukai Thea.
Dan yang lebih membuat jantung mereka berdebar...
Mungkin saja...
Thea menyukai mereka apa adanya.
Bukan karena kekuatan.
Melainkan karena diri mereka sendiri.
To Be Continued... 💙✨📚
Kalo ingett lanjut😋