Dokter bilang dua minggu. Minimal dua minggu Yuna tidak boleh bicara.
Di bawah pendar lampu yang dingin di ruang pemeriksaan, Yuna hanya mampu menatap lurus ke arah foto rontgen rahangnya sendiri. Tiga garis hitam memotong tulang putih yang rapuh, retakan yang mengunci mulutnya dari dunia luar.
Di dalam mobil ringsek malam itu, ada dua orang. Namun, yang dibawa keluar dengan rahang hancur berantakan hanya satu. Yuna.
Kata dokter dari rumah sakit kecil itu, gigi depan kirinya copot akibat benturan hebat. Beruntung, sebuah fragmen gigi utuh ditemukan terlempar di atas kursi penumpang. Ukuran dan strukturnya dinilai sangat cocok untuk prosedur implan darurat.
Yuna tidak bertanya. Mulutnya terjahit rapat, dan matanya terlalu lelah untuk mempertanyakan fragmen gigi siapa yang sebenarnya tertinggal di kursi penumpang malam itu.
***
Enam hari sejak kecelakaan. Yuna duduk membeku di atas sofa ruang tamu. Perban putih membungkus separuh wajahnya dengan ketat, menahan rasa nyut-nyutan yang konstan dari gusi yang bengkak meradang. Di dapur, keran air menetes pelan. Satu tetes setiap tiga detik. Menjadi satu-satunya metronom dalam kesunyian rumah.
Gigi implan baru di sela gusi depan itu terasa asing. Bukan karena bentuk atau posisinya, melainkan karena suhunya.
Gigi asli manusia akan melunak mengikuti kehangatan rongga mulut. Namun, implan ini tetap dingin. Dingin yang ganjil dan menusuk, persis seperti sebongkah es kecil yang baru dikeluarkan dari ruang pembeku. Rasa sedingin es itu terus bertahan bahkan setelah satu menit penuh lidah Yuna menempel di permukaannya.
Ia meraba ponselnya dengan jemari gemetar, membuka aplikasi catatan, lalu mengetikkan sebaris kalimat,
“Rasanya aneh. Gigi ini dingin terus.”
Begitu tombol simpan ditekan, sebuah suara merambat dari pangkal gigi dingin itu. Getaran mikronya mirip kepakan serangga di dalam daging, seperti ada lidah lain yang sedang bergerak di sana, padahal lidah Yuna sendiri diam membeku.
“Hmm!”
Yuna memekik panik, jemarinya refleks menekan bibirnya kuat-kuat hingga jahitannya terasa perih. Getaran aneh itu mendadak berhenti. Ia menunggu dalam ketakutan yang pekat, menahan napas panjang sampai bunyi tetesan keran dapur kembali menjadi satu-satunya pertanda bahwa waktu belum berhenti.
***
Esoknya, di depan cermin kamar mandi, Yuna melepas perban. Rahang bawahnya membiru, kontras dengan jahitan gusi yang mirip rajutan karung beras.
Ia memeriksa implan itu. Warnanya kekuningan dan terlalu runcing. Saat disentuh, permukaannya licin padat seperti pecahan keramik, tanpa pori-pori alami gigi manusia.
Begitu jari ditarik, gigi itu bergerak.
Bergeser satu milimeter ke kanan, lalu berayun ke kiri dengan ritme mirip bandul jam tua. Yuna tersentak mundur sampai membentur pintu. Begitu ia menjauh, gerakan itu mendadak berhenti.
‘Halusinasi? Pasti efek obat’, batinnya.
Tapi cermin tidak berbohong. Darah pekat mulai merembes dari sela gusi, mengalir mengotori bibir bawahnya. Yuna buru-buru menyambar kasa putih yang baru dan menekannya kuat-kuat, membiarkan noda merah di kain itu melebar dengan cepat.
***
Malam berikutnya, Yuna duduk bersila di lantai dapur yang dingin dengan nafas memburu. Tangan kanannya mencengkeram erat sebuah tang besi kecil, alat perkakas berkarat yang biasa ia gunakan untuk memperbaiki pipa wastafel yang bocor.
Ia memutuskan untuk mencabut benda terkutuk itu malam ini juga. Rasa sakit akibat pencabutan paksa jauh lebih masuk akal dibanding teror diam-diam yang perlahan menggerogoti kewarasannya.
Ujung tang masuk ke dalam rongga mulutnya yang basah. Logam dingin perkakas itu bergesek kasar dengan permukaan implan. Cengkeraman pertama dikunci. Yuna menariknya sekuat tenaga, tetapi implan itu tidak goyang sedikit pun. Cengkeraman kedua dipererat. Logam tang menggores permukaan gigi hingga menimbulkan bunyi linu yang ngilu.
‘Krek.. krek..’
Yuna terengah engah, mendengar suaranya saja sudah membuatnya ragu. Namun gigi itu masih tidak bergeming. Pada tarikan ketiga yang melibatkan seluruh otot lengannya, rasa sakit luar biasa menjalar brutal, seolah-olah ia sedang berusaha mencopot seluruh bongkahan tulang rahang bawahnya sendiri.
Yuna meringis lalu melepas tang itu dengan paksa. Darah segar terlanjur membanjiri dagu hingga menetes ke baju tidurnya. Benda itu menolak lepas. Bukan karena struktur akar buatannya yang kuat, melainkan karena akar tersebut terasa telah melebur dan menyatu secara biologis dengan sumsum tulangnya.
Ia menjatuhkan tang besi itu ke atas keramik. Bunyi dentang logamnya menggema nyaring.
Tepat saat gema logam itu surut, sesuatu bergerak di balik giginya.
Yuna merangkak panik menuju kamar tidur. Ia menggulung tubuhnya di dalam selimut tebal, menutup seluruh kepala dan telinganya erat-erat. Ia hanya ingin memejamkan mata, memohon agar fajar segera tiba dan mengembalikan segalanya menjadi normal.
Namun, entitas di dalam mulutnya tidak lagi membutuhkan kepatuhan bibir atau lidah untuk berbicara. Suara itu kini bergaung langsung melalui tulang pipi, merambat ke rahang bawah, menembus dinding gusi yang meradang. Rasanya seakan ada seseorang yang berbisik tepat di pusat tempurung kepalanya.
“Kau terima gigiku. Sekarang terima aku.”
Yuna tersentak bangun, matanya melotot lebar menembus kegelapan kamar. Ia menyambar ponsel di samping bantal. Dengan jemari yang gemetar hebat, ia membuka aplikasi catatan dan mengetik cepat,
“Gigi siapa?”
Cahaya layar ponsel sempat meredup selama satu detik sebelum mendadak benderang kembali. Di bawah baris pertanyaannya, catatan baru terketik otomatis tanpa ada jari menyentuh keyboard,
“Milikku...”
Yuna melempar ponsel itu ke arah dinding dengan sekuat tenaga. Layar kacanya retak seribu akibat benturan. Namun, di sudut lantai yang gelap, benda itu tetap menyala terang, memantulkan sebaris teks gila yang menolak mati, ‘Milikku…’
***
Sembilan malam sejak hari kecelakaan itu, Yuna terbangun dengan sensasi tebal dan aneh yang memenuhi rongga mulutnya. Ia segera berlari ke kamar mandi, membuka mulut lebar-lebar di bawah sorotan lampu wastafel.
Implan kuning itu terdiam kokoh di tempatnya, tidak lagi berayun. Tidak ada pendarahan baru. Namun, pemandangan pada jaringan lidahnya membuat jantung Yuna seakan berhenti. Bagian kiri lidahnya, tepat di area yang bersentuhan langsung dengan implan tajam itu, tampak koyak robek. Tepian dagingnya compang-camping, meninggalkan pola gerigi kecil yang beraturan.
Seperti ada sesuatu yang diam-diam menggerogoti dan menggigit lidahnya kecil-kecil saat ia tertidur.
Ia memberanikan diri mencolek luka itu dengan ujung jari. Tidak ada rasa sakit yang tersisa. Mati rasa total, digantikan oleh sensasi dingin yang merayap lambat menuju pangkal tenggorokan.
Dari balik kegelapan rongga mulutnya, suara laki-laki itu kembali terdengar. Kali ini ia tertawa pelan. Suara tawa yang berat, terdengar kenyang dan puas.
Suara tawa tidak asing itu membangkitkan ketakutan terpendam dari dirinya. Yuna ingin berlari keluar rumah mencari pertolongan, tetapi di luar hujan badai mengamuk deras. Jam dinding menunjukkan pukul dua pagi. Tidak ada klinik yang buka. Tetangga apartemennya pun sudah lama mengabaikan unitnya sejak dua tahun lalu. Bagi mereka, Yuna hanyalah perempuan bermasalah yang kerap menimbulkan suara-suara jeritan gaduh di tengah malam.
Akhirnya, Yuna memilih mengunci diri di dalam kamar mandi. Ia menyalakan seluruh lampu, berjanji pada dirinya sendiri untuk tetap terjaga hingga matahari terbit. Ia tidak boleh membiarkan matanya terpejam lagi.
Pertahanan manusianya runtuh di ambang batas kesadaran. Tujuh jam kemudian, dalam kondisi setengah bermimpi di lantai keramik, telinganya menangkap bunyi yang sangat dekat, suara kunyahan daging basah.
***
Paginya Yuna terbangun dengan posisi leher yang kaku dan kram hebat. Seluruh rongga mulutnya mendadak terasa lowong dan kosong secara ganjil.
Ia memaksakan tubuhnya bangkit, berlutut menghadap cermin wastafel dan menjulurkan apa yang tersisa di dalam mulutnya. Lidahnya masih berada di sana, tetapi ukurannya kini jauh lebih pendek. Setengah bagian depannya telah hilang lenyap, menyisakan potongan daging rata yang compang-camping menyerupai bekas guntingan tumpul. Jejak bekas gigitan beruntun terlihat jelas di sepanjang tepian luka.
Ia mulai menangis histeris. Suara tangisannya keluar dalam nada serak dan parau yang asing, persis seperti raungan seseorang yang telah berteriak semalaman suntuk, meskipun ia sama sekali tidak mengingat pernah mengeluarkan suara.
Dengan sisa kewarasan yang menipis, Yuna membuka laci kabinet dan mengambil silet cukur baru.
Ia akan memotong gusi itu sendiri. Ia akan mencungkil implan kuning itu keluar, tidak peduli jika jaringan dagingnya harus robek hancur atau tulang rahangnya kembali patah berkeping-keping. Benda asing itu harus segera lenyap dari tubuhnya.
Tepat saat mata silet yang berkilau menyentuh permukaan gusi bawah yang bengkak, suara laki-laki itu berbisik sangat dekat, tepat di balik gendang telinganya,
“Kau bunuh aku sekali. Sekarang biarkan aku hidup.”
Gerakan tangan Yuna langsung terkunci di udara.
‘Kau bunuh aku sekali.’
Kalimat itu memicu pecahan memori malam kecelakaan yang selama ini terkubur di balik trauma kepala. Laporan resmi kepolisian menyatakan kejadian itu murni kecelakaan tunggal akibat malfungsi kendaraan di persimpangan jalan yang gelap. Sebuah mobil truk datang dari arah yang salah, dan laki-laki di kursi kemudi tidak memiliki waktu untuk menghindar.
Namun, ingatan Yuna malam ini mendadak jernih tanpa cela. Sedetik sebelum sepasang lampu sorot truk itu menghantam kabin, tangannyalah yang berada di atas lingkar setir kemudi. Bukan tangan laki-laki itu.
Ia mengingatnya karena laki-laki di kursi penumpang, pria di kursi penumpang yang tak berhenti berteriak sepanjang perjalanan, sempat berteriak kasar,
“Dasar Jalang! Menghindar!”
Dan dengan sadar, Yuna memutar kemudi kuat-kuat ke arah kiri. Menyongsong hantaman besi truk tepat di sisi kursi penumpang.
Silet cukur di tangannya terlepas, jatuh berdenting di atas lantai keramik.
Yuna terdiam membeku di dalam kegelapan kamar mandi. Mulutnya menganga lebar. Implan kuning di rahang bawahnya tampak tenang, seolah telah memenangkan pertempuran. Dari sela-sela gusi terluka, sejenis cairan bening mulai merembes keluar banyak. Karakteristiknya bukan darah, cairannya jauh lebih kental dan pekat menyerupai air liur milik orang asing.
Rasa cairan itu sangat asin di ujung lidahnya yang tersisa.
Yuna perlahan mengatupkan mulutnya, lalu menelan cairan kental tersebut dalam satu gerakan lambat.
***
Yuna tidak lagi memiliki ingatan bagaimana caranya ia bisa berpindah ke sofa ruang tamu. Ia hanya duduk diam di sana selama berhari-hari, dengan ponsel retak yang terus menyala di pangkuannya. Di layar yang pecah, dua kata itu berulang kali muncul dan hilang,
“Aku membunuhnya.”
Ia meletakkan ponsel di meja, lalu meraba rahang bawahnya. Implan kuning itu kini hangat, menyatu sempurna dengan dagingnya.
Dari dalam kepalanya sendiri, suara itu berbisik lembut, hampir mesra,
“Sekarang giliranku… ya?”
Yuna tidak menjawab. Ia hanya bersandar, membiarkan sisa lidahnya dikunyah perlahan dari ujung hingga pangkal. Tak ada rasa sakit lagi. Hanya geli ribuan semut yang bergerak pelan di dalam mulutnya.
Akhirnya ia membuka mulut lebar-lebar, seolah ingin mengucapkan sesuatu untuk terakhir kali. Tanpa lidah, yang keluar hanyalah bunyi basah dan cadel yang pecah-pecah,
“Nnga… ha… ha…”
Suara itu terdengar menyedihkan, seperti anak kecil yang baru belajar bicara setelah mulutnya dihancurkan. Matanya kosong. Tak ada perlawanan lagi, hanya pemasrahan total yang tenang.
Di dapur, keran air terus menetes.
Tuk. Tuk. Tuk.
"Event Cerpen GC Rumah Menulis"