Bab 1: Janji di Bawah Pohon Beringin
Hari itu sore menjelang malam, langit berwarna jingga kemerahan menaungi pohon beringin tua di ujung desa Medan. Di bawah rindangnya dahan itu, Dimas menggenggam tangan Lestari erat-erat. Usianya baru dua puluh dua tahun, belum punya apa-apa selain semangat kerja dan hati yang tulus.
“Lestari, dengarkan janji gue,” ucap Dimas dengan suara mantap meski matanya sedikit berkaca. “Demi kamu aku rela mengorbankan segalanya asalkan kamu bahagia. Gue nggak janji hidup mewah sekarang, tapi gue janji akan berusaha sampai tetes darah terakhir supaya kamu nggak pernah merasakan kekurangan.”
Lestari menunduk tersenyum haru, lalu membalas genggamannya. “Gue percaya sama kamu, Dimas. Yang penting kita bersama, itu sudah cukup bahagia buat gue.”
Mereka berdua tahu rintangan akan datang. Keluarga Lestari keberatan melihat Dimas yang hanya anak petani biasa, tidak punya jabatan dan harta. Namun Dimas bertekad membuktikan bahwa cinta bukan sekadar soal materi.
Bab 2: Memulai Hidup dari Nol
Setelah menikah sederhana, Dimas dan Lestari pindah ke sebuah rumah kecil sewaan di pinggiran kota. Dimas bekerja sebagai kuli bangunan dari pagi buta sampai malam, sedangkan Lestari membantu menjahit pakaian untuk tetangga.
Setiap hari Dimas pulang dengan badan lelah dan peluh membasahi seluruh tubuh, tapi senyum tak pernah hilang saat melihat Lestari menyambutnya. “Istirahatlah dulu, Dimas. Jangan terlalu memaksakan diri,” kata Lestari sambil menyiapkan makanan sederhana.
Dimas menggeleng. “Nggak apa-apa, Lestari. Demi kamu aku rela mengorbankan segalanya asalkan kamu bahagia. Kalau kamu senang melihat rumah ini makin layak, tenaga gue terasa tak terbatas.”
Ia rela menahan lapar siang hari supaya uang makan bisa ditabung untuk membeli kebutuhan rumah tangga.
Bab 3: Mengorbankan Impian Sendiri
Dimas sebenarnya punya bakat melukis. Sejak muda ia ingin mengikuti kursus seni dan memamerkan karyanya. Namun saat ia melihat Lestari butuh obat untuk sakit kepalanya yang sering kambuh, ia memutuskan menjual semua peralatan melukisnya.
Lestari terkejut melihat lukisan-lukisan kesayangannya hilang. “Dim, kenapa kamu jual semua itu? Itu kan impian kamu sejak kecil!”
Dimas tersenyum tenang. “Impian itu bisa ditunda, tapi kesehatan kamu nggak bisa ditawar. Demi kamu aku rela mengorbankan segalanya asalkan kamu bahagia dan sehat. Lukisan bisa dibuat lagi nanti, kalau kamu sudah baik.”
Lestari menangis terharu menyadari betapa besar pengorbanan suaminya.
Bab 4: Pindah ke Kota Besar
Untuk mendapatkan penghasilan lebih baik, Dimas menerima tawaran bekerja di kota besar yang berjarak ratusan kilometer. Ia harus meninggalkan Lestari sementara waktu, sesuatu yang paling berat baginya.
Malam sebelum berangkat, Dimas memeluk istrinya erat. “Gue nggak suka jauh dari kamu, Lestari. Tapi di sana gue bisa dapat gaji dua kali lipat. Demi kamu aku rela mengorbankan segalanya asalkan kamu bahagia dan hidup lebih layak.”
Ia rela menahan rindu, tidur di tempat sempit, dan makan seadanya supaya bisa mengirim hampir seluruh gajinya pulang setiap bulan.
Bab 5: Membiayai Adik Istrinya
Tak lama kemudian, adik Lestari, Rian, lulus SMA dan ingin melanjutkan kuliah. Keluarga Lestari mengaku tidak punya biaya, dan meminta bantuan Dimas. Tanpa ragu Dimas menyetujuinya.
Ia mengurangi jatah makannya lagi, bahkan menolak membeli sepatu baru yang sudah bolong selama setahun. “Rian punya masa depan yang cerah. Demi kamu aku rela mengorbankan segalanya asalkan kamu bahagia melihat adikmu sukses,” katanya saat Lestari merasa bersalah.
Lestari hanya bisa berdoa agar suatu hari nanti ia bisa membalas kebaikan suaminya.
Bab 6: Mendapat Cedera Kerja
Suatu hari di lokasi proyek, Dimas terjatuh dari ketinggian dua meter dan mengalami cedera pada kaki kanannya. Dokter menyarankan istirahat total selama tiga bulan, tapi Dimas memaksakan diri kembali bekerja setelah dua minggu saja.
“Kalau gue berhenti, uang untuk kebutuhan rumah dan kuliah Rian akan terhenti,” katanya saat Lestari melarangnya. “Demi kamu aku rela mengorbankan segalanya asalkan kamu bahagia dan nggak merasa terbebani masalah uang.”
Kakinya terasa nyeri setiap malam, tapi ia menyembunyikannya agar istrinya tidak cemas.
Bab 7: Membeli Rumah Impian
Setelah lima tahun bekerja keras, Dimas berhasil mengumpulkan uang muka untuk membeli rumah kecil yang selalu diimpikan Lestari. Saat menyerahkan kunci itu, matanya berbinar bahagia.
“Lihat, Lestari. Akhirnya kita punya tempat sendiri. Gue rela mengorbankan waktu istirahat, hobi, bahkan kesehatan gue sendiri. Demi kamu aku rela mengorbankan segalanya asalkan kamu bahagia tinggal di sini.”
Lestari memeluknya erat, menyadari setiap sudut rumah itu terbuat dari keringat dan pengorbanan suaminya.
Bab 8: Mengorbankan Waktu Bersama
Semakin lama, Dimas semakin sibuk dengan dua pekerjaan sekaligus. Ia jarang punya waktu untuk berjalan-jalan atau sekadar mengobrol santai dengan Lestari. Kadang ia pulang saat Lestari sudah terlelap tidur.
Lestari sempat merasa kesepian, tapi ia tahu alasannya. “Maaf kalau gue jarang ada di samping kamu,” ucap Dimas suatu malam. “Demi kamu aku rela mengorbankan segalanya asalkan kamu bahagia, termasuk waktu gue sendiri. Nanti kalau semuanya sudah cukup, gue akan temani kamu kemanapun kamu mau.”
Bab 9: Membantu Mertua Sakit
Ayah Lestari jatuh sakit parah dan harus dirawat di rumah sakit. Biaya pengobatannya sangat besar. Dimas segera menjual sepeda motor satu-satunya yang ia gunakan untuk bekerja.
“Gue bisa naik angkutan umum atau jalan kaki, tapi nyawa Ayah nggak bisa diganti,” katanya tegas. “Demi kamu aku rela mengorbankan segalanya asalkan kamu bahagia melihat Ayah sembuh kembali.”
Setiap hari ia berjalan kaki sejauh lima kilometer menuju tempat kerja meski kakinya masih terasa sakit bekas cedera dulu.
Bab 10: Rasa Cemas yang Menyelinap
Lestari mulai khawatir melihat kondisi Dimas yang makin kurus dan pucat. “Dimas, berhentilah sejenak. Kita bisa hidup sederhana saja, nggak perlu mewah,” pintanya.
Namun Dimas menggeleng. “Gue nggak mau kamu merasa kekurangan apa pun dibanding orang lain. Demi kamu aku rela mengorbankan segalanya asalkan kamu bahagia. Jangan khawatir, gue masih kuat.”
Ia menyembunyikan fakta bahwa ia sering merasa pusing dan sesak napas sejak beberapa bulan terakhir.
Bab 11: Rian Mulai Menganggap Biasa
Adik Lestari, Rian, lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan. Namun ia mulai menganggap bantuan Dimas selama ini sebagai hal yang wajar. Ia bahkan meminta Dimas membelikannya mobil untuk memudahkan perjalanan ke kantor.
Lestari merasa tidak enak hati, tapi Dimas berkata, “Biarkan saja. Kalau membuat kamu senang, itu sudah cukup. Demi kamu aku rela mengorbankan segalanya asalkan kamu bahagia.”
Ia mulai bekerja pada malam hari sebagai penjaga toko untuk menambah penghasilan.
Bab 12: Mengorbankan Kesehatan Secara Diam-diam
Setiap malam, Dimas menahan nyeri di dada dan pinggangnya. Ia minum obat pereda nyeri yang dibeli di warung tanpa memeriksakan diri ke dokter agar tidak mengeluarkan biaya.
“Gue cuma kecapekan biasa,” jawabnya saat Lestari menanya. “Demi kamu aku rela mengorbankan segalanya asalkan kamu bahagia. Jangan sampai kekhawatiran gue menambah beban pikiran kamu.”
Padahal kondisinya makin memburuk hari demi hari.
Bab 13: Membiayai Pernikahan Rian
Rian hendak menikah dan meminta bantuan biaya lagi. Banyak orang mengira Dimas sudah mapan, padahal ia masih menyisihkan sedikit untuk kebutuhan sehari-hari. Ia meminjam uang dengan bunga tinggi dari teman kerja.
Lestari menolak, tapi Dimas membujuknya, “Ini kebahagiaan adik kamu. Kalau kamu bahagia melihatnya menikah, maka itu sudah jadi kebahagiaan gue juga. Demi kamu aku rela mengorbankan segalanya asalkan kamu bahagia.”
Bab 14: Utang yang Mulai Menumpuk
Setelah membiayai pernikahan Rian, utang Dimas bertambah banyak. Ia harus membayar cicilan setiap bulan, sehingga sisa uang yang dimiliki sangat sedikit. Ia mengurangi makan sampai satu kali sehari.
Lestari akhirnya mengetahui hal ini dan menangis sedih. “Kenapa kamu tidak bilang sama gue, Dimas?”
Dimas tersenyum lemah. “Supaya kamu tidak sedih. Demi kamu aku rela mengorbankan segalanya asalkan kamu bahagia. Percayalah, gue bisa mengatasinya.”
Bab 15: Tanda Bahaya yang Muncul
Suatu pagi, Dimas terjatuh pingsan saat hendak berangkat kerja. Ia dibawa ke rumah sakit dan dokter menyatakan kondisinya sudah lemah karena kelelahan dan kurang gizi.
“Dia harus istirahat total dan makan makanan bergizi, kalau tidak bisa berbahaya bagi jantungnya,” tegas dokter.
Lestari memandang suaminya dengan mata berkaca-kaca, menyadari betapa besar harga yang dibayar Dimas demi kebahagiaannya.
Bab 16: Berusaha Tetap Bekerja
Setelah sadar, Dimas memaksa keluar dari rumah sakit lebih cepat dari jadwal. Ia takut jika berhenti bekerja, utang tidak bisa dibayar dan kebutuhan rumah terganggu.
“Dimas, dengarkan dokter,” pinta Lestari. “Kita bisa cari jalan lain.”
Namun Dimas menjawab tegas, “Demi kamu aku rela mengorbankan segalanya asalkan kamu bahagia. Gue nggak mau kamu merasa terhina atau kekurangan apa pun. Gue masih kuat.”
Bab 17: Rian Mulai Jauh
Setelah menikah dan punya penghasilan sendiri, Rian makin jarang datang berkunjung. Ia bahkan tidak menanyakan kabar Dimas yang sedang sakit. Sikapnya membuat Lestari kecewa, tapi Dimas menenangkannya.
“Jangan pikirkan dia. Yang penting kamu tidak merasa bersalah. Demi kamu aku rela mengorbankan segalanya asalkan kamu bahagia, meskipun balasannya tidak seperti yang kita harapkan,” katanya bijaksana.
Bab 18: Lestari Mulai Mengambil Alih
Melihat kondisi Dimas yang makin lemah, Lestari mulai berhenti menerima bantuan apa pun dari keluarganya dan mulai bekerja lebih giat menjahit. Ia ingin mengurangi beban suaminya.
“Dimas, mulai hari ini kita berbagi tugas. Kamu istirahat dulu, biar gue yang bekerja,” katanya tegas. “Gue baru sadar, selama ini kamu terlalu banyak mengorbankan diri sampai melupakan kebutuhan kamu sendiri.”
Bab 19: Dimas Menyembunyikan Hasil Pemeriksaan
Dimas mendapatkan hasil pemeriksaan bahwa jantungnya sudah lemah akibat kerja berlebihan dan kurang gizi. Ia menyembunyikan surat itu agar Lestari tidak panik.
Ia terus berkata, “Gue baik-baik saja. Demi kamu aku rela mengorbankan segalanya asalkan kamu bahagia. Kalau kamu bahagia, hati gue terasa ringan meski badan terasa berat.”
Bab 20: Membeli Hadiah Ulang Tahun
Di ulang tahun pernikahan mereka yang ke sepuluh, Dimas menyisihkan uang receh selama berbulan-bulan untuk membeli kalung sederhana yang selalu dilihat Lestari di etalase toko.
“Maaf kalau hadiahnya tidak mahal,” katanya sambil tersenyum lelah. “Tapi ini tanda bahwa janji gue masih sama. Demi kamu aku rela mengorbankan segalanya asalkan kamu bahagia.”
Lestari menangis saat memakainya, merasakan beratnya pengorbanan di balik hadiah itu.
Bab 21: Mengorbankan Tabungan Masa Depan
Dimas sudah mengumpulkan sedikit tabungan untuk biaya pengobatan dirinya sendiri suatu hari nanti. Namun saat Lestari ingin mengikuti kursus merias wajah untuk menambah penghasilan, ia langsung menyerahkan tabungan itu.
“Gunakan saja untuk kebutuhan kamu. Demi kamu aku rela mengorbankan segalanya asalkan kamu bahagia dan punya keahlian yang lebih baik,” ucapnya tanpa ragu.
Bab 22: Kondisi Kesehatan Makin Turun
Sekarang Dimas sering terbatuk darah dan sesak napas saat beraktivitas ringan sekalipun. Ia mulai berjalan tertatih-tatih, tapi tetap memaksakan diri melakukan pekerjaan rumah supaya Lestari tidak kelelahan.
“Dimas, duduklah! Biar gue yang melakukannya,” seru Lestari sambil membantunya berdiri.
“Tidak apa-apa, gue masih bisa. Demi kamu aku rela mengorbankan segalanya asalkan kamu bahagia dan merasa nyaman di rumah ini,” jawabnya dengan napas terengah-engah.
Bab 23: Rahasia Mulai Terbongkar
Suatu hari Lestari menemukan surat hasil pemeriksaan kesehatan yang tersembunyi di laci meja. Membaca isinya, ia terkejut dan menangis tersedu-sedu. Ia segera memanggil Dimas.
“Kenapa kamu menyembunyikan ini dari gue? Kamu sudah sakit parah, tapi masih terus bekerja keras!” teriaknya sambil menangis.
Dimas menunduk diam, lalu menjawab pelan, “Supaya kamu tidak sedih. Demi kamu aku rela mengorbankan segalanya asalkan kamu bahagia. Kalau kamu bahagia, gue sudah merasa cukup.”
Bab 24: Lestari Mengambil Keputusan
Lestari segera meminta Dimas berhenti bekerja total. Ia memutuskan untuk menutup semua utang secara bertahap dari penghasilannya sendiri dan bantuan teman dekat. Ia juga meminta Dimas untuk berobat secara teratur.
“Mulailah sekarang, giliran gue yang berkorban untuk kamu,” katanya tegas. “Bahagia gue bukan kalau kamu terus menyakiti diri sendiri, tapi kalau kamu sehat dan ada di samping gue.”
Bab 25: Mengurangi Gaya Hidup
Mereka mulai hidup lebih sederhana. Lestari menolak setiap permintaan bantuan dari keluarga yang selama ini membuat Dimas terbebani. Ia menjelaskan dengan jujur kondisi Dimas.
Beberapa anggota keluarga merasa kecewa, tapi Lestari tidak peduli. “Kebahagiaan suami gue lebih penting daripada apa pun,” tegasnya.
Bab 26: Rasa Bersalah yang Mulai Muncul
Mendengar kabar kondisi Dimas, Rian akhirnya datang berkunjung. Ia melihat Dimas yang dulunya kuat dan gagah sekarang terlihat kurus lemah. Rasa bersalah mulai menyelimuti hatinya.
“Kak Dimas… maafkan Rian. Rian baru sadar Kakak sudah berkorban banyak untuk gue dan keluarga,” ucapnya dengan suara terguncang.
Bab 27: Dimas Tetap Berpikir Positif
Meskipun sakit, Dimas tidak pernah mengeluh. Ia duduk di teras rumah sambil melihat Lestari bekerja, tersenyum bahagia.
“Lihat, Lestari. Gue sudah melakukan apa yang gue janjikan dulu. Demi kamu aku rela mengorbankan segalanya asalkan kamu bahagia, dan gue merasa sudah berhasil melakukannya,” katanya tenang.
Bab 28: Pengobatan yang Berjalan Lambat
Pengobatan Dimas memakan waktu lama dan biaya yang tidak sedikit. Lestari bekerja siang malam, namun ia tetap semangat. “Gue akan mengembalikan semuanya yang sudah kamu berikan ke gue,” katanya setiap hari.
Dimas hanya memandangnya dengan tatapan penuh rasa sayang yang tak terucapkan.
Bab 29: Rian Mulai Membalas Bantuan
Rian mulai mengirimkan uang setiap bulan untuk membantu biaya pengobatan Dimas. Ia juga mengakui kesalahannya yang dulu menganggap kebaikan Dimas sebagai kewajiban semata.
“Gue janji akan melunasi utang budi ini selamanya,” ucapnya.
Bab 30: Mengenang Masa Lalu
Suatu sore, Dimas meminta Lestari duduk di sampingnya. Mereka mengenang kembali hari pertama janji di bawah pohon beringin tua.
“Gue tidak menyesal satu detik pun dari pengorbanan gue,” kata Dimas lembut. “Demi kamu aku rela mengorbankan segalanya asalkan kamu bahagia. Itu sudah menjadi jalan hidup gue sejak hari pertama kita bersama.”
Bab 31: Kesehatan yang Naik Turun
Kondisi Dimas kadang membaik, kadang memburuk lagi. Setiap kali ia terasa lebih baik, ia berusaha melakukan hal-hal kecil untuk membantu Lestari.
“Jangan larang gue, Lestari. Melakukan sesuatu untuk kamu membuat hati gue terasa lebih ringan,” ucapnya saat Lestari melarangnya bergerak banyak.
Bab 32: Tetap Memegang Janji
Meskipun tubuhnya lemah, Dimas tidak pernah mengubah sikapnya. Ia selalu mengutamakan kebahagiaan Lestari di atas segala hal. Bahkan saat ia merasa sangat sakit, ia berusaha menyembunyikannya agar istrinya tidak sedih.
“Janji itu tidak berubah sampai akhir napas gue,” katanya tegas.
Bab 33: Keluarga Mulai Mengerti
Mertua Dimas akhirnya datang mengunjungi dan mengakui kesalahannya yang dulu memandang rendah Dimas. “Anak baik, maafkan kami yang dulu tidak melihat hatimu yang tulus,” ucap Ayah Lestari sambil memegang tangan Dimas.
Bab 34: Lestari Menjadi Penopang
Sekarang Lestari yang menjadi kekuatan utama. Ia selalu ada untuk menemani Dimas berobat, memasakkan makanan kesukaannya, dan membacakan cerita sebelum tidur. Ia ingin Dimas merasakan kebahagiaan yang sama seperti yang ia rasakan selama ini.
Bab 35: Mengingatkan Makna Cinta
Suatu malam, Dimas berkata dengan suara lembut, “Banyak orang bilang cinta itu memberi yang terbaik. Gue membuktikannya dengan cara gue sendiri. Demi kamu aku rela mengorbankan segalanya asalkan kamu bahagia, meskipun itu berarti mengorbankan sebagian hidup gue sendiri.”
Lestari menangis sambil memeluknya erat, menyadari makna cinta yang sesungguhnya.
Bab 36: Memperbaiki Hubungan dengan Rian
Dimas memaafkan Rian dengan lapang dada. “Yang penting kamu sudah sadar. Pengorbanan gue untuk kamu adalah bagian dari kebahagiaan Lestari, jadi itu sudah cukup,” katanya menenangkan.
Rian berjanji akan menjaga Lestari dan Dimas selamanya.
Bab 37: Kehidupan yang Lebih Tenang
Setelah utang lunas dan gaya hidup diperbaiki, kehidupan mereka menjadi lebih tenang meski sederhana. Dimas bisa beristirahat dengan tenang, dan Lestari merasa damai melihat suaminya terhindar dari beban pikiran.
Bab 38: Hari yang Penuh Harapan
Suatu hari dokter memberikan kabar baik: kondisi jantung Dimas mulai membaik perlahan karena istirahat dan pola makan yang teratur.
Dimas tersenyum lebar, “Kalau gue sembuh, gue bisa melakukan lebih banyak lagi untuk kamu. Demi kamu aku rela mengorbankan segalanya asalkan kamu bahagia.”
Bab 39: Mengembalikan Impian Lama
Melihat Dimas makin sehat, Lestari membelikan peralatan melukis baru. “Sekarang saatnya kamu mengejar impian yang dulu kamu tinggalkan demi gue,” katanya gembira.
Dimas terharu, lalu mulai melukis kembali dengan penuh semangat.
Bab 40: Melukis Kenangan
Lukisan pertama yang dibuat Dimas adalah pemandangan pohon beringin tua tempat mereka berjanji. Di sudut lukisan itu tertulis kalimat yang selalu menjadi pedoman hidupnya: Demi kamu aku rela mengorbankan segalanya asalkan kamu bahagia.
Bab 41: Hasil Karya yang Dihargai
Lukisan Dimas ternyata mendapat perhatian dari orang yang melihatnya. Ada yang ingin membelinya, tapi Dimas menolak. “Ini milik gue dan Lestari, tidak bisa dijual,” katanya tegas.
Ia merasa bahagia akhirnya bisa kembali menyalurkan bakatnya tanpa harus mengorbankan kebutuhan hidup.
Bab 42: Mengajarkan Makna Pengorbanan
Dimas dan Lestari mulai berbagi cerita dengan tetangga dan teman-teman muda. Mereka mengajarkan bahwa cinta bukan hanya soal perasaan, tapi juga kesediaan memberi dan mengerti batas kemampuan.
“Pengorbanan itu indah kalau tujuannya benar, tapi jangan sampai melupakan diri sendiri sepenuhnya,” kata Dimas bijaksana.
Bab 43: Kesehatan yang Terus Membaik
Setelah dua tahun menjalani pengobatan dan istirahat yang cukup, kondisi Dimas pulih secara signifikan. Ia bisa berjalan jauh dan melukis sepuasnya tanpa merasa sesak napas lagi.
Lestari merasa sangat bersyukur melihat perubahan itu.
Bab 44: Mengunjungi Tempat Kenangan
Mereka kembali ke pohon beringin tua yang sudah berdiri kokoh selama puluhan tahun. Di bawah naungannya, Dimas menggenggam tangan Lestari seperti sepuluh tahun yang lalu.
“Janji gue tetap sama sampai kapan pun,” ucapnya dengan suara yang lebih kuat dan sehat. “Demi kamu aku rela mengorbankan segalanya asalkan kamu bahagia.”
Bab 45: Rian yang Sudah Berubah
Rian kini sudah menjadi orang yang bertanggung jawab dan tahu berterima kasih. Ia sering datang berkunjung dengan membawa makanan dan obat-obatan. “Kak Dimas, Kak Lestari, kalian adalah guru terbaik yang pernah gue punya,” ucapnya tulus.
Bab 46: Mengubah Cara Berkorban
Dimas menyadari satu hal penting: pengorbanan tidak harus selalu merugikan diri sendiri. Sekarang ia berkorban dengan cara yang lebih bijaksana—memberi dukungan, waktu, dan kasih sayang tanpa melupakan kesehatan dan kebutuhan pribadinya.
“Bahagia kamu bukan hanya tercapai kalau gue bekerja mati-matian, tapi juga kalau gue bisa terus ada di samping kamu dalam keadaan sehat,” katanya.
Bab 47: Rumah yang Penuh Cinta
Rumah mereka kini menjadi tempat yang hangat dan penuh makna. Tidak lagi ada beban berat, melainkan rasa syukur dan kebersamaan. Setiap orang yang datang merasa terpesona melihat keharmonisan mereka.
Bab 48: Membuat Janji Baru
Pada ulang tahun pernikahan yang ke lima belas, Dimas mengucapkan janji baru yang lebih lengkap:
“Dulu gue bilang demi kamu aku rela mengorbankan segalanya asalkan kamu bahagia. Sekarang gue tambahkan: gue juga akan menjaga diri gue sendiri supaya bisa terus ada mendampingi kamu selamanya, membuat kebahagiaan itu abadi.”
Bab 49: Menyadari Makna Sebenarnya
Lestari akhirnya mengerti sepenuhnya: kebahagiaan yang didapat dari pengorbanan tulus adalah kebahagiaan yang paling berharga, meskipun sempat terbayar dengan harga yang mahal.
“Gue beruntung punya suami sebaik kamu, Dimas,” ucapnya sambil tersenyum bahagia.
Bab 50: Penutup yang Abadi
Bertahun-tahun kemudian, di bawah pohon beringin tua yang kini lebih rindang, Dimas dan Lestari duduk berdua dalam usia yang sudah lanjut. Wajah mereka penuh keriput, tapi mata mereka tetap bersinar seperti muda dulu.
Janji yang terucap sepuluh tahun lalu kini menjadi bukti nyata: bahwa cinta yang tulus tahu bagaimana memberi tanpa pamrih, dan kebahagiaan sejati tercapai ketika dua hati saling melengkapi.
Dan kalimat yang menjadi inti hidup mereka tetap terukir jelas: Demi kamu aku rela mengorbankan segalanya asalkan kamu bahagia.