Hari ini aku tidak mengerjakan apa-apa.
Bukan karena malas, setidaknya bukan hanya itu. Ada sesuatu yang terjadi hari ini, sesuatu yang memaksaku untuk duduk diam dan membiarkan semuanya mengalir begitu saja.
Pagi dimulai lebih awal dari biasanya. Adikku, yang belakangan ini tumbuh begitu cepat sampai aku hampir tidak mengenalinya, hari ini harus mendaftar SMA secara online. Aku duduk di sebelahnya, bukan karena diminta, tapi karena aku tidak sanggup tidak ada di sana. Barangkali aku terlalu khawatir. Barangkali memang begitu caraku menyayangi, selalu dengan berjaga-jaga di tepi, memastikan tidak ada yang jatuh sendirian.
Syukurlah, pendaftarannya berjalan lancar.
Di tengah-tengah itu, telepon dari Ibu Profesor masuk. Suaranya tenang, tapi cukup untuk membuatku deg-degan. Beliau menanyakan perkembangan penelitian, penelitian yang aku kerjakan atas namanya, sekaligus menjadi bahan skripsiku kelak. Sebuah kesempatan besar yang kadang terasa seperti beban yang kupegang dengan kedua tangan gemetar.
Kami sepakat bertemu dua hari lagi di kampus.
Aku mengangguk dalam telepon, seolah beliau bisa melihatku.
Siang hari kami pergi mengambil ijazah adikku. Satu jam lebih aku menunggu di halaman sekolah, menemaninya berdiri dalam antrean legalisir yang panjang. Aku tidak mengeluh. Aku hanya menunggunya.
Pulangnya, kabar buruk datang lebih cepat dari yang kami harapkan.
Ada persyaratan yang belum dilengkapi, persyaratan yang tidak pernah tercantum dalam petunjuk teknis pendaftaran mana pun. Aku membaca ulang juknis itu dua kali, tiga kali. Tetap tidak ada.
Aku menghubungi guru SMP-nya, berharap beliau tahu sesuatu. Jawabannya singkat: "coba tanyakan saja ke pihak sekolah itu".
Aku terdiam.
Ada amarah kecil yang naik ke tenggorokan, tapi aku telan lagi. Bukan waktunya. Adikku lebih membutuhkan solusi daripada menyaksikan kakaknya frustasi.
Tapi di dalam hati, aku lelah.
Kami sudah menyiapkan ini dari jauh-jauh hari. Sudah mengecek, sudah memastikan, sudah berjaga-jaga. Dan tetap saja, ada satu hal yang luput, satu hal yang tidak kami tahu karena memang tidak ada yang memberitahu kami.
Verifikasi pendaftarannya tertunda. Adikku menunduk diam.
Aku memilih tidur siang tiga jam untuk tidak memikirkannya, bukan karena aku tidak peduli, tapi justru karena aku terlalu peduli sampai tidak tahu harus berbuat apa lagi.
Aku terbangun ketika sore sudah mulai menguning, hampir gelap.
Saatnya makan malam.
Aku berjalan ke kamar ayah, berniat mengetuk pintu. Tapi tanganku berhenti di udara ketika aku melihat celah dari pintu yang tidak tertutup rapat.
Ayah sedang menonton sesuatu di layar kecil genggamannya. Dan ia, ia sedang tersenyum.
Bukan senyum yang dipaksakan. Bukan senyum yang terbentuk karena ada orang lain yang melihatnya. Ini senyum yang jujur, yang keluar tanpa disadari, senyum yang muncul ketika seseorang tidak tahu sedang diamati.
Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku melihat senyum itu.
Aku membiarkan pintu itu tetap terbuka sedikit, dan melangkah mundur.
Di kamar mandi, dalam gelap yang sengaja tidak aku nyalakan lampunya, aku menangis.
Ayah sakit sejak 5 tahun silam. Penyakit gula yang perlahan menggerogoti kakinya, membuatnya harus berjalan dengan tongkat lipat berkaki empat, satu loncatan kecil, dua loncatan kecil, hati-hati, perlahan, sampai ke tempat yang dituju. Setiap Minggu ia harus hd dua kali. Aku tahu itu menguras tenaganya, meski ia tidak pernah bilang.
Di rumah, ia lebih banyak diam.
Kadang aku berpikir — mungkin ia takut jika berbicara, ia akan salah lagi. Jadi ia memilih sunyi. Jadi ia duduk di kamarnya sendirian, dengan pintu tertutup, menonton video lucu yang tidak ada seorang pun di rumah ini yang tahu ia tonton.
Semua orang rumah secara tak langsung menjauhinya karena sifatnya yang terlihat kasar, keras, sulit ditebak.
Tapi aku, aku memilih melihat yang lain.
Aku ingat ketika aku masih kecil, beliau yang pertama kali mengajariku bahwa dunia lebih besar dari yang terlihat. Aku ingat caranya memilihkan sesuatu tanpa pernah mengatakan "ini untukmu". Aku ingat semua kebaikan yang dilakukannya diam-diam, tanpa tepuk tangan, tanpa ucapan terima kasih.
Maka ketika orang-orang hanya melihat kerasnya, aku memilih mengingat semua yang pernah ia lakukan dengan tangan yang sama.
Dan malam ini, di balik pintu yang setengah terbuka, aku melihat seseorang yang punya banyak keinginan yang belum sempat terpenuhi. Makanan yang ingin dicicip tapi tidak boleh. Tempat yang ingin dikunjungi tapi tidak bisa. Tawa yang ingin dikeluarkan tapi tidak ada yang menemani.
Aku sungguh berharap ia tahu, bahwa ada seseorang di luar pintu itu yang selalu mendoakannya. Setiap hari, diam-diam, tanpa suara.
Semoga selalu diberikan kesehatan. Semoga selalu diberikan perlindungan. Semoga selalu dikelilingi oleh orang-orang yang baik.
Malam ini aku menulis ini sambil menangis.
Dan bohong rasanya jika aku bilang aku tidak sayang mereka.
Aku memikirkan adikku yang harus menghadapi birokrasi yang tidak adil. Aku memikirkan Ibu Profesor dan pertemuan lusa nanti yang membuatku cemas. Aku memikirkan ayah dan senyumnya di balik pintu yang setengah terbuka.
Mungkin beginilah cara yang bisa aku lakukan dalam mencintai, dari jauh, dalam diam, tanpa mengatakannya.
Aku terlalu takut terlihat lemah jika mengungkapkannya.
Jadi aku simpan semuanya di sini, dalam tulisan, dalam kata-kata yang tidak akan pernah aku ucapkan keras-keras, abadi selamanya.
Dan barangkali, itu sudah cukup.
Selesai.