Kalau aku diminta untuk datang ke satu tempat yang paling kusukai...
Mungkin kota ini yang akan kupilih.
Di sinilah aku pertama kali melihatmu.
Dulu, setiap kali aku datang kemari, selalu ada angin yang terasa hangat. Aroma roti yang baru keluar dari oven memenuhi udara. Suara kereta yang melintasi kota seolah menjadi pertanda bahwa hari akan selalu berjalan seperti biasa.
Sekarang...
Setiap kali aku kembali, semuanya terdengar berbeda.
Yang tersisa hanyalah gema dari hari yang tak pernah bisa kuulangi.
.
.
.
.
.
Dari semua itu, yang menjadi penyebab langkahku terhenti adalah satu toko cenderamata yang kini sepi pengunjung.
Aku memberanikan diri untuk masuk kesana.
Iya, hanya ada rak penuh berisi cenderamata, dan Nenek pemilik toko yang semakin bertambah umur.
" Ahh.. kamu benar-benar kembali lagi kemari saat musim semi, ya? " tanya Nenek itu padaku.
Aku mengangguk pelan sembari tersenyum.
Sapaan itu terasa begitu akrab.
Seolah waktu tetap berjalan, tetapi toko kecil ini terus mengingatku.
"Iya, Aku kemari hanya untuk berkunjung dan beristirahat sejenak." jawab ku.
Nenek itu tersenyum padaku. Tatapan nya tak berubah sedikit pun, seolah Ia percaya bahwa Aku akan kembali lagi.
.
.
.
.
.
Setelahnya Aku dari sana, tujuan ku berikutnya adalah danau yang terletak di tengah taman kota.
Danau itu selalu penuh dengan tawa anak anak yang saling bersahutan, orang-orang yang duduk di tepi danau, dan para remaja yang memberi makan ikan disana.
Termasuk Aku yang senang datang ke sini.
Tapi melihat tata letaknya yang familiar di pikiran ku membuat semuanya berbeda.
"Bahkan tempat yang paling ramai di kota justru menjadi tempat paling sunyi bagiku." ucapku pelan.
Tidak ada yang tau apa yang kupikirkan ketika melihatnya.
Aku pun duduk di tepi danau.
Angin sepoi-sepoi seperti menyanyikan lagu ketenangan untuk hatiku. Dan pohon yang menjadi tempat teduh dari matahari.
.
.
.
.
.
Sore nya Aku datang ke toko roti paling terkenal di sini.
Bau roti yang baru saja selesai dipanggang berterbangan di udara, menjadikannya sebagai sesuatu yang dapat menarik pelanggan.
Satu roti coklat dan kopi yang selalu ku pesan menjadi hambar rasanya.
Biasanya..
Ada seseorang yang duduk di kursi seberang.
Kami memesan roti yang sama.
Melihat pemandangan yang sama.
Namun entah sejak kapan..
Yang tersisa hanya kursi kosong di hadapanku.
Aku tak bisa berbohong.
Sejak tak ada lagi seseorang yang menemaniku di tempat ini, aku selalu merasa seperti terlambat untuk sesuatu.
Roti cokelat dan secangkir kopi di atas meja perlahan kehilangan kehangatannya.
Aku hanya memandanginya.
Tak satu pun sanggup kusentuh.
Entah mengapa...
Yang terus terngiang di kepalaku hanya satu pertanyaan.
Mengapa aku bisa terlambat?
.
.
.
.
.
Keesokan harinya, aku duduk sendirian di taman kota.
Matahari perlahan muncul dari balik pepohonan, menghangatkan kota yang semalam terasa begitu sunyi.
Aku mencoba mencari jawaban dari pertanyaan yang terus menghantuiku.
Namun...
Semakin kupikirkan, semakin aku sadar bahwa penyesalan selalu datang setelah semuanya terlambat.
Kalau saja waktu bisa diputar kembali...
Sudah hampir satu jam aku duduk di taman itu.
Tak ada yang kulakukan selain memandangi permukaan danau yang sesekali beriak tertiup angin.
Aku akhirnya berdiri.
Saat membalikkan badan...
Aku melihat sosok yang terasa begitu familiar.
Nenek pemilik toko cenderamata itu berdiri beberapa langkah dariku.
Di tangannya tergenggam sebuah keranjang berisi roti yang masih hangat.
"Aku telah memperhatikan mu sedari tadi. Sepertinya kamu sedang memikirkan sesuatu yang berat, apa yang terjadi?" Tanya sang Nenek.
Aku membuka mulut, seolah ingin mengatakan sesuatu.
Namun tak satu pun kata berhasil keluar.
Yang mampu kulakukan hanyalah menatap wajah nenek itu dalam diam.
.
.
.
.
.
Kemudian, Nenek itu mengajak ku menuju rumahnya.
Rumah sederhana, namun tetap menawan.
Letaknya tak jauh dari pusat kota.
Suasananya benar-benar terasa seperti pulang ke sebuah desa, bukan kota.
Saat masuk ke dalam, Aku melihat koleksi berharga milik sang Nenek sementara Ia menyiapkan teh.
Beberapa menit kemudian, Nenek keluar dari dapur dengan dua teh di atas nampan.
Sembari kita berbincang, sang Nenek juga mengeluarkan satu buku album lama yang berisi foto beberapa tahun lalu..
Album itu sama sekali tidak berdebu, seakan-akan ada seseorang yang selalu membukanya.
Ketika Aku diminta membukanya, tangan ku hanya terhenti di satu foto ketika Aku dan sahabat ku bertemu.
Sahabat pertama ku, di kota yang kuanggap rumah ini.
Nenek tersenyum tipis sambil menatap foto itu.
Namun matanya tak pernah benar-benar meninggalkan bingkai kecil di halaman album tersebut.
Saat itu aku sadar...
Mengapa setiap musim semi aku selalu kembali ke kota ini.
Mengapa danau itu terasa begitu sunyi bagiku.
Dan mengapa setiap kenangan selalu meninggalkan rasa bersalah yang tak bisa kujelaskan.
Aku menundukkan kepala, " Terimakasih sudah menyimpan semua kenangan kami. Andai saja Aku tidak terlambat untuk menyelamatkan nya.. ini semua tidak akan terjadi.. " Kata ku lirih.
Nenek itu menepuk pelan pundakku, meyakinkan bahwa kejadian meninggal nya cucu sang nenek bukanlah salah ku.
"Nak, kejadian beberapa tahun lalu bukanlah salahmu dan bukan salah dirinya. Inilah takdir yang disiapkan Tuhan untuk kita.. " sahut Nenek.
Kalimat-kalimat nenek membuatku sadar...
Mungkin musim semi memang tidak pernah datang untuk menghapus kenangan.
Ia selalu datang agar aku mengingatmu sekali lagi.
Sahabatku...
Meski kali ini hanya aku yang berhasil pulang,
aku akan tetap mewakilimu kembali ke rumah kita.
—END
🍀