Langit pagi tampak cerah tanpa satu pun awan yang menghalangi cahaya matahari. Angin berhembus pelan, menggoyangkan dedaunan di sepanjang jalan menuju SMAN 1 CAKRAWALA. Suasana sekolah sudah ramai sejak pagi. Tawa siswa bersahut-sahutan memenuhi udara, menandakan hari yang berbeda dari biasanya.
Artinya, tidak ada pelajaran, tidak ada tugas.
Seorang gadis mengayuh sepedanya pelan memasuki gerbang sekolah. Jersey kelas berwarna biru navy bercorak putih yang dikenakannya berkibar kecil diterpa angin. Wajahnya tampak ceria, jauh lebih bersemangat dibanding hari-hari pelajaran biasa.
Setelah memarkir sepedanya di area parkir, gadis itu baru saja hendak berjalan menuju lapangan ketika sebuah suara tiba-tiba dari belakang.
“RARA!”
Rara menoleh ke belakang lalu tersenyum lebar. Kedua tangannya melambaikan ke arah temannya.
Kedua temannya segera menghampiri.
“Lama amat kita nungguin, tahu!” protes Flora.
Rara terkekeh. “Ya maaf. Toh hari ini cuma lomba doang.”
Naura mendengus pelan. “Mentang-mentang Classmeet jadi datang mepet.”
“Yang penting datang, Bu!”
Mereka bertiga tertawa bersama sebelum berjalan menuju kelas menaruh tas.
Tepat pukul tujuh pagi, seluruh siswa berkumpul untuk apel pembukaan. Setelah sambutan dan berbagai pengumuman selesai, pertandingan futsal antar kelas pun resmi dimulai.
Sorak-sorai penonton langsung memenuhi udara.
Rara sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan futsal. Namun semuanya berubah ketika matanya tanpa sengaja menangkap sosok seorang pemain di tengah lapangan.
Nomor punggung dua puluh lima, tulisan JSTAA tercetak tepat di atas angka itu.
Entah kenapa, pandangannya terus mengikuti lelaki tersebut. Cara berlarinya, cara menggiring bola, bahkan saat ia menyeka keringat di dahinya.
Dan ketika lelaki itu berhasil mencetak gol lalu menoleh ke arah tribun dengan senyum tipis di bibirnya—
Deg!
Jantung Rara seperti dijatuhkan dari langit tujuh lalu dipantulkan kembali ke langit.
“Astaga...” gumamnya lirih.
Tangannya refleks menempel di dada. “Kenapa jantungku jadi begini?”
Padahal itu hanya sebuah senyuman. Namun entah mengapa, rasanya seperti ada ribuan kupu-kupu yang sedang terbang di dalam perutnya.
Rara segera mengalihkan pandangan, berusaha bersikap biasa. Tak lama kemudian ia berpamitan sebentar pada Flora dan Naura.
“Eh, aku pergi bentar ya. Ada urusan penting.”
“Halah. Bukan presiden juga. Pakai acara urusan penting segala,” celetuk Flora.
Rara hanya menjulurkan lidah sebelum berjalan menghampiri temannya yang lain. Si Nayla, teman kelasnya dulu saat kelas sepuluh.
Nayla sedang duduk santai di pinggir lapangan sambil menikmati pertandingan.
Rara ikut duduk di sampingnya. Mereka mengobrol tentang banyak hal, tetapi mata Rara sesekali melirik ke arah lapangan.
Lagi.
Dan lagi.
Dan lagi.
Seolah ada magnet tak kasat mata yang menarik pandangannya ke satu arah. Tepat saat itu, pemain bernomor dua puluh lima kembali mencetak gol.
Satu lapangan langsung bergemuruh.
Teman-teman sekelasnya berteriak histeris seperti baru saja memenangkan piala dunia.
Rara menelan ludah. “Itu siapa, Nay?” tanyanya berusaha terdengar biasa saja.
“Siapa?”
“Yang pakai jersey nomor punggungnya dua puluh lima.”
“Dua puluh lima banyak kali, yang mana njir?”
“Itu lho... yang sepatu kuning!”
“Oh.” Nayla langsung paham. “Masa kamu nggak tahu? Itu ketua ekstrakurikuler voli. Namanya Justian Alen Adikara.”
“Oh... berarti dia ikut OSIS dong? kan semua ketua ekstra wajib ikut OSIS, ya?”
“Ya iyalah, pakai nanya.”
“I see...”
Nayla langsung menyipitkan mata curiga. “Tumben nanya cowok?”
Rara sontak salah tingkah.
“Enggak apa-apa. Cuma nanya aja!”
“Hmm... kok nada suaramu gitu banget? Jangan-jangan kamu suka yaa?” goda Nayla.
“Apa sih! Enggak ya!”
“Yakin?”
“Yakin!”
“Padahal mukamu merah banget, kayak tomat.”
Rara spontan memukul lengan temannya, Nayla malah tertawa semakin keras.
“Oh iya,” lanjut Nayla. “Selain itu dia juga anomali OSIS.”
“Kok gitu?”
“Masa kemarin dia pap ke grup OSIS waktu naik gunung dia pakai celana pink.”
Rara langsung terbahak-bahak. “Hah, seriusan?”
“Demi kantin Mak Ti.”
Tawa mereka pecah bersamaan.
Tak lama kemudian Rara berpamitan dan kembali menghampiri Flora serta Naura.
“Kemana aja?” tanya Naura.
“Ngobrol sama Nayla,” jawab Rara.
“Cieeee~”
“Cie apaan?”
Flora dan Naura saling pandang lalu tersenyum penuh arti.
“Cie yang dari tadi ngelihatin lapangan,” kata Naura.
“Pasti ada sesuatu nih, tadi pergi juga jangan-jangan buat cari informasi,” sambung Flora.
Rara hampir tersedak. “Ngaco kalian.”
Meski begitu, diam-diam ia mengeluarkan ponselnya lalu memotret sosok itu dari belakang.
Cekrek!
“Hayoo...” Naura langsung menyikut lengannya. “Fotoin siapa tuhh?” goda Naura.
Flora langsung menahan tawa mati-matian. Sontak Rara buru-buru menyembunyikan ponselnya.
“Cuma buat dokumentasi Classmeet,” bantahnya.
“Alasan!” seru mereka berdua kompak.
Rara mendengus kesal, tetapi sudut bibirnya tanpa sadar terangkat.
Dan lagi-lagi, matanya kembali mencari sosok bernomor punggung dua puluh lima itu di tengah lapangan.
Entah mengapa, dari seluruh keseruan Classmeet yang berlangsung, yang paling jelas tersimpan dalam ingatan Rara hanyalah satu hal.
Senyuman seseorang.
Hanya satu senyum sederhana yang bahkan mungkin tidak ditunjukkan padanya.
Tetapi berhasil membuat dunia terasa sedikit lebih cerah dari biasanya.
-END