Malam itu udara terasa hangat. Lampu-lampu di gedung tempat acara berlangsung berkilauan, menciptakan suasana yang ramai dan meriah. Airin datang bersama sahabat lamanya, Vanila. Mereka berjalan sambil mengobrol ringan, menikmati malam yang sudah lama tidak mereka rasakan bersama.
"Akhirnya kamu mau juga datang ke acara begini," goda Vanila.
Airin tertawa kecil. "Kalau bukan karena kamu yang paksa, aku juga malas keluar rumah."
Mereka terus berjalan di antara kerumunan tamu. Hingga tiba-tiba langkah Airin terhenti.
Dari kejauhan, ia melihat seorang pria berdiri sambil berbincang dengan beberapa orang.
Pria itu.
Jantung Airin berdegup sedikit lebih cepat.
"Vanila..." bisiknya.
Vanila mengikuti arah pandangan Airin lalu tersenyum tipis.
"Itu Sam."
Dua puluh satu tahun.
Sudah dua puluh satu tahun sejak terakhir kali mereka bertemu.
Waktu memang telah mengubah banyak hal. Rambut Sam kini sedikit memutih di bagian pelipis. Wajahnya terlihat lebih matang. Namun senyumnya masih sama seperti yang Airin ingat.
"Pergi sana sapa," kata Vanila.
Airin menarik napas panjang.
Lalu melangkah mendekat.
"Sam?"
Pria itu menoleh.
Matanya membesar.
"Airin?"
Beberapa detik mereka hanya saling menatap, seolah memastikan bahwa orang di hadapan mereka benar-benar nyata.
"Ya Tuhan..." Sam tertawa kecil penuh tak percaya. "Ini benar-benar kamu?"
Airin mengangguk sambil tersenyum.
Mereka lalu berjabat tangan.
"Aku pikir aku salah lihat," kata Sam.
"Aku juga."
Keduanya tertawa.
Mereka mencari tempat duduk yang agak tenang dan mulai mengobrol. Awalnya canggung, namun perlahan rasa itu menghilang.
Seolah dua puluh satu tahun yang hilang tidak pernah ada.
"Aku sempat cari kamu dulu," kata Sam tiba-tiba.
Airin terdiam.
"Serius?"
Sam mengangguk.
"Waktu kamu pindah ke kota lain, aku datang ke rumah Vanila."
Airin menoleh ke arah sahabatnya yang sedang mengobrol dengan tamu lain.
"Aku tanya ke dia di mana kamu."
"Lalu?"
"Vanila bilang kamu sudah pergi."
Airin tersenyum kecil.
"Aku gak pernah tahu soal itu."
"Aku nyari kamu cukup lama."
Nada suara Sam terdengar tenang, tapi Airin bisa merasakan kesedihan lama yang masih tersimpan di sana.
Dulu mereka saling mencintai.
Namun mereka tidak pernah putus.
Tidak pernah bertengkar.
Tidak pernah mengucapkan selamat tinggal.
Hidup saja yang membawa mereka ke jalan yang berbeda.
"Aku kembali melanjutkan pendidikan waktu itu," kata Airin pelan.
"Aku tahu."
"Maaf."
Sam menggeleng.
"Gak ada yang perlu dimaafkan."
Malam semakin larut.
Mereka saling bertukar cerita tentang kehidupan masing-masing.
Sam bercerita tentang pernikahannya yang berakhir beberapa tahun lalu.
"Aku punya satu anak laki-laki," katanya sambil menunjukkan foto di ponselnya.
Airin tersenyum.
"Ganteng. Mirip kamu."
Sam tertawa bangga.
Lalu gantian Airin bercerita.
Ia kini kembali ke kota asalnya untuk merawat ibunya yang sudah lanjut usia.
"Mama makin sering sakit," katanya. "Aku ingin lebih banyak waktu sama beliau."
Sam mengangguk memahami.
Mereka terus berbicara.
Tentang pekerjaan.
Tentang keluarga.
Tentang teman-teman lama.
Tentang kenangan masa muda yang dulu terasa begitu penting.
Hingga akhirnya Sam terdiam beberapa saat.
Tatapannya tertuju pada Airin.
"Aku mau jujur sesuatu."
Airin menatapnya.
"Apa?"
Sam tersenyum tipis.
"Perasaanku ternyata gak pernah berubah."
Airin membeku.
"Aku pikir setelah ketemu kamu lagi malam ini, aku sadar satu hal."
Sam menarik napas.
"Aku masih sayang sama kamu."
Suasana mendadak sunyi.
Airin menunduk sebentar.
Lalu perlahan mengangkat tangan kirinya.
Cincin emas berkilau di jari manisnya.
Mata Sam langsung tertuju ke sana.
Untuk beberapa detik, wajahnya menunjukkan kekecewaan yang tidak berhasil ia sembunyikan.
"Oh..."
Hanya itu yang keluar dari bibirnya.
"Aku sudah menikah, Sam."
Sam tersenyum kecil.
Senyum yang sedikit dipaksakan.
Tapi tetap hangat.
"Terima kasih karena jujur."
Airin menatapnya dengan perasaan tak enak.
"Aku gak bermaksud..."
"Aku tahu."
Sam mengangguk.
Lalu berkata dengan suara yang lebih ringan.
"Dan anehnya aku malah senang."
Airin terlihat bingung.
"Senang?"
"Iya."
Sam tersenyum tulus kali ini.
"Aku senang ternyata kamu setia."
Mata Airin terasa hangat.
Dua puluh satu tahun berlalu.
Dan pria yang pernah dicintainya itu ternyata masih memiliki hati yang baik seperti dulu.
"Kita tetap bisa jadi teman, kan?" tanya Sam.
"Tentu."
Mereka saling tersenyum.
Malam itu mereka kembali tertawa.
Mengenang masa-masa muda yang konyol.
Tentang hujan yang pernah membuat mereka kehujanan bersama.
Tentang mimpi-mimpi yang kini terdengar lucu.
Dua orang yang dulu saling mencintai.
Kini duduk sebagai dua sahabat lama.
Tanpa penyesalan.
Tanpa dendam.
Hanya kenangan manis yang tersisa.
Ketika acara selesai, Airin berpamitan.
Sam berjalan mengantarnya sampai ke parkiran.
Malam terasa lebih tenang.
Mereka berdiri di samping mobil Airin.
"Sampai ketemu lagi ya," kata Airin sambil tersenyum.
Sam mengangguk.
"Hati-hati di jalan."
Airin membuka pintu mobil lalu menoleh sekali lagi.
"Senang bisa ketemu kamu lagi, Sam."
"Aku juga."
Airin masuk ke dalam mobil dan perlahan melaju meninggalkan parkiran.
Sam tetap berdiri di tempatnya.
Melihat lampu mobil itu semakin jauh.
Lalu menghilang di tikungan.
Ia tersenyum kecil.
Mungkin tidak semua cinta ditakdirkan untuk memiliki.
Ada cinta yang hanya ditakdirkan menjadi kenangan indah.
Dan malam itu, Sam merasa damai.
Karena setelah dua puluh satu tahun, akhirnya ia tahu bahwa perempuan yang pernah dicintainya baik-baik saja.
Dan terkadang, itu sudah lebih dari cukup. ❤️