Sore itu, ketika aku hendak pulang, langkahku terhenti di tepi sebuah lapangan yang luas. Beberapa anak kecil berlari mengejar dan menerbangkan layang-layang dengan penuh riang.
Entah mengapa, dadaku terasa sesak. Pemandangan yang begitu sederhana itu justru terasa sangat berharga bagiku.
Aku mengangkat kepala, menatap langit senja yang mulai berwarna jingga.
Aku bertanya dalam hati, sudah berapa lama aku tidak melihat seseorang bermain layang-layang dengan tawa secerah itu.
Dan mungkin... sudah terlalu lama aku tidak mengingat hari ketika aku pernah sebahagia itu, hanya karena sebuah layang-layang.
.
.
.
.
.
Aku kembali melangkah menuju rumah.
Saat Aku membuka pintu, hal pertama yang menyambut ku hanyalah ruangan yang hening. Tanpa sadar pikiran ku mulai bertanya dimana suara yang biasa menyambut ku ketika pulang.
Namun, suara itu tidak ada lagi semenjak kedua orang tua ku tiada.
Yang Aku bisa lakukan sekarang hanyalah istirahat dari semua aktivitas yang kulakukan.
Tanpa gangguan.
Tanpa beban.
Dan tanpa kehangatan yang selalu menunggu ku.
Aku menatap langit-langit kamar hingga menyadari satu hal..
Apa hidup memang ditakdirkan untuk tidak selalu bahagia?
Lebih dari satu jam aku membayangkan nasib ku seterusnya. Ku ambil ponsel yang ada di tepi ranjang dan melihat satu nomor seseorang yang meninggalkan kesan terindah di hidupku.
Joshua.
Nama yang familiar bagi ku dan kenangan lama ku dengannya kala itu.
.
.
.
.
.
Di masa lalu, Aku dan Joshua hanya anak anak yang mengerti bahwa hidup akan mudah dijalani dengan bersenang-senang. Lambat laun Aku mengikuti caranya menikmati hidup.
Bermain layang-layang adalah salah satu kegemaran Joshua. Kami selalu memainkannya di lapangan bersama anak anak lain.
Jika layangan itu putus maka Joshua akan berlari sekencang mungkin untuk mendapatkannya kembali.
Jika anginnya terlalu kuat, maka Joshua akan berusaha menahan layang-layang nya agar tak tertiup angin yang begitu kencang.
Lantas Aku? Aku hanya bisa memperhatikan dari jauh. Layang-layang bukanlah suatu hal yang sederhana untuk ku. Sedari kecil pun Aku tak pernah menyentuh nya.
Dan saat itu tiba..
Aku menggenggam tangan Joshua dan mulai mencoba menerbangkan layang-layang pertama ku. Saat itu angin tak begitu kuat sehingga layang-layang ku bisa terbang dengan sempurna.
Satu kata yang kuucapkan dulu hanyalah "pesawat", iya, pesawat yang terbang tinggi membawa banyak penumpang.
Masa kecil memang begitu indah, bahkan layang-layang pun bisa dijadikan sebagai tempat permohonan yang diterbangkan setinggi mungkin.
Ahh..
Layang-layang dan mimpi yang tinggi benar-benar serasi, bukan?
Tapi, hanya aku yang berpikir seperti itu.
.
.
.
.
.
Mendengar ponsel ku yang berdering, Aku langsung terbangun dari kenangan lama itu.
Namun, Aku hanya mendapat satu pesan untuk menjemput orang istimewa di bandara.
Tubuh ku seperti baru saja berhadapan dengan sesuatu yang serius.
Dia kembali, haruskah Aku senang menyambut kedatangan nya?
Mungkin tidak.
Beberapa tahun yang lalu, ketika Aku menempuh pendidikan di sekolah ternama bersama Joshua..
Ia bermimpi ingin sekali pergi ke negeri yang jauh bersama orang yang dia sayangi. Dari sana lah Aku berandai-andai tentang kisah kami berdua.
.
.
.
.
.
Hari minggu, tepat dimana hari Aku akan menyambut Joshua dari perjalanan nya ke luar negeri.
Ketika tiba di Bandara, orang tua Joshua menyambut ku dan memeluk ku mengingat Aku adalah teman lama Joshua sedari kecil.
Waktu demi waktu kita lewati selama disana, menunggu sang pemeran utama tiba di tempat kita akhirnya melihat nya lagi setelah sekian lama tak bertemu.
Di dalam Bandara,
Joshua tiba dengan sosok perempuan di samping nya.
Mereka terlihat serasi.
Aku terdiam kaku, tak mampu berbicara satu kata pun disana. Padahal Aku pikir kita akan semakin dekat, namun nyatanya kita justru memberi jarak di hubungan ini.
Dari situlah Aku sadar,
Seseorang yang Aku sukai, yang telah menggapai mimpinya jauh lebih tinggi..
Akhirnya tidak akan datang kembali kepadaku, bahkan jika Aku memintanya.
—End
🍀