Namaku salma putri arumi. Ini tentangku, tentang kehancuran yang tiba-tiba datang dalam hidupku. Umurku saat ini 21 tahun, bekerja di salah satu perusahaan yang berada di pusat kota jakarta. Aku mempunyai sahabat bernama intan hasanah. Kebetulan dia bekerja di perusahaan yang sama denganku. Ini adalah hari pertama kali kami bekerja dan memilih kamer kos. Kami memilih tempat kos di salah satu tempat yang tidak terlalu jauh dari tempat kami bekerja.
Malam itu tepat malam jumat, tepat pukul jam 21.30 aku sampai di depan tempat kos an ku. Ini hari pertamaku dan intan berada di tempat kos.
"Silahkan masuk. Kamar kalian berada di nomor 12 dan 13. Ini kuncinya." Ucap ibu kos tanpa senyum sekalipun.
"Terima kasih, bu." Jawabku dan intan hampir bersamaan.
Kurebahkan tubuhku di atas kasur yang lumayan berukuran besar. Kamarnya lumayan besar dan juga tidak terlalu kecil. Tempatnya juga cukup nyaman menurutku, ditambah biaya kos tidak cukup mahal. Tapi anehnya, kosan ini sangat sepi. Bahkan kurasa yang mengekos disini hanya ada aku dan sahabatku intan. Sampai akhirnya tak terasa matKu mulai terlelap dan siap menuju alam mimpi.
Tepat pukul 00.00 WIB aku merasa tidurku sedikit terusik karena suara bising dari luar jendela. Kuangkat tubuhku lalu melangkah dengan lunglai menuju arah jendela. Kubuka perlahan-lahan gorden jendela kamarku lalu kutajamkan penglihatan mataku untuk melihat ke arah keributan di luar kamar.
Mataku membulat sempurna pada saat melihat bayangan seorang peremphan sedang menggali sesuatu. Namun aku tidak bisa melihatnya dengan jelas karena cahaya lampu yang tamaram dan gelapnya malam. Yang kulihat hanya perempuan berambut panjang menjuntai. Kututup gorden dengan cepat. Napasku naik turun tak beraturan. Keringat dingin bercucuran pada pelipisku. Aku melangkah menuju ranjang tidurku. Mendudukan tubuhku yang lemas di sisi ranjang.
Brukk!
Suara benda jatuh terdengar dari kamar sebelah. Tunggu, kamar sebelah itu adalah kamar intan. Kuraih ponselku cepat. Dua belas panggilan tak terjawab. Intan sama sekali tidak mengangkat telponku. Rasa kawatir semakin menggerogoti diriku. Aku beranikan diriku melangkah menuju pintu kamar. Kuputar gagang pintu lalu melangkah keluar menuju kamar intan.
Tok!tok!tok!
"Intan,,,,"
Panggilku pelan. Tapi sama sekali tidak ada jawaban dari dalam.
"Intan,,,," tetap nihil.
Aku berdecak kesal. Lalu perlahan aku buka pintu kamarnya, tidak di kunci. Saat pintu terbuka dengan sempurna. Tubuhku gemetar hebat saat melihat darah mengalir deras dari tubuh intan. Perutnya robek sehingga isi organ dalamnya keluar berantakan di lantai. Kulihat wajahnya, bola matanya keluar tidak lagi pada tempatnya.
Klek!
Suara pintu kamar mandi terbuka menampilkan sosok wanita paruh baya yang tak lain adalah ibu kos. Dia menatapku dengan senyum menyeringai.
"Sekarang giliranmu." Ujarnya tenang tapi terdengar seram di telingaku.
Dia melangkah maju, tangannya membawa benda tajam berupa pisau besar.
Bruk!
Punggungku menabrak dinding kamar yang ada di belakangku. Aku terdiam memaku. Sedangkan langkah manusia menyeramkan itu terus maju ke arahku.
"Kenapa kau lakukan ini?."
Tanyaku lirih menahan tangis.
Dia tersenyum seram. Kemudian membuka suaranya.
"Aku benci melihat anak gadis! Aku tidak suka melihat mereka bahagia! Seharusnya mereka bernasib sama seperti anakku yang sudah lenyap dari hidup ini! Aku tak sudi melihat kalian hidup tenang. Kalian dan gadis lainnya harus merasakan apa yang anakku rasakan, kematian!." Ucapnya penuh rasa dendam.
Ia mencoba menusukkan pisau yang di pegangnya pada kakiku. Namun aku berhasik menghindar dengan cepat. Ku dorong tubuhnya hingga dia jatuh kelantai dan meringis kesakitan.
Kuputar gagang pintu kamar lalu bergegas lari pergi dari tempat menyeramkan itu. Aku melihatnya masih mengejarku.
"Aww"
Aku tersandung batu sampai meringis kesakitan. Hujan tiba-tiba turun lebat saat itu hingga aku melihat sebuah cahaya yang mendekat ke arahku. Aku ingin bangkit. Namun kakiku terasa sangat sakit. Sampai akhirnya kulihat cahaya itu semakin dekat hingga.....
Krek!
Kurasakan tubuhku terlindas sesuatu hingga remuk. Dan darah mengalir bersama derasnya air hujan.