Cover penulis: vin
Team: Di Balik Kebodohan, Nyata Dia Seorang Dewa
Di sebuah desa kecil, hiduplah seorang pemuda bernama Arga. Semua orang mengenalnya sebagai anak yang bodoh. Ia sering salah menghitung, lupa arah jalan pulang, bahkan pernah menyiram tanaman dengan pasir karena mengira itu pupuk. Penduduk desa sering menertawakannya dan menganggapnya tidak akan menjadi siapa-siapa.
Namun, Arga tidak pernah marah. Ia hanya tersenyum dan melanjutkan hidupnya dengan tenang. Setiap hari ia membantu warga mengangkat barang, memperbaiki pagar, dan membersihkan jalan desa. Meski dianggap bodoh, hatinya sangat baik.
Suatu hari, bencana besar datang. Langit menjadi gelap dan angin kencang menerjang desa. Hujan turun tanpa henti selama berhari-hari. Sungai meluap dan mengancam menghancurkan seluruh pemukiman. Warga panik dan tidak tahu harus berbuat apa.
Kepala desa memerintahkan semua orang mencari tempat yang lebih tinggi. Namun air naik terlalu cepat. Saat keadaan semakin putus asa, Arga melangkah ke tepi sungai yang mengamuk.
“Arga, jangan lakukan hal bodoh lagi!” teriak salah seorang warga.
Arga hanya tersenyum. Untuk pertama kalinya, tatapannya berubah tajam dan penuh wibawa. Ia mengangkat tangannya ke arah langit. Seketika petir menyambar, tetapi tidak mengenai siapa pun. Cahaya keemasan menyelimuti tubuhnya.
Semua orang terkejut.
“Aku sudah lama hidup di antara kalian,” kata Arga dengan suara yang bergema. “Aku menyembunyikan jati diriku agar dapat memahami kehidupan manusia.”
Air sungai yang meluap tiba-tiba berhenti. Perlahan-lahan air itu surut seolah diperintah oleh kekuatan yang tak terlihat. Awan gelap terbelah dan sinar matahari kembali muncul.
Warga desa terdiam. Mereka tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
“Aku bukan manusia biasa,” lanjut Arga. “Di balik kebodohan yang kalian lihat, aku adalah dewa penjaga negeri ini.”
Semua orang segera berlutut. Mereka merasa malu karena selama ini sering menghina dan meremehkannya.
Arga menggeleng pelan. “Jangan menyesali masa lalu. Jadikan ini pelajaran bahwa seseorang tidak boleh dinilai dari penampilannya saja.”
Setelah berkata demikian, cahaya keemasan kembali menyelimuti tubuhnya. Dalam sekejap, Arga menghilang dari hadapan mereka. Sejak hari itu, warga desa selalu mengingat pesan tersebut. Mereka belajar menghargai setiap orang tanpa memandang kekurangan yang terlihat.
Dan legenda tentang Arga, sang dewa yang bersembunyi di balik kebodohan, terus diceritakan dari generasi ke generasi.
Akhirnya ceritanya pun selesai dan terima kasih setelah membaca cerpen!