Aroma kopi instan dan parfum mahal bercampur di udara ruang tunggu Studio 4. Kinanti (34 tahun), seorang aktris teater yang telah menghabiskan separuh hidupnya di atas panggung, duduk dengan punggung tegak. Di tangannya, lembaran skrip film “Mengejar Senja” sudah tampak lecek akibat dibaca berulang kali.
Di seberangnya, duduk Zizi (19 tahun), seorang selebgram dengan sepuluh juta pengikut yang sedang sibuk melakukan live streaming di ponselnya.
"Guys, hari ini aku ikut audisi film drama serius loh! Doain ya, semoga sutradaranya suka sama vibes aku hari ini," ucap Zizi manja ke arah kamera, mengabaikan tatapan sinis dari beberapa aktor senior di ruangan itu.
Kinanti hanya tersenyum tipis. Di era industri hiburan modern, bakat sedalam lautan sering kali harus kalah telak oleh jumlah pengikut di media sosial. Bagi produser, followers adalah jaminan tiket bioskop yang terjual.
Saat namanya dipanggil, Kinanti melangkah masuk ke dalam ruang audisi yang gelap, hanya diterangi sepasang lampu sorot yang mengarah ke tengah ruangan. Di balik meja panjang, duduk sang sutradara, Lukman, dan sang produser yang tampak bosan, tumpukan berkas profil di depannya.
"Kinanti, terima kasih sudah datang. Silakan langsung masuk ke adegan puncak, saat karakter Sarah menyadari suaminya telah pergi selamanya," ujar Lukman.
Kinanti menarik napas dalam-dalam. Ia memejamkan mata selama tiga detik, membiarkan jiwa Sarah merayap masuk ke dalam tubuhnya. Ketika matanya terbuka, sorot matanya telah berubah.
Di detik pertama bahu Kinanti mulai gemetar, lalu di detik kelima air mata menetes tanpa perlu dipaksa, mengalir melewati pipinya yang tanpa riasan tebal. Dan di detik kesepuluh, suaranya pecah saat mengucapkan dialog, menyampaikan rasa kehilangan yang begitu mentah dan menyakitkan.
Suasana ruangan mendadak sunyi senyap. Lukman terpaku, pulpen di tangannya berhenti bergerak. Bahkan sang produser yang tadinya sibuk bermain ponsel kini menatap Kinanti dengan mulut sedikit terbuka.
"Luar biasa, Kinanti. Terima kasih," ucap Lukman, suaranya sedikit serak karena terbawa suasana.
Kinanti membungkuk hormat, menghapus air matanya, dan berjalan keluar ruangan. Di koridor, ia berpapasan dengan Zizi yang masuk dengan langkah ceria, membawa asistennya yang sibuk merekam video behind-the-scenes.
Dua minggu kemudian, pengumuman resmi film “Mengejar Senja” dirilis di media sosial.
Zizi menjadi pemeran Utama, sementara Kinanti menjadi pemeran pendukung, sebagai ibu guru.
Kinanti menatap layar ponselnya di ruang tamu rumahnya yang sederhana. Kecewa? Tentu saja. Namun, saat ia melihat kolom komentar yang dipenuhi oleh remaja yang memuji kecantikan Zizi, Kinanti tahu di mana posisinya.
Ia memang tidak mendapatkan lampu sorot utama, tetapi saat kamera mulai merekam nanti, ia tidak akan sekadar menjadi pemanis visual. Kinanti akan tetap menjadi jiwa dari cerita itu, karena di dunia hiburan yang penuh topeng plastik, bakat sejati tidak akan pernah bisa dipalsukan oleh algoritma.