Aroma kopi beradu dengan bau tanah basah yang menguar dari luar jendela. Hari Sabtu pukul sepuluh pagi, dan langit sedang hobi-hobinya menumpahkan gerimis tanpa permisi.
Di sudut kedai kopi kecil ini, waktu rasanya berputar dua kali lebih lambat. Rian menyesap latte hangatnya perlahan. Di depannya, sebuah laptop yang setengah terbuka menampilkan layar kosong. Alih-alih mengetik laporan bulanan yang tenggatnya masih tiga hari lagi, perhatian Rian justru teralih pada pemandangan di balik kaca besar kedai.
Seorang bapak penjual tisu sedang berteduh di bawah kanopi toko seberang, sesekali meniup jemarinya yang kedinginan sambil tersenyum kecil melihat ponsel jadulnya.
Ada pula dua anak sekolah berlarian menembus gerimis sambil tertawa lepas, menggunakan tas mereka sebagai payung darurat tanpa peduli seragam yang basah.
Dan yang membuat Rian tersenyum, seekor kucing belang tiga yang biasa mangkal di dekat kasir, malah meringkuk malas di atas kursi kosong sebelah Rian, mendengkur halus menikmati hawa sejuk.
"Mas, mau ditambah air hangatnya?"
Suara Maya, barista sekaligus pemilik kedai, memecah lamunan Rian. Maya berdiri di samping mejanya sambil memegang teko stainless steel, memberikan senyum ramah kepadanya. Rian menggeleng pelan.
"Nggak usah, Mbak. Ini udah pas banget buat nemenin bengong," jawab Rian jujur.
Maya tertawa kecil. "Baguslah. Akhir-akhir ini orang ke sini cuma buat buru-buru kerja atau meeting online. Jarang ada yang bener-bener 'menikmati' kopinya kayak Mas Rian hari ini."
Ucapan sederhana itu entah bagaimana menyentil sesuatu di dada Rian. Dia teringat seminggu terakhirnya yang penuh kepanikan, seperti mengejar kereta subuh, dikejar tenggat waktu, dan makan siang yang seringkali dirapel dengan makan malam karena terlalu sibuk.
Hanya untuk berhenti sejenak menyesap kopi sembari menikmati sisi lain dari dunia... aku menyukai diriku sebagai manusia, tapi aku juga menghormati diriku sebagai mesin. Batin Rian
Rian akhirnya menutup laptopnya rapat-rapat dan memasukkannya ke dalam tas. Dia memutuskan untuk tidak menyentuh pekerjaan apa pun hari ini. Dipandanginya lagi rintik hujan yang mulai mereda, menyisakan kilauan butiran air di dedaunan pohon mangga di pinggir jalan.
Dia mengambil ponselnya, lalu mengirim pesan singkat ke ibunya di kampung halaman: “Bu, apa kabar? Di sini lagi hujan. Ibu sehat-sehat, ya. Pekan depan Rian pulang.”
Di tengah dunia yang bergerak terlalu cepat, momen lambat dan biasa saja seperti inilah yang justru membuat Rian merasa benar-benar hidup.