Aku berumur tujuh belas tahun, tapi rasanya usiaku sudah seribu tahun sejak hari itu.
Hari di mana dunia yang kutinggali runtuh pelan-pelan, meninggalkan aku berdiri sendirian di tengah puing-puing kenangan.
Hujan sore ini turun sama derasnya seperti waktu itu.
Langit kelabu, persis seperti wajah-wajah orang yang datang melayat, berisi duka yang tak bisa mereka tutupi.
Aku duduk di sini, di ujung kasur kamarku, menatap dua bantal yang selalu diletakkan rapi di sisi kiri dan kanan tempat tidurku.
Dulu, sebelum tidur, tangan Ibu akan menyentuh kepalaku, jemarinya yang lembut menyingkirkan rambut yang menutupi dahi, lalu berbisik,
“Tidurlah nyenyak, Nak. Ada Ibu dan Ayah di sini.”
Dan Ayah, dengan suaranya yang berat dan tenang, akan menimpali,
“Tidak ada yang perlu ditakutkan selagi kami ada.”
Sekarang? Hanya ada aku. Dan suara hujan yang memukul atap, terdengar seperti tangisan langit yang tak berkesudahan.
Aku melangkah keluar kamar, menyusuri lorong rumah yang terasa begitu panjang dan dingin.
Di ruang tengah, kursi goyang kesayangan Ayah masih berdiri di sudut, diam dan bisu.
Aku ingat betul, setiap sore ia akan duduk di sana sambil membaca koran, sesekali memanggilku untuk memberinya teh manis.
Dulu aku sering mengeluh, merasa perintah itu merepotkan. Sekarang, aku rela berlari sejauh apa pun, membawa ribuan cangkir teh, asal saja aku bisa mendengar suaranya memanggil namaku sekali lagi.
Sekali saja.
Dapur adalah tempat yang paling sulit aku lewati.
Di sana, aroma masakan Ibu seolah masih menempel di udara. Aroma nasi goreng, aroma kuah santan, aroma kue yang baru matang—semua itu tinggal bayangan.
Kompornya dingin. Meja makannya kosong. Dan yang paling menyakitkan: dua piring makan dengan motif bunga kesukaan Ibu, dan gelas besar bergambar mobil kesukaan Ayah, kini tersimpan rapi di lemari kaca.
Tak ada yang berani menyentuhnya, tak ada yang berani menggunakannya lagi. Seolah jika benda itu dipakai, maka jejak mereka akan benar-benar hilang.
Aku keluar ke beranda. Tanaman bunga yang dulu disiram Ibu setiap pagi mulai layu di ujung daunnya.
Aku belum sanggup merawatnya. Tanganku terasa berat, hatiku terasa kosong seperti mangkuk pecah yang tak bisa disambung kembali.
Ada rasa yang begitu rumit bergejolak di dada ini. Saat aku melihat langit yang indah berwarna jingga saat senja, aku ingin sekali berteriak memanggil mereka,
“Lihat, Ayah, Ibu… indah sekali ya langitnya!” Tapi tak ada jawaban.
Keindahan dunia di luar sana justru menjadi siksaan paling halus.
Mengapa bunga tetap mekar padahal mereka sudah tiada? Mengapa matahari tetap terbit dan terbenam, padahal duniaku sudah gelap gulita? Rasanya tidak adil. Rasanya semua keindahan itu menjadi ejekan bagi kesepianku.
Aku menyandarkan punggungku ke dinding dingin. Air mata menetes lagi, rasanya air mata ini takkan pernah habis.
Aku menangis bukan hanya karena mereka pergi, tapi karena aku baru sadar betapa kecilnya aku tanpa mereka.
Aku baru sadar bahwa semua rasa aman, semua tawa, semua kehangatan yang kurasakan dulu, semuanya adalah pemberian mereka. Dan sekarang, pemberian itu dicabut kembali.
Aku masih remaja. Aku seharusnya sibuk mengerjakan PR, bertengkar soal pakaian dengan Ibu, atau diajak Ayah berkeliling naik motor.
Tapi hidup memaksaku dewasa dalam semalam. Memaksaku mengerti bahwa kata “pulang” sekarang artinya masuk ke rumah yang tak ada yang menunggu. Bahwa kata “rumah” sekarang hanya bangunan kosong yang menyimpan kenangan.
Angin sore berhembus, menerbangkan selembar foto yang terselip di saku bajuku. Foto kami bertiga, tersenyum lebar di pantai waktu liburan lalu. Aku memungutnya, mengusap wajah mereka di atas kertas itu dengan jari yang gemetar.
—Ayah, Ibu… aku rindu. Rindu sekali sampai rasanya sesak napas.
Di tengah rasa sakit yang menyayat ini, di tengah keindahan alam yang tetap berjalan tanpa peduli luka hatiku, aku tersedu pelan. Aku tahu aku harus kuat. Aku tahu mereka tak ingin melihatku hancur begini. Tapi untuk saat ini, biarkan aku duduk di sini sedikit lebih lama.
Biarkan aku merasakan rasa sakit ini sepenuhnya. Karena rasa sakit ini adalah satu-satunya cara yang kumiliki untuk merasa bahwa mereka masih ada, masih hidup, dan masih dicintai dengan segenap jiwaku.
Hujan mulai reda, menyisakan genangan air yang memantulkan cahaya remang. Di sana, di pantulan air itu, seolah aku melihat bayangan dua orang yang berdiri di belakangku, menatapku dengan pandangan yang sama lembutnya seperti dulu.
Mungkin memang benar, orang yang kita cintai takkan pernah benar-benar pergi. Mereka hanya berubah wujud—menjadi angin, menjadi kenangan, menjadi kekuatan di saat kita merasa paling lemah. Tapi tetap saja… rasanya hilang. Rasanya sepi. Dan tak ada keindahan apa pun di dunia ini yang sanggup menggantikan tempat mereka di sampingku.