Langit sore berwarna abu-abu ketika Alya berdiri di halte bus tua dekat kampusnya.
Udara setelah hujan terasa dingin. Aroma tanah basah bercampur dengan wangi kopi dari kedai kecil di seberang jalan. Orang-orang berlalu lalang dengan payung di tangan, sementara genangan air memantulkan cahaya lampu yang mulai menyala.
Di tangannya, Alya menggenggam sebuah surat yang sudah kusut karena terlalu sering dibuka.
Surat terakhir dari Arga.
Laki-laki yang pernah menjadi rumah bagi segala cerita dan mimpinya.
Sudah satu tahun sejak mereka berpisah.
Bukan karena perselingkuhan.
Bukan karena pertengkaran besar.
Melainkan karena kehidupan.
Arga mendapatkan pekerjaan di kota lain, sementara Alya harus tinggal untuk merawat ibunya yang sakit.
Awalnya mereka mencoba bertahan.
Telepon setiap malam.
Pesan singkat setiap pagi.
Video call saat rindu datang terlalu kuat.
Namun lambat laun, jarak tidak hanya memisahkan dua kota. Jarak juga memisahkan waktu, kesibukan, dan harapan.
Sampai akhirnya mereka sepakat untuk melepaskan satu sama lain.
Alya masih ingat malam itu.
Suara hujan terdengar di balik jendela kamarnya.
"Kalau kita terus memaksa, kita hanya akan saling menyakiti," kata Arga dengan suara pelan.
Alya menggigit bibir menahan tangis.
"Kamu sudah tidak mencintaiku lagi?"
Hening.
Beberapa detik yang terasa seperti bertahun-tahun.
"Luka karena mencintaimu terlalu dalam berbeda dengan tidak mencintaimu."
Kalimat itu menjadi perpisahan mereka.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada amarah.
Hanya dua orang yang saling mencintai tetapi tidak mampu mengalahkan keadaan.
---
Sejak saat itu, Alya mencoba melanjutkan hidup.
Ia bekerja, merawat ibunya, dan belajar tersenyum kembali.
Namun ada hal-hal yang selalu mengingatkannya pada Arga.
Aroma kopi hitam.
Lagu favorit mereka.
Dan hujan.
Terutama hujan.
Karena Arga selalu menyukai hujan.
"Kamu tahu kenapa aku suka hujan?" tanyanya suatu hari.
Alya menggeleng.
"Karena hujan mengajarkan bahwa tidak semua yang jatuh berarti kalah."
Saat itu Alya hanya tertawa.
Kini ia mengerti.
---
Sore itu, setelah setahun berlalu, Alya memutuskan mengunjungi kafe yang dulu sering mereka datangi.
Bel kecil di pintu berbunyi ketika ia masuk.
Aroma kopi yang hangat langsung menyambutnya.
Meja-meja kayu masih sama.
Lampu kuning temaram masih menggantung di langit-langit.
Bahkan lagu yang diputar terdengar familiar.
Alya memilih duduk di pojok dekat jendela.
Tempat favorit mereka dulu.
Ia memesan secangkir cappuccino.
Ketika cangkir itu tiba, uap hangatnya naik perlahan. Jemarinya menyentuh permukaan keramik yang hangat.
Tiba-tiba dadanya terasa sesak.
Bukan karena ia belum move on.
Melainkan karena ia sadar bahwa kenangan memang tidak pernah benar-benar pergi.
Kenangan hanya belajar hidup berdampingan dengan waktu.
"Masih suka duduk di sini?"
Suara itu membuat Alya membeku.
Ia mengenal suara itu.
Terlalu mengenalnya.
Perlahan ia mengangkat kepala.
Dan di sana berdiri Arga.
Sedikit lebih dewasa.
Sedikit lebih kurus.
Namun matanya masih sama.
Mata yang dulu membuatnya merasa aman.
Jantung Alya berdetak lebih cepat.
Untuk sesaat, dunia terasa berhenti.
"Hai," ucap Arga pelan.
"Hai."
Hanya satu kata.
Namun di balik kata sederhana itu tersimpan ribuan perasaan yang tidak pernah sempat terucap.
Mereka berbincang selama hampir dua jam.
Tentang pekerjaan.
Tentang keluarga.
Tentang kehidupan yang berjalan tanpa menunggu siapa pun.
Tidak ada pembicaraan tentang kembali bersama.
Tidak ada pertanyaan tentang masa lalu.
Hanya dua orang yang pernah saling mencintai dan kini belajar menerima kenyataan.
Saat senja berubah menjadi malam, Arga berdiri.
"Aku harus pergi."
Alya mengangguk.
"Jaga diri."
"Kamu juga."
Lalu Arga tersenyum.
Senyum yang dulu begitu ia rindukan.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Alya membalas senyum itu tanpa rasa sakit.
Karena akhirnya ia mengerti sesuatu.
Cinta tidak selalu tentang memiliki.
Kadang cinta adalah tentang merelakan seseorang menjadi bahagia, meskipun kebahagiaan itu tidak lagi bersama kita.
Arga berjalan menuju pintu.
Bel kembali berbunyi.
Sesaat kemudian sosoknya menghilang di balik hujan malam.
Alya memandangi jendela yang dipenuhi titik-titik air.
Anehnya, ia tidak menangis.
Ia hanya tersenyum kecil.
Karena beberapa orang memang hadir bukan untuk tinggal selamanya.
Mereka hadir untuk mengajarkan arti cinta, lalu pergi meninggalkan pelajaran yang akan kita bawa sepanjang hidup.
Di luar, hujan masih turun.
Namun kali ini, hujan tidak lagi terasa seperti kehilangan.
Melainkan seperti ucapan terima kasih untuk sebuah cinta yang pernah ada.
"Tamat".