Hujan turun perlahan sore itu.
Butiran air menetes dari ujung atap rumah sederhana di pinggir kota. Aroma tanah basah bercampur dengan wangi daun mangga yang terguyur hujan memenuhi udara. Damar berdiri di depan jendela, memandangi jalanan yang mulai sepi.
Di atas meja kayu tua, secangkir teh hangat mengepulkan uap tipis.
Teh itu milik ibunya.
Sudah tiga hari ibunya dirawat di rumah sakit karena penyakit yang selama ini diam-diam disembunyikan. Selama bertahun-tahun, wanita itu selalu berkata dirinya baik-baik saja.
"Aku cuma capek sedikit," begitu katanya setiap kali Damar melihat wajahnya semakin pucat.
Namun kenyataannya tidak sesederhana itu.
Damar menghela napas panjang. Dadanya terasa sesak oleh penyesalan yang datang terlambat.
Selama ini ia terlalu sibuk.
Sibuk bekerja.
Sibuk mengejar gaji yang lebih tinggi.
Sibuk membangun masa depan.
Sampai ia lupa bahwa waktu tidak pernah menunggu siapa pun.
Pikirannya melayang pada beberapa bulan lalu.
Saat itu ibunya menunggu di ruang tamu dengan senyum hangat.
"Damar, besok kalau libur, kita ke pasar, ya?"
Namun ia bahkan tidak mengangkat kepala dari layar laptop.
"Lain kali saja, Bu. Aku banyak kerjaan."
Ibunya hanya tersenyum.
"Ya sudah."
Kini kalimat sederhana itu terus terngiang di telinganya.
Ya sudah.
Dua kata yang ternyata menyimpan banyak kekecewaan.
Malam mulai turun ketika Damar tiba di rumah sakit.
Aroma antiseptik yang tajam memenuhi lorong-lorong putih. Suara langkah kaki perawat dan bunyi alat monitor terdengar silih berganti.
Ia membuka pintu kamar perlahan.
Ibunya sedang terbaring lemah.
Wajah yang dulu selalu tampak kuat kini terlihat rapuh. Rambutnya mulai memutih. Tangan yang dahulu sering mengusap kepalanya kini dipenuhi garis-garis usia.
"Ibu..." suara Damar bergetar.
Wanita itu membuka mata dan tersenyum.
Senyum yang sama seperti ketika ia masih kecil.
"Kamu sudah makan?"
Damar menunduk.
Di saat tubuhnya sendiri sedang sakit, ibunya masih memikirkan dirinya.
Air mata yang selama ini ditahan akhirnya jatuh.
"Maaf, Bu."
Ibunya mengernyit bingung.
"Maaf untuk apa?"
"Aku terlalu sibuk. Aku jarang pulang. Aku bahkan tidak tahu kalau Ibu sakit."
Ruangan menjadi hening.
Hanya terdengar suara mesin monitor yang berdetak teratur.
Ibunya mengusap tangan Damar pelan.
"Tidak apa-apa."
"Tapi aku merasa gagal jadi anak."
Wanita itu tersenyum tipis.
"Orang tua tidak menghitung seberapa sering anaknya pulang."
"Lalu apa yang dihitung?"
Ibunya menatapnya lama.
"Apakah anaknya hidup dengan baik."
Kalimat itu menghantam hati Damar lebih keras daripada apa pun.
Selama ini ia berpikir cinta harus dibalas dengan sesuatu yang besar.
Rumah yang mewah.
Mobil baru.
Uang yang banyak.
Padahal yang paling diinginkan ibunya hanyalah melihat dirinya bahagia.
Malam semakin larut.
Damar duduk di samping ranjang hingga ibunya tertidur.
Ia memperhatikan wajah wanita yang telah mengorbankan begitu banyak hal untuk membesarkannya.
Tiba-tiba ia teringat masa kecilnya.
Saat hujan deras seperti sekarang, ibunya selalu membuatkan teh hangat dan pisang goreng.
Mereka akan duduk di teras sambil mendengarkan suara hujan.
Saat itu hidup terasa sederhana.
Namun entah sejak kapan ia mulai menganggap momen-momen kecil itu tidak penting.
Padahal justru di sanalah kebahagiaan tinggal.
Beberapa minggu kemudian, kondisi ibunya mulai membaik.
Suatu pagi yang cerah, mereka akhirnya pulang ke rumah.
Udara segar setelah hujan semalam terasa menenangkan.
Damar masuk ke dapur.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia mencoba membuat teh sendiri.
Tangannya canggung saat menuangkan air panas.
Namun ketika aroma teh memenuhi ruangan, senyum kecil muncul di wajahnya.
Ia membawa dua cangkir ke teras.
Ibunya duduk di kursi bambu sambil menikmati hangatnya matahari pagi.
"Untuk Ibu."
Wanita itu menerima cangkir tersebut.
"Enak juga."
Damar tertawa.
"Padahal aku baru belajar."
Mereka duduk bersama dalam keheningan yang nyaman.
Angin pagi berembus lembut.
Burung-burung berkicau dari kejauhan.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Damar tidak memikirkan pekerjaan.
Tidak memikirkan target.
Tidak memikirkan masa depan.
Ia hanya menikmati waktu yang ada.
Karena ia akhirnya memahami satu hal yang sering dilupakan banyak orang:
Kita selalu berpikir masih punya banyak waktu untuk orang-orang yang kita cintai.
Padahal suatu hari nanti, yang tersisa mungkin hanya secangkir teh hangat dan kenangan yang tidak bisa diulang kembali.
"Tamat