Di kaki bukit yang rindang, hiduplah seorang anak laki-laki bernama Bima. Setiap pagi, sebelum matahari terbit, ia selalu berjalan menuju sumber air yang terletak di lereng atas. Air di sana sangat jernih, dingin, dan rasanya manis — menjadi sumber kehidupan bagi seluruh warga desa.
Suatu hari, saat Bima tiba di tempat itu, ia terkejut melihat banyak ranting dan sampah berserakan di sekitar mata air. Air yang biasanya mengalir deras kini hanya menetes perlahan, dan warnanya mulai terlihat keruh. Hatinya terasa sedih. Ia teringat pesan kakeknya: “Air adalah darah bumi. Jika kita merusaknya, maka kita sendiri yang akan merasakan akibatnya.”
Tanpa berpikir panjang, Bima segera membersihkan sampah dan menyusun kembali batu-batu yang mengelilingi sumber air. Ia juga membersihkan saluran air yang tersumbat akibat daun kering dan tanah longsor. Saat matahari mulai menyingsing, air perlahan kembali mengalir jernih seperti sedia kala.
Namun Bima tahu, ini tidak cukup. Ia mengajak teman-temannya dan warga desa untuk membuat aturan sederhana: tidak boleh membuang sampah di sekitar hutan, harus menanam pohon setiap tahun, dan menjaga kebersihan sungai. Awalnya ada yang menganggap hal itu sepele, tapi saat musim kemarau tiba, kebenaran mulai terlihat.
Desa mereka tetap memiliki air melimpah, sedangkan desa tetangga mulai kesulitan mendapatkan air bersih. Warga akhirnya sadar: apa yang mereka jaga hari ini adalah jaminan kehidupan untuk esok hari.
Setiap pagi, Bima masih terus berjalan ke puncak bukit. Ia melihat embun yang menetes dari daun-daun pohon, jatuh ke tanah, lalu meresap kembali menjadi air yang akan mereka nikmati. Ia tersenyum — mengerti bahwa menjaga alam bukanlah beban, melainkan cara terbaik untuk menjaga dirinya sendiri dan masa depan.