Di sebuah rumah ada seorang anak bungsu yang selalu bangun lebih pagi daripada siapapun. Dia bangun lebih pagi bukan karena dia memang giat bukan juga karena itu murni keinginannya, tapi dia bangun karena tuntutan yang memang secara tidak langsung harus dia lakukan.
Dia bekerja dari matahari belum terbit sampai matahari sudah terbenam. itu semua dia lakukan karena keadaan yang tidak baik baik saja, secara tidak langsung dia harus menjadi tulang punggung keluarga padahal saat itu masih ada ayahnya yang masih dalam keadaan sehat.
Dia dituntut untuk mempunyai penghasilan sementara ayahnya malah diam enak-enakan dengan istri barunya.
Di tempat kerja dia diberi tugas lebih banyak dari siapapun dengan gaji yang tidak sesuai, ditambah beberapa rekan kerjanya selalu melakukan pelecehan secara verbal yang membuat psikologisnya terganggu.
Tidak hanya itu—
RUMAH yang orang definisikan menjadi paling aman dan nyaman dengan anggota keluarga yang harmonis, saling mendukung, dan seharusnya selalu ada untuk kita dia punya rumah itu.
Rumah tempat dia pulang untuk merasa aman dan nyaman malah membuat dia semakin lelah dan ketakutan. Dirumah itu fisik dan mentalnya malah semakin terganggu
Beban ekonomi yang diserahkan padanya, permasalahan keluarga berkepanjangan,dia ditinggal oleh sosok ibu yang paling penting dalam hidupnya, bahkan belum 100 hari setelah ibunya meninggal ayah yang seharusnya ada untuk anaknya dia malah menikah lagi tanpa sepengetahuan anak itu.
Dia sering dianggap hanya sebagai anak yang memang wajib/harus selalu membantu keluarga walau keadaan nya tidak baik-baik saja. Dirumah itu, di dalam keluarga itu dia tidak diberi tempat bahkan hanya untuk sekedar mencurahkan isi hati dan pendapat.
Karena semua yang terjadi dalam hidupnya dia menanamkan pikiran “ rasa sakit adalah hal yang paling mudah untuk bertahan”
Ketika ditempat kerja bahkan di lingkungan rumahnya orang-orang menganggap dia anak pendiam, baik dan selalu tenang. Mereka tidak tahu saja kalau dia diam karena sedikit demi sedikit mulai ingin menjauh dari keluarga dan kehidupan sosial. Mereka juga tidak kalau dalam isi kepala anak itu selalu berisik dengan suara suara menyeramkan.
“Kamu tidak boleh lelah”
“kamu harus hidup hanya untuk membantu keluargamu”
“Kamu itu mesin uang mereka”
“Kamu dijadikan anak yang memuaskan fantasi rekan kerjamu”
Setelah begitu banyak hal dia lalui dengan berbagai macam permasalahan hidup dan tekanan emosional
Suatu malam ketika semua orang tertidur dia duduk di sudut kamarnya. Dia menangis, tidak keras tidak berteriak lebih ke isakan-isakan kecil yang tertahan
Suara suara itu datang lagi….
“Kamu itu tidak boleh merasa lelah”
“untuk apa hidup kalau hanya menanggung beban yang tidak seharusnya kamu tanggung”
“Lebih baik kamu mati agar lebih tenang”
Sesak di dalam dadanya semakin terasa menyakitkan. Namun untuk pertama kalinya dia tidak melawan suara-suara itu, dia hanya bertanya pelan pada hatinya.
“kalau aku tidak kuat hari ini… . . Apakah aku masih boleh hidup”
Hening----Tidak ada jawaban langsung
Tapi disela-sela tangis dan dinginnya malam, Ada sedikit rasa tenang ketika ia teringat senyuman dan pelukan hangat dari ibu.
Keesokan harinya semua hal masih tetap sama, tidak Ada perubahan besar tidak ada dunia yang tiba-tiba berubah. Namun setiap hari anak itu mulai mencari cara cara kecil untuk tetap bertahan
Dia mulai sering membaca dan menulis buku harian dan mulai mengembangkannya menjadi rangkaian kata yang bisa semakin memotivasi dirinya sendiri dan mungkin orang lain.
Memang ia tidak langsung sembuh, tidak juga langsung merasa kuat. Tapi dia mulai belajar bahwa hidup bukan hanya tentang selalu menjadi baik-baik saja— melainkan tetap bernafas bahkan ketika dada mulai terasa penuh.
Dia juga menyadari bahwa tidak harus pergi dari dunia untuk merasa lebih tenang dan damai, melainkan dia harus belajar bagaimana ia harus lebih mencintai dirinya sendiri.
Membuat orang lain bahagia memang merupakan sesuatu yang mulia namun jangan sampai kita juga lupa bahwa diri kita lebih perlu dijaga dan dibuat bahagia..
Cerita ini reel dari kisah hidupku sebelum aku jadi penulis😊
—TAMAT—