"Kalian kenapa? Ku liat beberapa hari ini kayak diem - diem an?"
Mereka sedang duduk bertiga, di kursi tamu. Menikmati makan siang yang sebenarnya terlalu kesiangan.
Naya menghentikan kunyahan. Dia mendongak. Menatap Kak Thalia.
"Kan memang biasa diem, Kayak Mba nggak tau aja !".
Bukan Naya yang menjawab. Melainkan orang lain. Dia-nya.
Thalia menggeleng.
"Harsa - Harsa.. Kamu tuh ya.. Kita dah berapa tahun bareng? Hapal sudah Aku sama tingkah Kamu tu kalo lagi ngambek. Naya juga, walaupun Kamu baru gabung, tapi Mba tau yaa.. cepet cerita ada apa. Jangan sampe suasana Tim jadi nggak enak, karena ada dendam yang nggak diungkapin".
"Nggak ada apa - apa, Mba . Aman". Ujar Naya sambil tersenyum kecil.
"Ada masalah di rumah?".
"Nggak mba . Nggak ada ! "
"Ada masalah sama si Harsa? Ketua Tim mu itu?"
"Ha?".
Naya terdiam. Dia tidak bisa menjawab.
Sementara Dia-nya juga tidak menjawab. Dia sejak tadi memperhatikan bagaimana Naya menjawab pertanyaan Thalia.
"Berarti bener.. Harsa, Aku nggak tau ya masalah kalian apa, tapi Kita ini Tim. Harus kompak. Suasana harus nyaman. Kalo ada masalah dibicarakan.. dah kalian selesein lah dulu, Mba mau keluar. Pokoknya nanti pas Mba masuk ruangan, kalian sudah selesai ".
Benar saja, Thalia langsung keluar. Memberi ruang ke Naya dan Dia-nya.
Satu menit dalam kebisuan. Tidak ada yang memulai pembicaraan.
Naya berusaha keras menelan makanan terakhir yang sudah berhasil dikunyah. Dia ingin segera mengakhiri situasi canggung ini.
Naya berdiri dan hendak beranjak dari duduknya. Namun sebuah tangan mencekalnya. Dan membuat Naya duduk secara paksa.
"Plis jangan kayak gini, Nay ! ".
Harsa, si Dia-nya Naya, menatap Naya dengan ekspresi penuh permohonan.
"Kamu yang jangan kayak gini, Mas !"
"kenapa Nay? Kita baik - baik aja sebelum ini.. ".
Baik baik aja? Naya membeo, namun dalam hati.
"Kamu ngerasa baik - baik aja, Mas? Kamu tau apa yang Aku rasain tiap harinya? Kamu datang ke hidup Aku bawa kejutan. Bikin Aku sesaat terlena, sampe Aku lupa kalo sebenarnya tiap hari Aku ketakutan, Mas ! Aku cinta sama Kamu, tapi Aku nggak bisa tunjukin itu ! "
Naya berbicara dengan suara bergetar. Dia selalu menekan setiap kata yang bahkan sebenarnya ingin membuatnya berteriak kencang.
Harsa memeluk Naya. Untuk pertama kalinya, hal itu dilakukan di kantor. Biasanya hanya flirting, dan menyentuh jemari beberapa detik.
"Aku minta maaf untuk itu, Nay !"
"Cuman itu yang bisa kamu ucapin kan, Mas ? Sebelum semuanya terlambat, tolong ngertiin Aku. Jangan bikin Aku goyah seperti ini. Kamu harus balik ke waktu dimana Aku belum ada di sini "
Naya melepaskan pelukan Harsa. Dia menatap mata itu. Mata yang beberapa hari ini selalu menatapnya dengan sendu. Namun tidak dia lihat.
"Aku berterimakasih ke kamu, karena sudah memberikan sesaat rasa cinta kamu ke Aku, Mas.. Aku jujur pernah memimpikan hal gila itu. Dicintai oleh Kamu yang sudah punya istri ! Aku minta maaf karena buat Kamu khianatin istri kamu ! "
Naya meneguhkan dirinya. Dia tidak boleh goyah. Awalnya mungkin sulit, namun seiring waktu, cinta yang dipupuk ketakutan itu pada akhirnya akan layu.
End ~
Note : Terimakasih sudah mengikuti kisah Naya dan Dia-nya (Harsa). Kisah sesaat namun rumit. Kisah yang memberikan Naya pelangi walaupun hanya sebentar. Kisah yang membuat Naya merasakan butterfly era untuk kedua kali nya. Kisah yang sebenarnya Naya sendiri tidak tahu, kenapa Harsa memilihnya untuk melabuhkan cinta.