Kak Xavier meninggal di hari pertama aku masuk SMA.
Bukan meninggal di rumah sakit. Dia meninggal di bawah hujan, sambil masih megang helm motorku yang baru. "Biar nggak kehujanan, Dek," katanya terakhir. Truk itu datang dari arah yang nggak dia duga. Dia dorong aku. Dirinya yang ketabrak.
Sejak itu aku punya 3 warisan: nilai rapot bagus, lukisan pemandangan yang dia ajarin, dan jaket biru tua kebesaran yang baunya masih kayak rokok dan keringat dia.
Aku pakai jaket itu tiap hujan. Orang bilang aku aneh. "Udah 3 tahun, Virly. Ikhlas dong." Ikhlas gimana? Pelindungku hilang. Kakak terbaikku hilang. Kakak yang hafal aku alergi udang, yang nungguin aku sampe jam 2 pagi pas aku nongkrong, yang bilang "Kamu nggak usah jadi hebat. Jadi Virly aja cukup."
Hari ini hujan lagi. Deras. Aku nekat naik motor ke rumahnya. Rumah kosong. 3 tahun nggak ada yang nepatin. Kuncinya masih di bawah pot bunga, kayak dulu dia bilang.
Di kamarnya, meja lukisnya masih berantakan. Catnya udah kering. Di atas kanvas setengah jadi, ada tulisan pake spidol: "Buat Virly. Pemandangan terakhir kita."
Aku nangis di situ. Di lantai dingin, pake jaket biru tua yang sekarang udah kekecilan di pundak. Aku ngerasa bodoh. 3 tahun aku nyalahin hujan. Padahal hujan cuma ngingetin aku kalau dulu ada orang yang rela basah demi aku nggak basah.
Terus pintunya kebuka.
"Nyolong jaket orang ya?"
Aku nengok. Itu Pak RT. Tetangga sebelah. Dia nyodorin plastik. Isinya... mie rebus dan telur. Kesukaan Kak Xavier.
"Dia nitip," kata Pak RT, matanya ikut merah. "Sebulan sebelum... dia bilang ke saya. 'Pak, kalau Virly balik ke sini pas hujan, kasih dia ini. Bilangin "kakak nggak janji nemenin selamanya". "Tapi janji ninggalin anget yang cukup buat dia jalan sendiri."'
Aku gigit bibir sampe berdarah. Jaket biru tua ini emang anget. Tapi angetnya sekarang beda. Dulu anget karena ada dia. Sekarang anget karena aku harus belajar jadi "dia" buat diriku sendiri.
Sebelum pulang, aku ngelukis 1 goresan biru tua di pojok kanvas "pemandangan terakhir kita". Itu langit yang dia nggak sempet selesaiin.
Kak, aku nggak janji udah ikhlas. Tapi aku janji jaket ini nggak akan aku lepas... sampe aku cukup kuat buat minjemin ke orang lain yang lagi kehujanan.