Sejak kecil, Arka selalu merasa ada yang salah dengan sepasang kakinya. Karena kaki-kaki itu selalu menolak untuk diam. Di saat anak-anak lain berlarian mengejar bola, Arka justru lebih suka berdiri telanjang kaki di atas tanah basah sehabis hujan, membiarkan lumpur menyelip di antara jari-jarinya, seolah-olah ia sedang mencoba... menancap.
Dokter bilang itu hanya kebiasaan unik masa kecil. Namun, kebiasaan itu tidak pernah pergi bahkan setelah Arka menginjak usia dewasa di tengah kepungan beton dan polusi kota besar.
Suatu akhir pekan, demi melarikan diri dari penatnya rutinitas, Arka memutuskan berkunjung ke sebuah hutan konservasi yang masih asri di pinggiran kota. Begitu melangkah masuk, aroma humus dan daun-daun basah langsung menyergap indranya. Jantungnya berdegup kencang, karena rasa familier yang amat sangat.
Ia berjalan semakin dalam hingga tiba di depan sebuah pohon mahoni raksasa yang usianya mungkin sudah ratusan tahun. Tanpa sadar, Arka melepaskan sepatunya. Ia melangkah mendekat, lalu menempelkan kedua telapak tangannya pada batang pohon yang kasar dan berlumut itu.
Wuss.
Dunia di sekitarnya mendadak sunyi. Suara cicit burung dan gesekan daun lenyap, digantikan oleh simfoni yang belum pernah ia dengar dengan telinga manusianya. Nyanyian air yang mengalir di dalam gelapnya tanah, dan getaran purba dari dalam bumi.
Sebuah kilasan memori, yang bukan berasal dari kehidupannya saat ini, berputar hebat di kepalanya.
Ia bukannya melihat masa lalu sebagai seorang raja, ksatria, atau bahkan penyair. Ia melihat dunia dari sudut pandang yang megah namun diam. Selama beratus-ratus tahun, ia adalah bagian dari rimba. Ia mengingat rasanya menantang badai, kehangatan kawanan rusa yang berteduh di bawah rindangnya, dan rasa sakit yang luar biasa saat api hutan perlahan melahap habis batangnya hingga menjadi abu.
Arka tersentak, menarik tangannya kembali. Napasnya terengah-engah, dan tanpa disadari, air mata sudah membasahi pipinya.
Sekarang ia telah mengerti. Jiwanya yang dulu terbiasa kokoh mencengkeram bumi selama berabad-abad, kini terlahir kembali dan dipaksa bergerak di atas dua kaki fana. Kegelisahan yang selama ini ia rasakan di tengah kota bukanlah sebuah penyakit, melainkan kerinduan sebuah akar yang kehilangan tanahnya.
Arka tersenyum kecil, memandang kedua tangannya, lalu menatap langit dari balik celah dedaunan. Kehidupan kali ini memang berbeda. Ia tak lagi memiliki daun untuk menangkap matahari, atau kulit kayu tebal untuk menahan dingin.
Namun, ia akhirnya memiliki suara untuk berbicara dan sepasang kaki untuk bergerak melindungi alam yang pernah membesarkannya. Karena sekarang, reinkarnasi membawa jiwa sang pelindung hijau ke dalam wujud manusianya.
Hari itu, Arka pulang dengan langkah tanpa gelisah sedikit pun seperti sebelumnya. Ia siap berjalan jauh, karena ia tahu, sejauh apa pun ia melangkah, bumi di bawah kakinya adalah rumah yang sama.