Naya memejamkan matanya. Bersiap untuk tidur.
'Aku nggak perlu menjelaskan gimana perasaanku kan? Kita sudah berjalan sejauh ini, dan Kamu masih bertanya apa Kamu ada di sini?'
Ucap Dia, sambil menyentuh sisi kanan dadanya. Mata itu menatap dalam Mata Naya.
'Kamu ada disini, Kamu berharga buat Aku. Aku berusaha jaga Kamu di sini, supaya nggak tertekan. Bukankah itu cukup sebagai tanda kalau Aku sayang Kamu, Nay?'.
'Aku nggak punya kosakata yang banyak, yang Aku tahu, Kamu berharga dan Aku mau sama Kamu selalu..'
Naya semakin mengeratkan pejaman matanya. Dadanya tiba- tiba menjadi sesak, hanya dengan membayangkan kejadian tadi siang di ruangan kantor.
'Andai Kita bertemu jauh sebelum hari ini, apakah perasaan ini akan ada, Mas?'
'Aku selalu bayangin Kamu genggam tanganku, merangkulku tanpa khawatir orang lain melihat. Lalu Kamu mengucapkan kata cinta dengan bebas. Aku selalu bayangin Kamu menyayangi Aku secara terang - terangan. Nyatanya, Setiap hari rasa ini tumbuh bersama ketakutan..'
'Aku mau Kita sama - sama'.
Dalam mimpinya, Naya sedang berjalan di sebuah jalan yang lurus, panjang, tak bertepi. Dia-nya menggenggam jemari Naya dengan erat. Sesekali menoleh pada Naya, dan melemparkan senyuman indah.
Bagaimana akhir dari rasa cinta yang dipupuk dengan ketakutan?
Naya~