Matahari sore itu tidak tenggelam dengan megah, melainkan surut perlahan di balik kepungan awan kelabu. Di dalam toko buku tua yang terselip di sudut jalan, aroma kertas usang bercampur dengan wangi tanah kering yang baru saja disapa rintik gerimis pertama.
Di dekat jendela kayu yang catnya sudah mulai mengelupas, seorang pemuda duduk diam. Di hadapannya, secangkir teh melati yang sudah kehilangan uapnya bergeming. Alih-alih membaca novel tebal yang terbuka di pangkuannya, atensinya justru tertuju pada bulir-bulir air yang merayap turun di kaca jendela. Saling bertabrakan, lalu melebur menjadi satu aliran kecil yang jatuh ke bingkai bawah.
"Permisi, mau menambah air hangatnya?" sebuah suara tenang memecah keheningan yang sejak tadi terjaga.
Pemilik toko, seorang wanita paruh baya dengan kacamata yang bertengger di ujung hidung, berdiri tak jauh dari mejanya.
"Ah, tidak usah, Bu. Terima kasih. Ini sudah cukup," jawabnya sembari mengulas senyum tipis.
Wanita itu mengangguk paham, lalu kembali ke balik meja kasir. Ia melanjutkan kegiatannya merajut selembar syal hangat, sementara jarum rajutnya sesekali berdenting pelan. Detik jam dinding kuno berbunyi tik-tok secara konstan, menjadi latar suara yang ritmis di antara desau angin yang menyusup dari celah pintu.
Pemuda itu kembali menatap halaman bukunya. Barisan kalimat di sana sebenarnya berbicara tentang petualangan besar dan pencarian makna hidup yang megah. Namun, di sore yang lamat-lamat ini, makna seolah tidak perlu dicari terlalu jauh.
Gemeresik halus lembaran kertas saat dibalik. Pendar lampu kuning yang hangat, mengusir sudut-sudut gelap ruangan. Serta keheningan yang tidak terasa asing, melainkan memeluk raga dengan nyaman.
Ia mengambil sebuah pensil tua dari dalam tasnya. Di tepi halaman paling belakang yang masih kosong, ia menuliskan sebaris kalimat pendek dengan guratan tipis:
"Sore ini, hujan tidak hanya membawa sepasang rindu yang bising, ia juga hanya mengantarkan pulang sebuah ketenangan yang sempat hilang."
Sebuah potret momen kecil yang biasa, tanpa sekuens drama ataupun ketegangan. Ia menutup bukunya perlahan, menyesap sisa teh melati yang mulai mendingin, dan membiarkan dirinya larut dalam kedamaian sebuah senja yang bersahaja.