Hujan turun tipis ketika Alya berdiri di peron stasiun kecil yang hampir kosong. Ia memeluk buku yang baru dibelinya, sesekali melirik jam tangan. Kereta yang ditunggunya terlambat hampir tiga puluh menit.
Di bangku dekatnya, seorang pria sedang sibuk menutupi seekor kucing kecil dengan jaketnya agar tidak kehujanan. Alya memperhatikannya diam-diam. Ada sesuatu yang hangat dari cara pria itu memperlakukan makhluk kecil tersebut.
"Kucing itu milikmu?" tanya Alya akhirnya.
Pria itu menoleh dan tersenyum. "Bukan. Dia cuma teman seperjuangan menunggu kereta."
Alya tertawa kecil. "Kasihan juga kalau dia harus beli tiket."
"Kalau dia bisa beli tiket, mungkin saya yang minta dipinjamin uang."
Percakapan sederhana itu membuat waktu terasa berjalan lebih cepat. Nama pria itu Arga. Mereka berbincang tentang buku, kopi, hujan, dan mimpi-mimpi yang belum tercapai. Tanpa sadar, kereta yang ditunggu akhirnya datang.
Mereka duduk di gerbong yang sama. Anehnya, meski baru saling mengenal, obrolan mereka mengalir seperti dua sahabat lama yang dipertemukan kembali.
Sejak hari itu, mereka sering bertemu. Kadang di toko buku, kadang di kedai kopi dekat stasiun. Arga selalu punya cerita lucu, sementara Alya selalu punya cara membuat Arga merasa didengarkan.
Hari demi hari berlalu hingga tanpa disadari, perasaan tumbuh di antara mereka.
Namun suatu sore, Arga datang dengan wajah yang berbeda.
"Aku dapat pekerjaan di kota lain," katanya pelan.
Senyum Alya membeku.
"Itu kabar baik, kan?" tanyanya, berusaha terdengar tenang.
"Iya. Tapi jaraknya jauh."
Untuk pertama kalinya, keduanya terdiam cukup lama.
Malam itu, Alya berjalan pulang dengan hati yang terasa kosong. Ia sadar satu hal yang selama ini berusaha diabaikannya: ia mencintai Arga.
Seminggu kemudian adalah hari keberangkatan Arga.
Di peron yang sama tempat mereka pertama kali bertemu, Alya berdiri dengan napas tak menentu. Kereta sudah siap berangkat.
"Aku pikir kamu nggak akan datang," kata Arga.
"Aku juga hampir nggak datang."
Mereka saling memandang. Hujan tipis kembali turun, seolah mengulang kenangan pertama mereka.
"Alya," ujar Arga, suaranya sedikit bergetar. "Aku nggak tahu masa depan akan seperti apa. Tapi yang aku tahu, setiap rencana yang kubuat selalu ada kamu di dalamnya."
Jantung Alya berdegup kencang.
"Aku mencintaimu."
Beberapa detik terasa seperti selamanya.
Lalu Alya tersenyum, matanya berkaca-kaca.
"Aku juga mencintaimu, Arga."
Kereta membunyikan peluit keberangkatan.
Arga menggenggam tangan Alya erat.
"Tunggu aku?"
Alya mengangguk.
"Bukan karena aku harus menunggu," katanya lembut. "Tapi karena aku ingin berjalan ke masa depan yang sama denganmu."
Di tengah hujan senja yang semakin rapat, mereka berpelukan. Untuk pertama kalinya, perpisahan tidak terasa seperti akhir cerita.
Karena cinta yang sejati bukan tentang selalu bersama setiap saat, melainkan tentang dua hati yang tetap memilih satu sama lain, bahkan ketika jarak mencoba memisahkan mereka.
Dan di ujung peron itu, sebuah kisah cinta baru saja dimulai. ❤️