Mona datang membawa senyum termanis sedunia. Wajahnya dipenuhi sikap sopan yang terasa dipaksakan. “Pinjam duit, Mbak Ersha,” ucapnya dengan nada selembut sutra.
Ersha sudah hafal betul isi pikiran orang di hadapannya. “Maaf, sedang banyak kebutuhan,” jawab Ersha singkat dan tegas, seketika meruntuhkan sandiwaranya.
Seketika itu juga, topeng kesopanan Mona retak. Kesan anggun yang dibuat-buat pun lenyap tanpa sisa.
Sebelum melangkah keluar rumah, Mona berbisik tajam kepada Ersyi, saudari Ersha. “Pelit sekali si Ersha.” Panggilan “Mbak” yang tadi terdengar manis, seketika hilang begitu saja.
Tak butuh waktu lama, Mona melancarkan serangan berikutnya. Jari-jarinya sibuk mengetik di media sosial, mengunggah cerita rekaan tentang “orang pelit yang tak punya rasa empati.”
Melihat unggahan itu, Ersha hanya menggeleng pelan. “Terserah, tidak penting kupikirkan,” gumamnya santai.
Panggilan “Mbak” yang sempat terdengar kini terasa menggelikan. Mona selalu merasa dirinya paling dewasa, paling tahu segalanya, dan paling berhak menghakimi orang lain di belakang punggung.
“Mungkin mulai besok dia pantas dipanggil Nenek Mona,” pikir Ersha sambil tersenyum sinis. Sebuah sebutan yang sangat cocok untuk orang yang gemar mengomel, dan tiba-tiba lupa akan segala kebaikan yang pernah diterimanya begitu keinginannya ditolak.
...
Mona duduk sendirian di kamarnya yang sepi. Ponselnya pun hening, tak ada pesan masuk dari teman-teman yang biasa ia manfaatkan. Rasa sepi itu terasa mencekik, membuatnya rindu keramaian rumah Ersha. Namun, gengsinya yang setinggi langit menolak untuk runtuh.
Keesokan harinya, Mona nekat datang lagi dengan dagu terangkat. Ia berniat berpura-pura menyindir, sekadar menutupi kesepiannya sekaligus membalas penolakan kemarin.
“Wah, Ersha, sibuk sekali ya? Masih saja memikirkan kebutuhan sendiri sampai terlihat pelit,” sindir Mona begitu pintu terbuka.
Ersha tidak meledak. Ia justru tersenyum sangat ramah, sampai membuat Mona menjadi salah tingkah.
“Eh, Nenek Mona datang lagi,” sapa Ersha dengan suara sengaja dikeraskan. “Silakan masuk, Nek. Jalan pelan-pelan saja, takut encoknya kambuh karena terlalu sering membuat cerita di media sosial.”
Wajah Mona seketika memerah. “Maksudmu apa memanggilku nenek?! Kita ini sepupu, usia kita tidak berbeda jauh!”
“Ya, kira saja sudah seperti nenek-nenek,” jawab Ersha santai sambil melipat tangan di dada. “Sifatnya memang mirip. Di depan pura-pura lupa diri memanggil ‘Mbak’, tapi di belakang hobi menggunjing orang sama Ersyi, persis nenek-nenek yang kurang hiburan.”
Mona terdiam dan tak bisa menjawab. Konfrontasi langsung ini tidak ada dalam rencananya. Di rumahnya yang sepi, ia biasa mengatur pandangan orang lain lewat layar ponsel. Namun di hadapan Ersha, semua topengnya dibuka begitu saja tanpa ampun.
“Aku… aku cuma merasa kesepian, tahu! Kalian semua tidak ada yang peduli padaku!” teriak Mona, lalu menggunakan cara terakhirnya: bersikap seolah dirinya yang paling tersakiti.
Ersha melangkah mendekat, menatap mata sepupunya itu dengan tajam. “Mona, orang yang kesepian akan mencari teman dengan ketulusan. Bukan datang hanya saat butuh uang, berpura-pura sopan, lalu menusuk dari belakang begitu keinginannya tidak dituruti. Manusia palsu sepertimu tidak akan pernah punya teman sejati.”
Mona tertegun, merasa tertusuk oleh kenyataan pahit yang paling ia takuti.
Belum sempat ia bicara lagi, pintu rumah terbuka lebar. Ersyi masuk dengan senyum yang terlihat sangat tulus. Di tangannya, sebuah ponsel sudah menyala, menampilkan tangkapan layar percakapan.
“Lho, Mona, kok wajahmu merah sekali?” tanya Ersyi dengan nada lembut yang dibuat-buat. “Ini lho, Sha, aku mau tunjukkan sesuatu. Tega sekali sikap Mona ini.”
Ersyi menyodorkan ponselnya ke hadapan Ersha. Di layar itu terlihat pesan dari Mona yang berbunyi: “Ersha itu sangat pelit, lebih baik jangan dianggap saudari lagi.”
Mona terbelalak kaget. “Ersyi! Kenapa kamu tega melakukan ini? Bukankah kemarin kamu sendiri yang membalas pesanku dan bilang kalau Ersha memang sudah terkenal pelit sejak dulu?”
Ersha tidak terkejut sedikit pun. Dalam hatinya, ia sudah lama mengetahui sifat saudarinya itu.
Ersha mengambil ponsel itu, lalu menggulir layarnya ke atas. Benar saja, di situ terlihat balasan dari Ersyi: “Iya, Mon. Memang Ersha itu sangat perhitungan pada keluarga, sebaiknya kamu menjauhinya saja.”
Suasana ruangan seketika hening dan terasa menyesakkan. Topeng kepalsuan mereka berdua kini hancur bersamaan.
Ersyi yang panik karena kedoknya terbongkar segera berusaha membela diri. “Sha, aku cuma kasihan melihat dia kesepian, makanya aku mengiyakan saja ucapannya agar dia merasa tenang!”
Ersha meletakkan ponsel itu ke atas meja dengan bunyi dentang yang keras. Ia menatap bergantian ke arah Mona dan Ersyi, lalu tertawa lepas tanpa beban.
“Sungguh mengagumkan,” ujar Ersha sambil bertepuk tangan pelan. “Nenek Mona yang datang membawa kesopanan palsu demi uang, lalu bertemu dengan Ersyi si bermuka dua yang selalu ingin terlihat baik di hadapan semua orang. Kalian berdua memang pasangan manusia palsu yang sangat serasi.”
Mona merasa dikhianati oleh satu-satunya orang yang ia anggap sependapat. Ia pun menatap Ersyi dengan penuh kebencian. Sebaliknya, Ersyi sibuk memasang wajah memelas agar tidak diusir dari rumah. Kesepian Mona kini berubah menjadi amarah, sedangkan kepalsuan Ersyi justru menjadi bumerang yang melukai dirinya sendiri.