Apakah aku wanita yang tidak beruntung?
Pertanyaan itu terus berputar, berkejaran dengan uap kopi di hadapanku yang perlahan menipis, lalu hilang. Di dalam cangkir porselen ini, cairan hitam itu kini sepenuhnya dingin. Aku tidak menyentuhnya sama sekali. Aku hanya menatap permukaannya yang pekat, memantulkan bayangan wajahku yang kuyu.
"Hidupku persis seperti kopi ini," batinku pahit. "Mulai mendingin, dan menyisakan rasa sepet yang tertinggal di kerongkongan."
Di lantai, tepat di samping kakiku, sebuah koper besar dan tas jinjing kecil bersandar pasrah. Isinya tidak banyak—hanya beberapa potong pakaian dan dokumen-dokumen penting yang berhasil kuselamatkan dari rumah yang kini terasa asing itu.
Tring...
Suara lonceng di atas pintu kafe berdenting. Aku tidak menoleh. Bagiku, itu hanya ritme biasa dari orang-orang yang datang dan pergi membawa urusan mereka sendiri. Sampai sebuah bayangan runtuh di atas mejaku.
"Bella..."
Suara itu lirih, serak, dan terengah-engah.
Aku mengangkat pandangan. Di sana, berdiri Fikri. Suamiku. Lelaki itu menatapku dengan mata yang begitu sayu—atau mungkin berpura-pura sayu untuk memancing empatiku, aku tidak tahu lagi. Tatapannya turun, tertuju pada koper di samping kakiku. Ada riak kepanikan yang sengaja ia sembunyikan saat ia menarik kursi di hadapanku dan duduk.
Hening merayap di antara kami. Detik demi detik berlalu tanpa kata. Fikri menatapku, sementara aku memilih kembali menatap kopiku yang membeku.
Pikiranku melayang pada kejadian beberapa minggu lalu. Tentang layar ponsel Fikri yang terus-menerus menyala ditengah malam, menampilkan nama "Safitri". Awalnya aku mencoba waras. Aku meyakinkan diriku sendiri bahwa itu hanya urusan pekerjaan. Fikri adalah mentornya di kantor.
Namun, puncaknya adalah saat liburan musim panas kemarin. Gadis magang itu tiba-tiba mendatangiku di rumah lama kami. Saat tahu kami sudah pindah, ia justru menangis histeris di depanku. Mengemis maaf berkali-kali seolah aku adalah hakim garis hidupnya, dan ia selalu menyalahkan dirinya.
Ketika kutanya kenapa, dengan bibir gemetar dia menjawab, "Saya lancang, Mbak. Sebelum liburan, saya menyatakan perasaan saya ke Pak Fikri. Saya merasa bersalah pada Mbak Bella."
Lucu, bukan? Orang lain tahu batasan yang dihancurkan di dalam rumah tanggaku, sementara suamiku sendiri memilih bungkam.
Sikap tenangku selama ini ternyata bukan karena aku sabar, melainkan karena rasaku yang perlahan menguap, mati rasa. Istri mana yang bisa tetap tersenyum ramah ketika tahu suaminya menyembunyikan pernyataan cinta wanita lain, tanpa ada niat untuk menjelaskan apa pun?
Aku menarik napas dalam, memutus keheningan yang mencekik. "Apa aku boleh bertanya satu hal?" suaraku terdengar sangat datar, bahkan membuatku sendiri asing.
Fikri menegakkan duduknya, tampak tegang. "Apa, Bel?"
"Kemarin... apa alasan sekitarmu mendesak kita pindah dari Distrik 2?"
Fikri berdehem, mencoba menguasai suaranya. "Walaupun rumah itu penuh kenangan dan nyaman, tapi... tempatnya terlalu jauh dari kantorku yang sekarang, Bel. Kamu tahu sendiri macetnya lambat laun bikin stres. Jadi, aku pikir lebih baik dijual."
Aku tersenyum tipis, jenis senyuman yang tidak mencapai mata. "Apa juga karena gadis magang di kantormu itu?"
Kalimatku sukses membuat Fikri mematung. Wajahnya mendadak pias, kehilangan warna.
"Biar kamu nggak perlu ketemu dia lagi di sekitar sana. Itu alasan lainnya, kan?" kejarku, suaraku tetap tenang, namun setajam sembilu.
Fikri menelan ludah dengan susah payah. "Itu... biar aku bisa membatasi diri, Bella. Aku nggak mau dia mengganggu kita."
"Jadi benar," potongku cepat. "Saat liburan musim panas kemarin, tepat di hari anniversary pertama pernikahan kita, gadis itu menemuiku. Dia bilang dia menyatakan cinta padamu sebelum liburan. Sekarang aku cuma mau tanya..." Aku menatap langsung ke manik matanya, mencari sisa-sisa kejujuran yang mungkin tersisa. "...apa saat dia menyatakan cinta, hatimu sempat goyah?"
Fikri bungkam. Dia tidak membantah. Dia tidak berpaling. Dia hanya menatapku dengan tatapan bersalah yang justru membuat dadaku kian bergemuruh berang.
Beberapa detik yang sunyi itu sudah cukup menjadi jawaban paling benderang.
Dia goyah.
Suamiku sempat memikirkan wanita lain di usia pernikahan kami yang baru seumur jagung.
Aku mengangguk pelan, menelan seluruh kekecewaan yang mendesak di dada. "Baiklah."
Tanpa menunggu kata-kata pembelaan yang pasti akan terdengar menjijikkan, aku bangkit dari kursi. Kuaitkan tas jinjing ke bahu dan kugenggam erat pegangan koperku. Aku berbalik, melangkah mantap menuju pintu keluar.
"Bella, tunggu!"
Sebuah tangan mencengkeram pergelangan tanganku. Lembut, persis seperti genggaman yang dulu selalu membuatku merasa aman. Tapi sekarang, sentuhan itu terasa seperti besi panas yang membakar kulitku.
"Bella, tolong... kasih aku waktu buat menjelaskan. Bukan seperti itu kejadiannya," mohonnya, matanya mulai berkaca-kaca.
Aku tidak berteriak. Aku tidak membuat keributan yang memancing perhatian pengunjung kafe. Aku hanya menatap tangannya di pergelanganku, lalu menatap wajahnya dengan tatapan paling dingin yang kupunya.
"Tidak perlu, Fikri. Hari ini adalah hari terakhir kita. Dan hari Senin nanti, akan ada seseorang yang mengantarkan sebuah dokumen ke kantormu." Aku menarik tanganku dengan sentakan pelan namun tegas dari genggamannya. "Aku sangat berharap kamu langsung menandatanganinya tanpa banyak drama."
Aku mendorong pintu kaca kafe, membiarkan denting lonceng mengiringi langkah kakiku yang menjauh. Aku tidak menoleh lagi untuk melihat lelaki yang masih berdiri mematung di balik pintu itu. Bagiku, dia sudah tertinggal di belakang, bersama secangkir kopi dingin yang tak sudi kuminum lagi.