bab 1: Hujan di Ujung Senja
Langit sore itu berwarna kelabu. Hujan turun perlahan membasahi jalanan desa kecil bernama Sukamaju. Di sebuah rumah sederhana, seorang gadis berusia tujuh belas tahun sedang menatap keluar jendela.
Namanya Alya.
Sejak kecil, hidup tidak pernah mudah baginya. Ayahnya meninggal ketika ia berusia sepuluh tahun. Ibunya bekerja sebagai penjahit untuk menghidupi mereka berdua. Meski hidup serba kekurangan, Alya tidak pernah mengeluh.
"Alya, bantu Ibu mengangkat kain ini," panggil sang ibu.
"Iya, Bu."
Alya segera berlari membantu. Senyum selalu menghiasi wajahnya, meskipun hatinya sering dipenuhi berbagai kekhawatiran.
Malam itu, ketika mereka sedang makan sederhana, ibunya tiba-tiba terbatuk keras.
"Bu, Ibu tidak apa-apa?"
Ibunya tersenyum lemah.
"Ibu hanya lelah."
Namun Alya tahu ada sesuatu yang tidak beres.
Beberapa hari kemudian, hasil pemeriksaan dokter membuat dunia Alya terasa runtuh.
Ibunya mengidap penyakit serius yang membutuhkan biaya pengobatan sangat besar.
Alya menggenggam tangan ibunya erat-erat.
"Bu, jangan khawatir. Aku akan bekerja. Aku akan melakukan apa saja agar Ibu sembuh."
Air mata menetes di pipi ibunya.
"Kamu masih sekolah, Nak."
"Tapi aku juga anak Ibu. Aku tidak akan menyerah."
Sejak hari itu, Alya menjalani kehidupan yang jauh lebih berat. Pagi sekolah, sore bekerja di toko roti, malam membantu menjahit.
Banyak orang meremehkannya.
"Kamu tidak akan sanggup."
"Perempuan miskin sepertimu hanya bermimpi."
Namun setiap kali mendengar kata-kata itu, Alya justru semakin kuat.
Karena ia memiliki satu keyakinan:
Orang kuat bukanlah mereka yang tidak pernah jatuh.
Orang kuat adalah mereka yang selalu bangkit setelah jatuh.
Dan Alya berjanji, apa pun yang terjadi, ia akan terus berdiri.
Meski dunia mencoba menjatuhkannya berkali-kali.