Bagi sebagian orang, masa lalu adalah album foto yang indah. Bagi Vea, masa lalu memiliki satu nama: Vendy. Vendy adalah pria yang dulu pernah hadir dan menyelamatkan hari-hari sepi Vea. Ketika Vendy tiba-tiba muncul kembali di hidupnya, jantung Vea berdesir. Vendy datang dengan serangkaian cerita sedih, curhat tentang betapa berat hidupnya, dan betapa sepinya ia menyendiri selama ini. Rasa iba dan kasihan Vea langsung lumpuh. Naluri protektifnya bangkit, ingin menjadi penyelamat bagi pria yang dulu pernah menyelamatkannya.
Dengan penuh percaya diri, Vea merasa pencariannya telah usai. "Vendy adalah yang terakhir," bisik hatinya meyakinkan. Vendy memainkan perannya dengan sangat rapi. Ia mengaku single, fokus pada Vea, bahkan dengan berani menjanjikan sebuah pernikahan mewah di masa depan. Janji-janji manis itu dirajut begitu indah, membuat Vea melayang dalam ilusi bahwa ia akan segera menjadi ratu di kehidupan Vendy. Vea tidak pernah menaruh curiga, sebab bagi dia, Vendy adalah pria dari masa lalu yang tidak mungkin menyakitinya.
Namun, panggung sandiwara itu tidak bertahan selamanya. Fakta pahit menghantam Vea bak petir di siang bolong. Melalui sebuah celah kebenaran yang tak sengaja terungkap, kedok Vendy sebagai penipu ulung akhirnya terbongkar total. Di balik layar dunia nyata yang selama ini disembunyikannya, Vendy ternyata sama sekali tidak single. Dia sudah berstatus sebagai suami orang lain, bahkan telah memiliki seorang anak perempuan. Semua curhat melas dan janji pernikahan mewah itu hanyalah jebakan palsu untuk memanfaatkan ketulusan Vea.
Kenyataan malang itu belum usai. Begitu tahu kedoknya pecah dan tak bisa lagi mengelak, Vendy memilih jalan paling pengecut: ia langsung memblokir semua akses komunikasi Vea. Pria itu menghilang ke dalam kehidupan aslinya, meninggalkan Vea dalam kehancuran ilusi yang ia bangun sendiri.
"Hebat ya skenario kau selama ini? Sayang sekali, akting kau sebagai pria single yang tulus akhirnya gagal total. Begitu ketahuan aslinya sudah beristri dan beranak, langsung main blokir seperti anak kecil yang ketakutan. Kau tidak pantas berada di masa depan aku. Simpan saja janji pernikahan mewah kau itu untuk menutupi rasa malu kau. Mulai detik ini, kau resmi jadi bagian paling sampah dalam sejarah hidup aku."