Sura membawa luka masa lalu yang belum sembuh sepenuhnya. Rasa trauma membuat dinding pertahanannya rapuh, menyisakan ruang kosong yang mendambakan rasa aman. Di titik lemah inilah Leo datang. Dengan wajahnya yang tampan dan senyum yang tampak begitu tulus, Leo dengan mudah menarik perhatian Sura. Bagi Sura yang sedang terluka, kehadiran Leo terasa seperti angin segar. Ia mengira ketampanan Leo sebanding dengan kebaikan hatinya.
Awalnya semua terasa indah, namun perlahan tanda-tanda bahaya (red flags) mulai bermunculan. Leo pandai menuntut perhatian, menuntut validasi, dan selalu ingin dilayani. Sura, karena traumanya ketakutan akan kehilangan, selalu mengalah dan memenuhi semua keinginan Leo.
Lama-kelamaan, topeng itu makin terbuka. Leo tidak pernah modal apa-apa dalam hubungan ini. Dia adalah definisi nyata dari seorang pria mokondo—hanya mengandalkan tampang untuk menumpang hidup, memeras energi, materi, dan emosi Sura tanpa pernah berkontribusi balik. Setiap kali Sura mulai curiga, Leo akan menggunakan manipulasi emosi untuk membuat Sura merasa bersalah dan kembali tunduk.
Trauma Sura sempat membuatnya buta, tetapi akal sehatnya tidak mati. Sura akhirnya menyadari bahwa Leo bukanlah penyembuh lukanya, melainkan racun baru yang memanfaatkan kerapuhannya. Ketampanan Leo tidak lagi terlihat menarik ketika sifat berengseknya terpampang nyata. Sura menyadari bahwa bertahan dengan pria red flag ini hanya akan menghancurkan dirinya lebih dalam.
Sura tidak lagi menangis. Rasa traumanya kini telah berubah menjadi kekuatan dan kecerdasan. Ia mulai mengamati setiap gerak-gerik Leo dengan kepala dingin. Sura mencatat setiap kebohongan, setiap momen di mana Leo memanfaatkan uangnya, dan bagaimana pria itu selalu menghilang saat Sura membutuhkan bantuan fisik maupun emosional.
Suatu malam di sebuah kafe yang cukup ramai, Leo kembali melancarkan aksinya. Dengan wajah tampan tanpa dosa, ia memesan makanan mahal dan, seperti biasa, pura-pura lupa membawa dompet saat tagihan datang. Ia tersenyum manis, mengira Sura akan langsung mengeluarkan kartu kreditnya seperti biasa.
Namun, malam itu berbeda. Sura membalas senyuman Leo, namun dengan tatapan yang sangat dingin.
"Leo, ketampananmu itu ternyata cuma topeng untuk menutupi mentalitas penumpanganmu," kata Sura dengan suara yang cukup jelas hingga terdengar ke meja sebelah.
"Kamu bukan lupa, Leo. Kamu memang tidak pernah punya modal, baik materi maupun harga diri," potong Sura dengan tenang namun tajam. "Selama ini aku bertahan karena traumaku, tapi hari ini aku sadar: kamu tidak lebih dari sebuah red flag berjalan. Hubungan bullshit ini selesai."
Sura berdiri, meletakkan uang pas untuk membayar makanannya sendiri, lalu berjalan pergi meninggalkan Leo yang mati kutu di depan kasir dan menjadi pusat perhatian orang-orang di kafe. Leo tidak bisa berkutik, ketampanannya tidak bisa membayar tagihan malam itu, dan harga dirinya hancur total.
Setelah mendepak Leo dari hidupnya, Sura fokus sepenuhnya untuk menyembuhkan trauma masa lalunya. Ia belajar bahwa menjadi rapuh bukan berarti boleh dimanfaatkan. Sura merawat dirinya sendiri, membangun kembali karier dan keuangannya yang sempat terkuras, serta memperketat batasan dirinya (boundaries).
Kini, Sura telah bertransformasi. Ia bukan lagi perempuan trauma yang mudah tertipu oleh modal tampang. Sura telah menjadi versi dirinya yang paling kuat, mandiri, dan tidak akan pernah lagi membiarkan pria berengsek mana pun menginjak-injak harga dirinya.